50 Guru SMK Akan Magang di Jerman, Bidik Lompatan Pendidikan

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melepas 50 guru SMK dari 16 provinsi untuk mengikuti Program Magang Luar Negeri Guru SMK 2026 di Jerman.
Para peserta berharap pengalaman selama tiga bulan di Jerman dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di sekolah dan daerah masing-masing.
Salah satu peserta, Lingga, guru SMKN 1 Cilegon, Banten, mengaku antusias mengikuti program tersebut. Ia menilai kesempatan magang di Jerman dapat membantunya membawa pendidikan vokasi Indonesia semakin mampu bersaing di tingkat global.
“Saya sangat bersemangat untuk mengikuti program ini karena saya rasa ini bisa meningkatkan untuk ke depan pendidikan vokasi di negeri kita agar mampu bersaing di tingkat global,” kata Lingga di Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Selasa (1/9).
Lingga yang telah mengajar di Cilegon sejak 2014 itu mengatakan persiapan mengikuti program dilakukan sejak proses seleksi, termasuk mempersiapkan kemampuan bahasa.
“Saya di Cilegon dari tahun 2014, kurang lebih sudah 12 tahunan ya,” ujarnya.
“Persiapan-persiapan yang saya lakukan terutama terkait bahasa dulu ya, karena kita kan bahasa ibunya bukan bahasa Inggris ya, jadi kita perlu persiapan bahasa,” sambungnya.
Saat berada di Jerman, Lingga ingin mempelajari perkembangan teknologi vokasi, khususnya bidang yang selama ini diajarkannya. Menurut dia, Jerman merupakan salah satu rujukan penting dalam pendidikan vokasi.
“Tentunya banyak yang kita bisa pelajari di sana, karena Jerman sendiri adalah pusat atau kiblatnya dari pendidikan vokasi dunia,” katanya.
Sepulang dari Jerman, Lingga berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada guru lain sekaligus menerapkannya di sekolah.
“Pertama kita akan mendiseminasikan hal-hal best practice ya, praktik baik yang kita pelajari di sana, pada rekan-rekan sejawat di lingkungan internal maupun eksternal,” ujarnya.
Ia juga ingin mendorong revitalisasi fasilitas praktik di sekolah agar dapat mengikuti perkembangan teknologi yang dipelajari selama di Jerman.
“Kemudian dilanjutkan dengan revitalisasi workshop atau bengkel, sehingga bisa, ya minimal bisa mengikuti lah perkembangan teknologi workshop yang ada di sana,” kata Lingga.
“Selanjutnya program teaching factory, yang mana teaching factory ini banyak sekali tantangannya, terutama di SMK jurusan teknik otomasi industri, yang kurang lebih agak berat untuk mengikuti ketertinggalan teknologi dari Jerman,” sambungnya.
Sementara itu, Astri, guru SMKN Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berharap program tersebut memberikan dampak langsung bagi sekolah dan daerah asal peserta.
“Tentu saja harapannya mendapat perubahan-perubahan praktik-praktik baik yang kami harapkan atas kembalinya kami nanti setelah magang dari Jerman,” ujar Astri.
“Kami harapkan bahwa perubahan yang kami bawa itu bisa berdampak langsung kepada siswa kami, sekolah kami maupun daerah kami,” lanjutnya.
Astri mengatakan kebutuhan untuk memperluas hubungan antara SMK dan dunia industri menjadi salah satu hal yang ingin ia dorong setelah kembali ke Kaltim.
“Terutama bagi saya di Kabupaten Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur masih banyak sekolah-sekolah yang belum bekerja sama langsung dengan perusahaan,” katanya.
“Jadi kami sangat ingin sekali ini program yang sangat baik sekali bagi kami untuk ke depannya kami bisa bekerja sama dari dalam negeri maupun sampai luar negeri,” sambung Astri.
Magang 3 Bulan di Jerman
Program ini diikuti 50 guru selama 3 bulan yang berasal dari 16 provinsi, dengan peserta terdiri atas guru ASN maupun guru swasta dan tetap yayasan.
Program magang dilaksanakan bersama Technical University of Dresden dan FESTO dengan fokus pada tiga bidang keahlian, yakni teknologi manufaktur dan rekayasa, teknologi konstruksi dan bangunan, serta energi dan pertambangan.
Kemendikdasmen menyasar agar program ini menjadi modal peningkatan kompetensi SDM yang bermuara pada meningkatnya angka perekrutan lulusan SMK.
“Kita ingin hubungan antara SMK dengan mitra internasional tidak berhenti di program magang, tapi juga nanti yang paling penting bagaimana perusahaan-perusahaan Jerman yang ada di tanah air bisa langsung rekrut lulusan SMK,” ujar Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin saat acara pelepasan.
