Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Dimanfaatkan, Sebagai Apa?

Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Namun, material tersebut tidak bisa langsung digunakan karena perlu melalui pengujian terlebih dahulu.
Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, menjelaskan abu vulkanik bukanlah abu seperti sisa pembakaran kayu.
“Abu vulkanik adalah fragmen material gunung api berukuran kurang dari 2 milimeter, yang terdiri atas pecahan batuan, mineral dan kaca vulkanik,” kata Heruningtyas saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).
Menurut ahli geologi ini, material vulkanik tertentu memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Sejumlah penelitian menunjukkan abu vulkanik dapat digunakan sebagai bahan tambahan semen atau beton yang bersifat pozzolanik, bahan bata dan keramik, hingga material geopolymer.
Namun, potensi tersebut tidak berarti abu hasil erupsi Gunung Anak Krakatau bisa langsung dimanfaatkan.
“Namun saya perlu menekankan bahwa abu hasil erupsi Anak Krakatau tidak boleh langsung dianggap cocok untuk penggunaan tersebut,” ujarnya.
Heruningtyas mengatakan diperlukan pengujian terhadap komposisi kimia, mineralogi, ukuran butir, hingga sifat fisik abu sebelum menentukan pemanfaatannya.
Hal serupa berlaku jika abu vulkanik hendak dimanfaatkan untuk pertanian. Material vulkanik dalam jangka panjang memang dapat menyumbangkan unsur mineral dalam proses pembentukan tanah. Namun, abu yang baru saja jatuh tidak otomatis dapat dianggap sebagai pupuk.
“Pada permukaan partikel dapat menempel senyawa yang berasal dari gas vulkanik, dan komposisinya berbeda untuk setiap erupsi. Jadi pemanfaatannya harus berdasarkan analisis laboratorium,” jelasnya.
Abu Vulkanik Bisa Menyuburkan Tanah
Dihubungi terpisah, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono juga menyebut abu vulkanik memiliki dua sisi, yakni manfaat dalam jangka panjang dan bahaya dalam jangka pendek.
Dari sisi manfaat, abu vulkanik mengandung berbagai mineral seperti kalsium, magnesium, kalium, dan besi. Dalam jangka panjang, kandungan mineral tersebut dapat berkontribusi terhadap kesuburan tanah pertanian serta menambah nutrisi bagi mikroorganisme.
Di bidang industri, material abu vulkanik juga berpotensi diolah menjadi campuran semen maupun bata ringan.
“Manfaatnya adalah dalam jangka panjang, abu vulkanik kaya akan mineral (Kalsium, Magnesium, Kalium, Besi) yang menyuburkan tanah pertanian, menambah nutrisi mikroorganisme, dan dalam bidang industri dapat diolah menjadi campuran semen atau bata ringan,” ujar mantan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG ini.
Meski begitu, Daryono mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan risiko abu vulkanik yang baru saja terpapar ke lingkungan.
“Dalam jangka pendek, abu vulkanik sangat berbahaya,” kata Daryono.
Ia menjelaskan butiran abu vulkanik dapat berupa pecahan kaca silika yang berukuran sangat kecil dan tajam. Jika terhirup, material tersebut dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan dan paru-paru.
Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan kulit, merusak mesin kendaraan maupun pesawat, serta berdampak terhadap tanaman.
Jika menumpuk di atap rumah, abu juga dapat menjadi beban tambahan, terutama ketika terkena air dan menjadi lebih berat.
Heruningtyas menambahkan, partikel abu yang sangat halus dapat terbawa angin cukup jauh dari sumber erupsi. Fraksi halus tersebut juga dapat masuk ke saluran pernapasan hingga bagian paru yang lebih dalam.
Kondisi itu membuat masyarakat dengan asma atau penyakit pernapasan menjadi lebih rentan terhadap paparan abu vulkanik.
Selain risiko kesehatan, abu vulkanik dapat mengiritasi mata, mengurangi jarak pandang, bersifat abrasif terhadap mesin dan kendaraan, hingga mengganggu penerbangan.
“Karena itu dalam rekomendasi terbaru [erupsi] Anak Krakatau, masyarakat yang terdampak abu diminta mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” ujar Heruningtyas.
Dengan demikian, potensi pemanfaatan abu vulkanik tidak berarti material hasil erupsi dapat langsung dikumpulkan dan digunakan. Untuk abu Gunung Anak Krakatau, analisis laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan karakteristik dan keamanannya.
Sementara selama abu masih berada di udara dan erupsi masih berlangsung, perlindungan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
