DPR Minta Jurnalis Utamakan Keselamatan-Perhatikan Risiko Saat Liput Bencana

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Ketua DPR Saan Mustopa di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPR Saan Mustopa di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Wakil Ketua DPR Saan Mustopa mengingatkan kepada para jurnalis untuk mengutamakan faktor keselamatan saat melakukan peliputan di wilayah terdampak bencana. Menurutnya, jurnalis perlu mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul sebelum turun ke lokasi liputan.

Hal itu disampaikan Saan menyusul hilang kontaknya lima wartawan yang tengah meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

“Ya penting ya untuk mentaati berbagai risiko nanti ketika melakukan peliputan, khususnya di daerah-daerah yang memang terkena bencana. Apalagi daerah-daerah yang terkena bencananya itu menimbulkan risiko bagi tidak hanya masyarakat, tapi juga bagi para peliput,” jelas Saan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9).

Saan mengatakan, kebutuhan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi di lapangan tetap penting. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan persiapan dan perhatian terhadap keselamatan para peliput.

“Yang untuk memberikan informasi terkait perkembangan situasi keadaan di lapangan, itu yang lebih terupdate lagi, penting untuk memperhatikan faktor-faktor keselamatan,” ungkapnya.

Dia mengingatkan agar jurnalis tidak memaksakan diri melakukan peliputan di wilayah yang memiliki risiko tinggi tanpa persiapan keselamatan yang memadai.

“Jadi jangan sampai misalnya melakukan peliputan ke daerah yang sangat berisiko tanpa mempersiapkan terkait dengan soal faktor keselamatan. Jadi hal itu penting bagi semua pihak ya, termasuk para jurnalis,” tuturnya.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten Rizki Dwianto (kiri) memimpin apel operasi SAR hari kedua kapal penumpang hilang kontak di Dermaga Marina Lippo Carita, Pandeglang, Banten, Rabu (9/9/2026). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Saan menilai keselamatan perlu menjadi perhatian seluruh pihak, termasuk jurnalis yang bertugas mendapatkan informasi di wilayah bencana. Menurutnya, tujuan peliputan untuk menyampaikan informasi kepada publik jangan sampai justru membuat peliput berada dalam bahaya.

"Ya, itu penting lah. Jangan sampai dia nyari berita tapi dia menjadi objek berita, kan gitu. Ini penting juga menurut saya,” tuturnya.

Di sisi lain, DPR mendorong seluruh pihak terkait untuk terus melakukan pencarian terhadap lima jurnalis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Saan meminta pencarian dilakukan secara serius dan maksimal.

“Yang kedua, tentu DPR akan mendorong kepada seluruh pihak, terutama pihak-pihak terkait dalam hal ini Basarnas maupun yang lain, untuk secara sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk mencari keberadaan kelima jurnalis tersebut. Karena penting kita untuk tahu tentang kepastian keberadaan mereka itu, kan gitu,” katanya.

Saan mengatakan, kepastian mengenai keberadaan kelima jurnalis tersebut penting bukan hanya bagi mereka yang hilang kontak, tetapi juga bagi keluarga yang menunggu kabar.

“Terutama kita ingin bahwa mereka segera untuk bisa ditemukan keberadaannya ada di mana, karena ini menyangkut bukan hanya yang bersangkutan, tapi juga keluarga dan juga kita semua,” ucap Saan.

“Jadi sekali lagi, DPR terus akan berupaya mendorong seluruh pihak terkait untuk secara sungguh-sungguh dan maksimal untuk mencari keberadaan mereka,” pungkas dia.

Peta Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau (GAK), 9 September 2026 Foto: Google Maps

Sebelumnya, lima wartawan dilaporkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Rombongan hilang kontak sejak Senin (7/9) saat berlayar menggunakan kapal untuk memotret gunung tersebut.

Adapun kelima wartawan itu, yakni Muhammad Bagus Khoirunas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan wartawan freelance. Mereka bertolak dari Dermaga Marina, Lippo Carita, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB.

Kades Sukajadi Sandi Wyasa membenarkan hilang kontaknya speedboat yang mengangkut kelima jurnalis. Selain wartawan, kapal tersebut juga membawa satu tour guide dan dua kru kapal.

Sandi bercerita, kontak terakhir yang dilakukan tour guide rombongan tersebut. Ia bilang tour guide bernama Heri Bonsay itu sempat menghubungi keluarga.

“Itu si guide-nya sempat ngirim foto ke istrinya (lagi di Krakatau) sekitar jam 18.14 WIB, dan bilang aman. Tapi setelah itu enggak ada kabar lagi,” ucap Sandi.

Menurut Sandi, harusnya rombongan tersebut pulang pada Senin (7/9) malam.

“Jadi ada 5 orang fotografer itu mau sewa boat, dan guide-nya itu Heri Bonsay. Dan berangkat lah hari Senin jam 2-an, dan itu rencananya tektok,” ujarnya.

“Kalau jam 2 siang berangkat itu nyampe Krakatau itu jam 4 sore, dan harusnya perkiraan jam 8 malam itu sudah pulang. Kondisi sekarang memang lagi angin selatan, lagi kencang angin,” imbuh Sandi.