2 Peserta Tour Korsel Kabur: Kini Overstay, Travel Merugi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi peta Korea Selatan. Foto: Neuiiza/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peta Korea Selatan. Foto: Neuiiza/Shutterstock

Dua peserta tour ke Korea Selatan (Korsel) asal Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, MY (29) dan MOR (21), meninggalkan rombongan pada September 2026. Keduanya kabur, tak ikut kembali pulang ke Indonesia.

Informasi soal hal tersebut sempat ramai di media sosial. kumparan kemudian mengkonfirmasinya.

Pemilik travel HQ Semesta, Rhaty (30), mengatakan MY dan MOR merupakan sepupu yang berangkat ke Korea Selatan menggunakan visa grup wisata pada 17 September 2026.

Keduanya masih mengikuti rangkaian perjalanan bersama rombongan sehari setelah kedatangan. Namun, pada 19 September 2026, keduanya meminta izin untuk pergi dan kemudian keluar dari grup WhatsApp rombongan.

"Keduanya sebenarnya bukan orang asing bagi saya. Kami berasal dari kampung yang sama di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, dan sudah saling mengenal sebelumnya. Jadi saya tidak menaruh kecurigaan," kata Rhaty, Sabtu (10/10).

Rhaty mengatakan pihak travel berusaha menghubungi keduanya setelah mengetahui mereka keluar dari grup WhatsApp. Namun, nomor yang sebelumnya digunakan tidak lagi dapat dihubungi.

"Karena komunikasi terputus, kami langsung menghubungi keluarga mereka di Indonesia untuk meminta bantuan agar keduanya dapat kembali bergabung dengan rombongan," kata Rhaty.

Kepada pihak keluarga di Indonesia, Rhaty telah memberi kesempatan hingga 20 September agar keduanya kembali ke rombongan. Namun, mereka tak kembali.

Pada 23 September, rombongan kembali ke Indonesia tanpa keduanya.

"Masa visa sudah berakhir di tanggal 2 Oktober 2026 dan saat ini mereka sudah overstay," ucap Rhaty.

Bikin Susah Travel

Rhaty mengatakan kejadian tersebut berdampak pada operasional perusahaan. Pihak travel, menurut dia, menghadapi denda dari penyedia visa dan kendala dalam memproses pengajuan visa grup untuk keberangkatan berikutnya.

"Sedangkan kami memiliki jadwal keberangkatan tour setiap bulan," kata dia.

Padahal, kata dia, pihaknya telah mengeluarkan biaya untuk berbagai kebutuhan perjalanan, termasuk tiket pesawat, akomodasi, transportasi, dan layanan dari vendor lainnya.

Di sisi lain, perusahaan juga harus memenuhi kewajiban pengembalian dana kepada peserta lain yang terdampak apabila perjalanan mengalami kendala.

Sementara itu, pembayaran yang telah diberikan kepada vendor tidak selalu dapat dikembalikan secara penuh, terutama ketika jadwal keberangkatan sudah dekat.

"Setelah kejadian ini, sejumlah vendor kami juga memperketat persyaratan bagi peserta tour berikutnya. Perubahan persyaratan tersebut diberlakukan secara mendadak sebagai respons terhadap kejadian ini," kata dia.

Akibatnya, peserta tour yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut justru harus menghadapi proses dan persyaratan tambahan yang sebelumnya tidak diberlakukan.

"Bahkan, ada beberapa peserta yang akhirnya memutuskan untuk membatalkan keikutsertaan dalam perjalanan karena tambahan persyaratan dari dadakan ini," ucapnya.

Koordinasi dengan Kedutaan dan Imigrasi Korea Selatan

Rhaty mengatakan pihaknya telah melapor dan konsultasi dengan pihak kedutaan serta berkoordinasi dengan penyedia visa yang menangani perjalanan. Pihak travel juga tengah melengkapi data dan dokumen pendukung untuk proses pelaporan kepada Imigrasi Korea Selatan.

Selain menempuh koordinasi dengan pihak terkait, Rhaty mengaku masih berkomunikasi dengan keluarga kedua peserta untuk mendorong keduanya segera kembali ke Indonesia.

"Saat ini, kami sedang melengkapi data dan dokumen pendukung yang diperlukan untuk proses pelaporan kepada pihak Imigrasi Korea Selatan," ucapnya.

"Kami juga terus melakukan pendekatan kepada keluarga kedua peserta untuk mengupayakan agar keduanya dapat segera kembali ke Indonesia dan menyelesaikan persoalan ini dengan baik," pungkasnya.