Koran, Payung dan Salat Istiska di Kudus

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bupati Kudus (busana muslim biru muda) bersama Forkopimda Kudus dan masyarakat Kudus melaksanakan salat Istisqa di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang.  Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bupati Kudus (busana muslim biru muda) bersama Forkopimda Kudus dan masyarakat Kudus melaksanakan salat Istisqa di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Siang itu matahari tengah terik-teriknya. Namun panas pun tak kuasa untuk membubarkan barisan jemaah yang sudah teguh untuk melaksanakan salat istiska, meminta hujan.

Berbekal kardus, koran bekas, dan alat yang lebih proper seperti payung, mereka tetap khusyuk beribadah di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (4/9) siang.

Sinar matahari tepat berada di atas kepala saat para jemaah memasuki halaman Pendapa Kabupaten Kudus. Mereka hendak menjalankan salat Istiska untuk meminta hujan di tengah maraknya kekeringan yang melanda berbagai daerah.

Jemaah laki-laki yang didominasi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus duduk di barisan saf depan. Mereka tampak ada yang memakai kardus air mineral di kepala untuk menghalau paparan sinar matahari secara langsung. Selain itu ada yang menggunakan sajadah hingga sorban di atas kepala.

Di barisan belakang, para jemaah perempuan berbaris memenuhi saf yang ada. Tampak, jemaah menggunakan koran untuk menutupi kepala. Ada juga yang membawa payung supaya tak terkena sinar matahari secara langsung.

Salah seorang jemaah, Muhammad Ulin Nuha memanfaatkan syal sorban yang biasa digunakan untuk salat sebagai penutup kepala. Ia mengaku kepanasan karena sinar matahari tepat di atas kepala.

"Saya pakai serban karena tidak tahan dengan panas. Kalau terlalu panas tenaganya tidak kuat. Ya supaya tidak pingsan," katanya kepada kumparan, Jumat (4/9).

ASN Pemkab Kudus dan masyarakat bersujud saat melaksanakan salat Istisqa di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Ia menyambut baik kegiatan salat Istiska ini. Apalagi saat ini di Kabupaten Kudus memasuki musim kemarau.

"Sudah lama di Kudus tidak turun hujan. Semoga setelah ini segera turun hujan," imbuhnya.

Jemaah lainnya, Tulus Santosa, menggunakan kardus air mineral untuk menutupi kepala sebelum salat dan selama mendengarkan khotbah.

"Pakai kardus karena cuaca panas. Kebetulan dapat kardus kosong bekas air mineral. Supaya badan terlindungi dari panas sembari melaksanakan salat," jelasnya.

Ia ikut salat Istiska untuk memohon hujan. Sehingga kekeringan yang terjadi di Kabupaten Kudus maupun di berbagai daerah lainnya segera selesai.

"Doa saya segera turun hujan dan mendapatkan keberkahan berupa air. Karena saat ini semua sedang membutuhkan air," ujarnya.

Pemkab Kudus bersama masyarakat melaksanakan salat Istisqa di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Data yang dihimpun kumparan dari BPBD Kudus, ada empat desa yang terdampak kekeringan. Desa tersebut adalah Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Setrokalangan, dan Desa Kedungdowo.

Per Rabu (2/9) korban terdampak kekeringan di Desa Glagahwaru ada 606 KK atau 1.695 jiwa.

Sedangkan di Desa Colo ada 20 KK atau 80 jiwa. Kemudian di Desa Setrokalangan ada 94 KK atau 246 jiwa dan Desa Kedungdowo ada 91 KK atau 295 jiwa.

Sementara itu, Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris, menyampaikan salat Istiska yang digelar hari ini sebagai bagian dari ikhtiar meminta keberkahan hujan. Terlebih saat ini kekeringan sedang melanda Kota Kretek.

"Kami memohon doa kepada Allah SWT agar diberi hujan. Hujan yang berkah dan barokah," kata Sam'ani, Jumat (4/9).

Kepala Kemenag Kudus, Shony Wardana memimpin doa saat salat Istisqa di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sam'ani menambahkan, ada empat desa di Kabupaten Kudus yang terdampak kekeringan. Tepatnya di Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Setrokalangan, dan Desa Kedungdowo.

"Kekeringan terjadi di empat desa. Sedangkan jumlah titik kebakaran sepanjang Agustus 2026 ada 48 titik lahan yang terbakar. Alhamdulillah semua bisa tertangani," sambungnya.

Lebih lanjut, perihal dampak kemarau di Kabupaten Kudus menurut Sam'ani memang sudah terasa. Namun, masih dapat diatasi.

"Dampaknya terasa tapi tidak signifikan. Kekeringan yang sudah terjadi di empat desa tadi. Ya mohon maaf terkadang ada yang sengaja dibakar oleh oknum, karena setelah dibakar muncul tunas-tunas yang baru," terangnya.

Pihaknya memastikan ketersediaan armada pemadam kebakaran cukup untuk mengatasi bencana kebakaran. Armada pemadam kebakaran dari pihak swasta diyakini siap untuk mengcover.

"Jumlah armada yang ada di acara ini sebanyak 12 unit. Tetapi yang disiagakan di berbagai tempat ada sekitar 50-an. Kemudian suplai air bersih juga aman," imbuhnya.