Erupsi Tanda Gunung Anak Krakatau Bertumbuh, 2019-2023 Relatif Cepat

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9) dini hari dengan status Level III (Siaga). Setelah periode erupsi menerus tersebut berakhir, aktivitas vulkanik kembali ke tipe erupsi strombolian (letupan lava).
Berdasarkan keterangan Badan Geologi melalui akun X, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Selasa (8/9) sekitar pukul 05.34 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 44 mm dan durasi 10 detik.
Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, mengatakan erupsi tersebut terjadi ketika Gunung Anak Krakatau masih berada dalam fase pertumbuhan atau pembangunan kembali tubuh gunung.
“Betul, kalau yang dimaksud ‘bertumbuh’ adalah pertumbuhan tubuh atau morfologi gunungapi,” kata Heruningtyas saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).
Ia menjelaskan, sebagian besar tubuh Gunung Anak Krakatau runtuh pada Desember 2018. Setelah peristiwa tersebut, gunung kembali membangun tubuhnya melalui penumpukan material hasil erupsi, baik berupa lava maupun material piroklastik.
Penelitian terbaru yang merekonstruksi perubahan Gunung Anak Krakatau hingga 2023 menunjukkan proses pertumbuhan kembali setelah 2018 berlangsung relatif cepat.
“Bahkan laju pertumbuhan volume tubuh gunung pada periode 2019–2023 lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan jangka panjang sebelum keruntuhan 2018,” ujarnya.
Heruningtyas menekankan bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau tidak selalu berarti ketinggian puncaknya terus bertambah.
Material hasil erupsi dapat menambah volume di lereng, memperluas garis pantai, mengisi kawah, maupun membentuk aliran lava ke arah samping. Di sisi lain, sebagian endapan juga dapat mengalami erosi, pemadatan, atau pergeseran.
“Jadi yang kami pantau bukan hanya tinggi Anak Krakatau, tetapi juga volume, bentuk tubuh gunung, kemiringan lereng, arah pertumbuhan dan kestabilannya,” jelasnya.
Menurut Heruningtyas, erupsi yang terjadi pada September 2026 juga berpotensi mengubah morfologi Gunung Anak Krakatau. Namun, besarnya perubahan belum dapat dihitung secara baik sebelum tersedia pemetaan topografi sebelum dan sesudah erupsi.
Untuk kondisi terkini, Badan Geologi melalui PVMBG masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Heruningtyas menyebut episode erupsi menerus yang berlangsung hampir 25 jam telah berakhir. Meski demikian, erupsi Strombolian masih terjadi dan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus dievaluasi.
Anak Krakatau Masih dalam Fase Konstruksi
Hal senada disampaikan Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono. Ia mengatakan Gunung Anak Krakatau memang masih berada dalam fase pertumbuhan secara geologis.
“Betul. Secara geologis, Gunung Anak Krakatau adalah gunung api muda yang baru muncul ke permukaan laut pada tahun 1927,” kata Daryono.
Menurutnya, Gunung Anak Krakatau saat ini berada dalam fase konstruksi atau building phase. Pada fase ini, tubuh dan kerucut gunung terus membesar dan meninggi seiring akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan melalui aktivitas erupsi.
Dengan demikian, aktivitas erupsi yang terjadi saat ini menjadi bagian dari proses vulkanisme yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau setelah keruntuhan pada 2018.
Pertumbuhan tersebut, kata Heruningtyas, tidak hanya dilihat dari perubahan tinggi gunung, tetapi juga dari perubahan volume dan morfologi secara keseluruhan. Karena itu, aktivitas erupsi perlu terus dipantau untuk mengetahui bagaimana material baru membentuk dan memengaruhi kestabilan tubuh gunung.
“Tetapi perlu dipahami bahwa ‘bertumbuh’ tidak selalu berarti puncaknya terus menjadi lebih tinggi,” katanya.
“Material erupsi bisa menambah volume di lereng, memperluas garis pantai, mengisi kawah, atau membentuk aliran lava ke samping,” lanjutnya.
