Saat Prabowo Kutip Surat Al-Baqarah: Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan dalam acara peluncuran Gerakan PANSar Murah Nasional sekaligus Malam Puncak HUT ke-28 PAN di Plenary Hall, JCC, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan dalam acara peluncuran Gerakan PANSar Murah Nasional sekaligus Malam Puncak HUT ke-28 PAN di Plenary Hall, JCC, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Presiden Prabowo Subianto mengutip Surat Al-Baqarah ayat 191 saat mengingatkan para pakar agar tidak melontarkan fitnah. Dia menegaskan, apa yang dilakukannya untuk melihat Indonesia sejahtera.

"Saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera. Itu sumpah saya," kata Prabowo dalam sambutannya pada puncak perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Jumat (18/9) malam.

“PAN kan lahir dari reformasi. PAN punya juga basis agamis ya. Kalau tidak salah apakah ada hadis ya yang bunyinya apa? Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Ada ya? Ada. Surah Al-Baqarah ayat 191,” tutur Prabowo.

Lebih lanjut, dia mengingatkan agar para cendekiawan maupun pihak yang memiliki kepakaran tetap menjunjung kejujuran dalam menyampaikan pendapat.

“Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Ada beberapa pakar saking pakarnya dia melontarkan fitnah, saudara-saudara. Tapi sudahlah. Kita bangsa yang besar, bangsa yang kuat, saya pun mencatat saja,” ujarnya.

Kata Prabowo, dia akan memaafkan pihak-pihak yang menyampaikan fitnah apabila mereka menyadari kesalahannya. Namun, ia tetap mengingatkan pentingnya kejujuran intelektual.

"Ada beberapa pakar, saking pakarnya dia melontarkan fitnah, saudara-saudara. Tapi sudahlah, kita bangsa yang besar, bangsa yang kuat. Saya pun mencatat saja," ucapnya.

“Kalau dia sadar saya maafkan. Tapi saya ingatkan, kalau Anda punya kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, jangan lupa seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual. Intellectual honesty,” lanjutnya.