Saat Bendung Katulampa Mengering

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi debit air di Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi debit air di Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Bendung Katulampa yang berada di Kecamatan Bogor Timur, Kota Timur, mengering. Tinggi Muka Air bahkan mencapai angka nol sentimeter pada Sabtu (18/7).

Penjaga Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengatakan kondisi TMA yang berada di angka 0 sentimeter menunjukkan debit aliran Sungai Ciliwung yang melintas di Bendung Katulampa mengalami penurunan signifikan.

Dalam beberapa hari terakhir, TMA Bendung Katulampa disebut berfluktuasi di kisaran 0 hingga 10 sentimeter.

"Dampaknya memang mulai terasa karena musim kemarau," kata Alwan.

Warga diminta tetap siaga dan waspada terhadap perubahan cuaca sewaktu-waktu serta selalu mengikuti perkembangan informasi resmi terkait kondisi terkini Sungai Ciliwung.

"Untuk imbauan kepada warga masyarakat atau warga di hilir bantaran Kali Ciliwung, imbauan tetap siaga dan waspada saja. Di saat hujan, kan ada beberapa wilayah yang berpotensi hujan," katanya.

Pantauan di Bendung Katulampa menunjukkan surutnya aliran Sungai Ciliwung membuat hamparan bebatuan yang biasanya terendam air kini muncul ke permukaan.

Warga Beli Air karena Sumur Mengering

Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, turun hingga menyentuh angka 0 sentimeter pada Sabtu (18/7/2026), dasar sungai terlihat. Foto: Dok. kumparan

Mengeringnya air di Bendung Katulampa mulai berdampak pada kehidupan warga sekitar. Salah seorang warga Katulampa, Ujang (64), mengatakan minimnya hujan selama beberapa pekan terakhir membuat sumur warga mulai mengering. Kondisi tersebut menyulitkan warga yang tidak memiliki sambungan air PAM.

“Dampaknya ya satu, sumur kering. Warga susah. Apalagi kalau enggak punya air PAM itu susah banget,” ujarnya kemarin.

Ujang mengaku mengandalkan air sumur untuk kebutuhan rumah tangganya. Namun kini, air yang keluar dari sumurnya sangat sedikit hingga membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu ember air.

“Sumur kadang-kadang tiga jam baru satu ember dapat. Kadang beli air galon buat masak atau buat minum,” tuturnya.

Untuk kebutuhan mandi, Ujang mengaku harus menumpang di rumah adiknya yang memiliki sambungan air PAM.

“Kalau mandi ke rumah adik, pakai air PAM. Ya numpang di rumah adik,” katanya.

Selain berdampak pada kebutuhan air bersih, mengeringnya aliran di kawasan Bendung Katulampa juga mengubah aktivitas warga di sekitarnya.

Jika saat debit air normal, sungai dimanfaatkan untuk mengairi sawah, kolam ikan, hingga mencuci baju, kini sebagian warga hanya datang untuk mencari ikan, mengambil pasir, atau sekadar berfoto di dasar sungai yang mengering.

Warga Berharap Dapat Bantuan Air Bersih

Ujang, warga Katulampa, Bogor, Jawa Barat, saat ditemui di lokasi, Minggu (19/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Warga di sekitar Bendung Katulampa berharap bantuan air bersih imbas kemarau yang melanda daerah itu sejak sebulan terakhir ini.

"Mungkin pemerintah bisa memberikan air bersih kepada warga yang terdampak," kata Ujang.

Selain itu, warga juga berharap turun hujan.

"Ya, mudah-mudahan minggu-minggu ini ada hujan. Itu harapan Bapak. Warga sini mungkin juga begitu. Harapannya minggu-minggu ini ada hujan," ucapnya.

Kata BMKG

Kondisi debit air di Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait mengeringnya Bendung Katulampa, Bogor. Fenomena ini dinilai dipengaruhi oleh musim kemarau yang sudah mulai melanda pulau Jawa.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan akibat kemarau itu terjadi pengurangan tangkapan hujan di daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.

“Sebagian besar Jawa telah memasuki musim kemarau, termasuk daerah tangkapan untuk DAS Ciliwung. Di wilayah tersebut kondisi curah hujan bulan Juni dan dasarian I bulan Juli mengalami curah hujan di bawah normal,” kata Ardhasena.

Meski demikian, Ardhasena menegaskan, BMKG tidak dapat menyimpulkan bahwa mengeringnya Bendung Katulampa yang semata-mata disebabkan oleh musim kemarau ekstrem.

Menurutnya, penjelasan terkait tinggi muka air sungai menjadi kewenangan instansi teknis yang menangani sumber daya air.

“Untuk atribusi tinggi air pada sungai, perlu dikonsultasi pada PU (Dinas Pekerjaan Umum). BMKG memonitor curah hujan yang berkontribusi pada air sungai, yang saat ini rendah karena musim kemarau,” ujarnya.