Ortu di Sidang Daycare Little Aresha: Anak Diikat-Dikurung, Kena Scabies

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para terdakwa dalam kasus kekerasan dan penelantaran anak Daycare Little Aresha Yogyakarta di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Para terdakwa dalam kasus kekerasan dan penelantaran anak Daycare Little Aresha Yogyakarta di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebanyak 10 orang yang merupakan ibu dari anak-anak korban kekerasan dan penelantaran Daycare Little Aresha Yogyakarta dihadirkan sebagai saksi dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8).

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Sunaryanto, para orang tua ini satu per satu menceritakan kronologi mereka memasukkan anaknya ke daycare tersebut.

Saksi pertama adalah Imedia Dwi Anjani. Dia memasukkan anaknya saat berusia 3 tahun 6 bulan. Saat ini anaknya telah berusia 4 tahun 6 bulan.

Imedia menjelaskan anaknya merupakan penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) ringan. Sebelumnya Imedia tinggal di Bekasi, di sana anaknya juga masuk daycare.

Saat kembali ke Yogyakarta, dia kembali memasukkan anaknya ke daycare agar bisa terus terstimulasi dan bersosialisasi dengan teman-teman seumurannya.

"Kembali ke Yogya saya ingin memasukkan ke daycare dengan tujuan yang sama agar tetap terstimulasi dan bisa bersosialisasi dengan anak-anak seumuran," kata Imedia di persidangan.

Para terdakwa dalam kasus kekerasan dan penelantaran anak Daycare Little Aresha Yogyakarta di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dia menemukan informasi Daycare Little Aresha di Google. Saat itu ratingnya tinggi. Setelah itu dilanjutkan dengan survei ke lokasi. Survei disebutkan hanya bisa dilakukan hari Minggu, tidak di hari lain.

"Karena saya ibu dari anak kebutuhan khusus. Setiap mau cari sekolah saya menjelaskan dahulu kondisi anak saya. Anak saya ASD apakah bisa menerima anak saya. Dari Bu Diyah (terdakwa, pemilik daycare) jawabnya bisa, di sini ada yang berkebutuhan khusus juga," tuturnya.

Saat itu dia mendapatkan penjelasan sederet fasilitas di daycare bahkan termasuk bantuan memberikan terapi bicara, yang sampai daycare tersebut digerebek janji itu tidak pernah ditunaikan.

"Saya positif thinking karena jujur Diyah orangnya sangat halus tutur katanya, kayak ya ngemong banget. Jadi positif waktu itu," ujarnya.

Masuk di daycare itu, Imedia membayar Rp 250 ribu untuk pendaftaran, biaya lain-lain Rp 500 ribu, seragam Rp 200 ribu, dan SPP bulanan Rp 1,1 juta.

"Saya bertanya (soal izin) apakah di sini ada izinnya, ibu (Diyah) jawabnya udah. Tapi setelah penggerebekan ternyata sekolah yang ada izinnya harus terpampang izinnya. Saya nggak tahu tentang itu. (Kalau tahu tak berizin) nggak lanjut," tuturnya.

Selama mengantar anaknya, Imedia juga tak diperkenankan masuk dia hanya boleh mengantar sampai pagar saja.

"Tidak boleh (masuk ke dalam) alasannya area steril anak. Orang tua tidak boleh masuk ke dalam," katanya.

Anak Diikat dan Dikurung

Imedia mengatakan setelah Daycare Little Aresha digerebek polisi, dia mencari informasi soal peristiwa yang dialami anaknya ke teman-teman anaknya yang sudah bisa berkomunikasi karena anaknya masih kesulitan berkomunikasi dua arah.

"Menurut teman-temannya, Bilang B (anak Imedia) sering diikat padahal B masih kecil dia cuma pengin main. B sering dikurung di kamar sendirian," katanya

Anak Imedia juga pernah dikurung bersama satu anak lain di sebuah ruangan. Selain itu, informasi yang Imedia dapat anaknya juga pernah jatuh dari tangga hingga nangis guling-guling.

"Temannya (Inisial) L juga bilang pernah dikurung bareng B. B diikat," katanya.

Anaknya Terekam Video Penggerebekan Polisi

Usai penggerebekan, Imedia kedatangan polisi ke rumahnya. Polisi tersebut yang menyelamatkan anaknya yang saat penggerebekan sedang diikat.

Imedia juga ditunjukkan video penggerebekan. Saat itu anaknya tengah diikat.

"Saya diperlihatkan video penggerebekan itu saya melihat anak saya sedang diikat di engsel pintu. Diikatkan lagi ke kakinya. Cuma pakai diapers (popok) tidak pakai baju. Berdiri dan background banyak anak-anak lain yang tidak pakai baju," tuturnya.

Anak Alami Scabies

Kesaksian lain datang dari Zly Wahyuni, anaknya masuk ke Little Aresha saat berusia 7 bulan kurang 1 hari. Saat penggerebekan usianya 17 bulan.

Selama di Daycare Little Aresha, anaknya sempat mengalami gatal di bagian pantat yang ternyata adalah penyakit scabies.

"Gatal-gatal di pantat anak saya. Dijawab (pihak daycare) mungkin ruam popok berjalannya kasus verifikasi di Sardjito anak saya terkena scabies," kata Zly.

Ika Lailatul, orang tua anak lainnya menjelaskan anaknya yang berinisial N masuk Daycare Little Aresha pada 14 April 2025. Saat masuk usia anaknya 8 bulan dan saat penggerebekan usianya 21 bulan.

Semasa di Little Aresha, anaknya dua kali dirawat di rumah sakit.

"Dua kali rawat saat di LA (Little Aresha) dengan diagnosa bronkopneumonia," kata Ika.

Anak Ika juga mengalami gangguan sensorik dan gangguan tidur.