Erupsi Anak Krakatau Proses Alami, Akumulasi Magma Membangun Kerucutnya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dr. Daryono, ahli kebencanaan Foto: IG/@daryono_edukator_kebencanaan
zoom-in-whitePerbesar
Dr. Daryono, ahli kebencanaan Foto: IG/@daryono_edukator_kebencanaan

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9) merupakan bagian dari proses alamiah gunung api muda yang masih aktif, termasuk dalam melepaskan tekanan dari akumulasi magma di dalam sistem vulkaniknya.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono mengatakan, erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini bukan terjadi karena adanya siklus atau jadwal tertentu.

“Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini terjadi bukan karena siklus jadwal yang kaku, melainkan merupakan proses alamiah dari gunung api muda yang aktif melepas akumulasi tekanan magma dangkal secara berkala untuk membangun kerucut fisiknya,” kata Daryono saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).

Menurutnya, erupsi merupakan salah satu cara alami gunung api untuk melepaskan tekanan magma dari dalam bumi. Pada gunung api dengan sistem terbuka seperti Anak Krakatau, suplai magma dari kedalaman dapat terus berlangsung dan menghasilkan akumulasi tekanan.

Jika gunung api tidak mengalami erupsi dalam waktu lama sementara suplai magma terus berlangsung, tekanan gas di kantong magma dapat semakin tertahan dan membesar. Kondisi tersebut, menurut Daryono, berpotensi memicu erupsi yang lebih eksplosif dan masif ketika tekanan akhirnya terlepas.

“Erupsi adalah cara alami gunung api pelepasan tekanan magma dari dalam bumi. Jika gunung api tipe sistem terbuka ini tidak mengalami erupsi dalam waktu lama sementara suplai magma di kedalaman terus mengalir, tekanan gas di kantong magmanya akan terus tertahan dan membesar,” jelasnya.

“Hal itu justru berisiko memicu erupsi yang jauh lebih eksplosif dan masif di masa depan saat tekanannya akhirnya jebol,” sambungnya.

Gunung Anak Krakatau pada 18 Juli 2018. Foto: FERDI AWED / AFP

Namun, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengingatkan bahwa tidak tepat jika dikatakan gunung api “harus” erupsi.

“Gunungapi tidak mempunyai jadwal atau kewajiban untuk meletus. Erupsi terjadi ketika kondisi di dalam sistem vulkanik memungkinkan magma, gas dan tekanan bergerak menuju permukaan,” ujar Lana.

Ia menjelaskan, tekanan di dalam gunung api tidak hanya dapat dilepaskan melalui letusan. Gas juga dapat keluar secara perlahan melalui kawah, sementara magma dapat berhenti di kedalaman dan kemudian mendingin. Tekanan juga dapat mengalami redistribusi di dalam sistem vulkanik.

Foto udara kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: PVMBG/via REUTERS

Karena itu, gunung api yang tidak sedang erupsi belum tentu sedang menyimpan tekanan yang berbahaya. Sebaliknya, tidak adanya erupsi juga tidak otomatis menunjukkan gunung dalam kondisi aman.

“Misalnya, apabila suplai magma dan gas dari kedalaman tetap berlangsung sementara jalur keluarnya menjadi lebih tertutup, tekanan dapat meningkat,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan lamanya gunung tidak mengalami erupsi. Menurut Lana, peningkatan tekanan harus dibuktikan melalui berbagai parameter, seperti data kegempaan, deformasi, gas, temperatur, dan parameter lainnya.

Erupsi Tak Berarti Tekanan Sudah Habis

Lana juga menegaskan bahwa terjadinya erupsi tidak otomatis berarti seluruh tekanan dalam sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau telah habis.

Ia menyebut setelah episode erupsi menerus yang berlangsung hampir 25 jam berakhir, sejumlah aktivitas kegempaan masih terekam, yakni gempa Low Frequency, Hybrid, Vulkanik Dangkal, dan Vulkanik Dalam.

“Karena itu kami mengatakan bahwa sistem vulkaniknya masih aktif, walaupun energi seismiknya telah menurun dibanding fase erupsi menerus,” ujarnya.

Saat ini, Badan Geologi melalui PVMBG masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Dinamika vulkanisme gunung api tersebut masih terus dievaluasi.

Lana menekankan pemantauan Gunung Anak Krakatau tidak bisa hanya didasarkan pada ada atau tidaknya erupsi. Badan Geologi menggunakan pendekatan multi-parameter untuk melihat perkembangan aktivitas vulkanik.

“Prinsip Badan Geologi adalah melihat gunung api dengan pendekatan multi-parameter, bukan menilai aman atau tidak aman hanya dari ada atau tidak adanya erupsi,” pungkasnya.