Modus Kapal Malaysia Bawa 1,16 Ton Narkoba: Matikan Pendeteksi-Ganti Identitas

Kapal tanker bernama MT Global 168 dari negara Malaysia berbendera Mongolia membawa 1,16 ton narkoba jenis Ketamine HCL di Perairan Selat Malaka. Kapal itu pakai berbagai cara untuk menyelundupkan barang haram.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menjelaskan bahwa modus kapal tersebut menyelundupkan narkoba dengan cara mematikan sinyal pendeteksi kapal atau AIS (Automatic Identification System).
Tak hanya itu, para pelaku juga mengubah identitas kapalnya.
"Tim analis berkeyakinan bahwa kapal MT Global 168 sedang melakukan transaksi ship to ship (perpindahan muatan narkoba) di perairan Andaman. Hal ini tentunya dibuktikan dengan tindakan mereka mematikan AIS," ujar Suyudi, Jumat (23/10).
"Nah, inilah apa namanya, modus-modus para penyelundup itu selalu mematikan AIS ya pada saat mereka sedang transaksi. Nah, tapi ini jadi bagus juga buat kita, jadi bisa membaca anomali yang perlu kita ikuti," sambung Suyudi.
Suyudi mengatakan, modus para penyelundup narkoba juga melakukan pengubahan identitas pada kapalnya. Hal itu dilakukan agar mengelabui para petugas.
Kapal MT Global 168 itu sebelumnya bernama Tsurushio Maru Nomor 8 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Makmur Marine Petroleum di Jalan Syed Mohammad Mufti, Bandar Johor Bahru, 80000 Johor Bahru, Johor, Malaysia.
"Nah, terkait dengan manajemen kapal, tim gabungan telah mengidentifikasi bahwa kapal ini terdaftar atas nama perusahaan pemilik atau registered owner yaitu Makmur Marine Petroleum. Jadi benderanya Mongolia, tapi kapalnya dari Malaysia. Kapal ini dibangun tahun 1993, tercatat masih statusnya aktif ya beroperasi dan sebelumnya pernah menggunakan nama Tsurushio Maru Nomor 8," ucap Suyudi.
"Inilah salah satu strategi para penyelundup, selalu mengubah-ubah nama kapal, selalu. Kita dari berbagai pengungkapan penangkapan kapal, itu selalu fenomena ini terjadi. Kapal itu diubah-ubah namanya untuk mengelabui petugas ya," imbuh Suyudi.
Suyudi menilai, modus kapal-kapal selalu melakukan transaksi di tengah laut. Ada penerima barang narkobanya dan juga ada pemberinya. Sehingga, itu menjadi tantangan bagi petugas untuk melakukan pencegahan.
"Modus para penyelundup itu seperti itu ya. Mereka datang dari beberapa negara ya, kadang dari wilayah-wilayah Laos dan sebagainya. Kemudian mengadakan transaksi di laut Andaman atau juga di Selat Malaka, ya dari ship to ship, dari kapal ke kapal. Ada kapal pembawa barang, ada penerima. Begitu habis, nanti diisi lagi, terus saja begitu," ucap Suyudi.
"Nah, ini tentunya butuh kejelian, kesabaran, keuletan kita semua ya, BNN, Polri, Bea Cukai, TNI, harus bahu-membahu. Kita jangan pernah lelah, sebagaimana diamanatkan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia pada kesempatan-kesempatan beliau menyampaikan pidatonya. Kita harus selalu kuat, bersatu padu untuk bisa mengungkap kejahatan-kejahatan para pelaku yang ingin menyelundupkan barang-barang terlarang ke Indonesia. Dan ini tentunya menjadi kado terindah untuk 2 tahun pemerintahan Bapak Prabowo dan Pak Gibran," pungkas Suyudi.
Dalam kasus ini, sebanyak 1,16 ton narkoba jenis ketamine berhasil diamankan. Sebanyak 8 orang awak kapal yang terdiri dari 7 WNI dan 1 warga negara Taiwan juga ditangkap.
