Cerita WNI Korban Pembajakan MT Honour 25: Ditembak hingga Pura-pura Mati

Duta Besar RI untuk Kenya Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji mengungkap kondisi Fiki Mutakin (25), salah satu WNI korban pembajakan kapal MT Honour 25 yang sempat ditembak pembajak saat disandera di Somalia.
Witjaksono menerangkan, Fiki sempat diikat oleh pembajak untuk dieksekusi. Tali yang mengikat Fiki kemudian dilepas setelah salah satu pembajak memintanya menurunkan sekoci dan mengoperasikan crane untuk membantu mereka melarikan diri.
Saat Fiki menjalankan perintah tersebut, para pembajak justru sempat berselisih. Alhasil pembajak lain marah dan berusaha menembaknya.
“Ada bagian pembajak yang menyuruh dia (Fiki) seperti itu (menurukan sekoci), tapi ada bagian pembajak lain yang ‘kita enggak boleh kabur, jangan!’,” kata Witjaksono saat ditemui wartawan di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (6/10).
“Ditembak, enggak kena kepala, terus kemudian ditembak kedua, kena kaki,” ujarnya.
Setelah ditembak, kata Witjaksono, Fiki berpura-pura mati agar tidak kembali menjadi sasaran pembajak.
“Dia katanya pura-pura mati. Pura-pura mati, enggak bergerak, diam aja,” tuturnya.
Witjaksono menyebut situasi menegangkan itu membuat salah satu pembajak yang dekat dengan para ABK ikut membantu Fiki. Pembajak itu bahkan disebut sedih melihat Fiki terluka setelah ditembak.
“Dan dia juga dibantu oleh pembajak lain, kan pembajak ada yang simpatik juga kepada ABK, dan bahkan yang sedih tahu bahwa dia tertembak gitu, karena udah 6 bulan bersama,” ujarnya.
Pembajak itu kemudian menyelimuti dan menutupi tubuh Fiki agar terlihat seolah telah meninggal.
“Sama pembajak yang baik dia diselimuti, ditutup. Jadi memang seolah-olah dia sudah meninggal sehingga pembajak yang memang memburu dia enggak lagi memburu,” katanya.
Dievakuasi ke Rumah Sakit
Lebih lanjut, Witjaksono menerangkan setelah operasi pembebasan, Fiki bersama sejumlah ABK yang terluka diturunkan di Bandar Bayla, salah satu kota pesisir di Puntland.
“Yang sakit langsung dievakuasi ke rumah sakit di kota Garowe, itu ibu kotanya Puntland. Di situ Fiki dirawat,” ujar dia.
Kendati fasilitasnya sederhana, Fiki tetap mendapat perawatan secara serius selama menjalani perawatan di Garowe.
Selama perawatan, pemerintah Puntland juga terus memberikan informasi kepada pihak Indonesia mengenai perkembangan kondisi Fiki.
Sementara itu, tiga WNI lainnya yang dalam kondisi sehat melanjutkan perjalanan menuju Bosaso.
Dibebaskan 29 September
Keempat WNI tersebut berhasil dibebaskan pada 29 September 2026 melalui operasi pemerintah negara bagian Puntland, Somalia.
Witjaksono mengatakan sebelum operasi dilakukan, dirinya telah melakukan pendekatan kepada pemerintah Puntland untuk meminta perhatian terhadap kondisi para ABK MT Honour 25.
“Saya dua kali berkunjung ke ibu kota Puntland, Garowe, untuk mendesak mereka untuk memperhatikan kasus yang dihadapi oleh WNI kita,” bebernya.
Kata Witjaksono, pendekatannya dilakukan kepada pemerintah pusat Somalia di Mogadishu maupun pemerintah Puntland. Sebab, Somalia merupakan negara federal dan setiap negara bagian memiliki otonomi, termasuk kepolisian sendiri.
Ia menjelaskan, pihak Indonesia sempat menerima informasi yang berubah-ubah setelah operasi dilakukan. Awalnya, dia mendapat informasi bahwa seluruh ABK selamat.
Namun, informasi berikutnya menyebut terdapat korban jiwa, bahkan sempat beredar kabar bahwa Kapten Azhari Samadikun meninggal.
Kabar itu kemudian terbantahkan setelah Azhari berhasil menghubungi pihak Indonesia.
“Tapi karena fluid, berita berubah-ubah, kemudian kita dapat kontak dari Kapten Azhari sendiri. Berarti masih hidup, selamat Kapten Azhari,” lanjutnya.
Saat itu Azhari langsung mengabarkan bahwa seluruh ABK Indonesia selamat, meski salah satunya terluka akibat tembakan.
“Dan menurut informasi Kapten Azhari, semua awak Indonesia hidup, tapi ada satu yang terluka kena tembakan di kaki,” ujarnya.
Sebagai informasi, keempat WNI tersebut sebelumnya disandera selama 5 bulan 10 hari dan dibebaskan pada 29 September 2026. Mereka adalah Kapten Azhari Samadikun (34) asal Sulawesi Selatan, Wahudinanto (48) asal Jawa Tengah, Adi Faizal (27) asal Sulawesi Selatan, serta Fiki Mutakin (25) asal Jawa Barat.
Dalam pembajakan MT Honour 25, lima awak kapal tewas. Mereka terdiri dari tiga warga negara Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Sejumlah awak lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.
