Jakarta Level Awas Kekeringan, BPBD Imbau Warga Hemat Air

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat saat Apel Jaga Jakarta di Lapangan Silang Monas Sisi Selatan, Rabu (2/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat saat Apel Jaga Jakarta di Lapangan Silang Monas Sisi Selatan, Rabu (2/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut seluruh wilayah Ibu Kota saat ini masuk dalam pemantauan kekeringan imbas kemarau panjang. Masyarakat diimbau untuk hemat air.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan, berdasarkan informasi dan peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG Dasarian II September 2026, seluruh wilayah DKI masuk dalam pemantauan kekeringan.

“Seluruh wilayah DKI Jakarta saat ini masuk dalam pemantauan kekeringan, dengan wilayah yang berada pada level AWAS meliputi Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan,” kata Marulitua saat dihubungi kumparan, Minggu (13/9).

Prakiraan Hujan Masih Rendah

Marulitua mengatakan potensi hujan di Jakarta masih ada. Namun, berdasarkan prakiraan BMKG, curah hujan pada Dasarian II September masih berada dalam kategori rendah dengan sifat hujan cenderung di bawah normal.

“Potensi hujan tetap ada, tetapi intensitas dan sebarannya masih terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, BPBD terus mengikuti perkembangan prakiraan dan dinamika atmosfer dari BMKG. Peluang hujan sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta pertumbuhan awan di masing-masing wilayah.

OMC Terkendala Ketersediaan Awan

Lebih lanjut, Marulitua menyebut Pemprov DKI bersama BMKG masih melakukan koordinasi terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pemantauan kondisi atmosfer.

Marulitua menjelaskan OMC tidak semata-mata ditujukan untuk menurunkan hujan di wilayah Jakarta. Dalam kondisi kemarau, OMC salah satunya dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan guna menambah atau mengisi kembali reservoir maupun waduk sebagai upaya menjaga cadangan air Jakarta.

“Pemprov DKI Jakarta bersama BMKG terus melakukan koordinasi dan pemantauan kondisi atmosfer,” katanya.

“OMC bukan semata-mata ditujukan untuk menurunkan hujan di wilayah Jakarta. Dalam kondisi kemarau seperti sekarang, salah satu tujuannya adalah mengoptimalkan potensi hujan untuk menambah atau mengisi kembali reservoir/waduk sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan cadangan air Jakarta,” lanjutnya.

Namun, pelaksanaan OMC memiliki keterbatasan karena efektivitasnya bergantung pada kondisi atmosfer, terutama ketersediaan awan yang potensial untuk disemai.

“Efektivitasnya tetap sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama ketersediaan awan yang potensial untuk disemai,” kata Marulitua.

Ilustrasi kekeringan. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Selain untuk menjaga ketersediaan air, hujan yang terjadi dalam kondisi atmosfer tertentu juga dapat membantu membersihkan atau menurunkan konsentrasi partikulat di udara.

Marulitua menegaskan OMC hanya menjadi salah satu instrumen dalam penanganan kondisi hidrometeorologi. BPBD tetap melakukan pemantauan kekeringan, ketersediaan air, kualitas udara, dan potensi dampaknya bersama BMKG serta perangkat daerah terkait.

BPBD Siapkan Respons Kebutuhan Air

BPBD DKI, kata Marulitua, terus memantau kondisi kekeringan dan dampaknya di wilayah Jakarta. BPBD juga berkoordinasi dengan perangkat daerah serta lembaga terkait dan menyiapkan langkah respons apabila terjadi kebutuhan air bagi masyarakat.

Marulitua mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menggunakan air secara bijak. Warga juga diminta menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan penting.

“Masyarakat juga kami imbau untuk menghemat penggunaan air, menggunakan air secara bijak, dan menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan penting,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di tengah kondisi kering.

“Pada kondisi kering seperti sekarang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan menghindari pembakaran sampah maupun lahan,” tuturnya.