Tarif Transjakarta Naik pada 2027, Ini Respons Warga

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bus Transjakarta melintas di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bus Transjakarta melintas di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sejumlah pengguna Transjakarta menanggapi rencana kenaikan tarif yang akan berlaku mulai 1 Januari 2027.

Salah satunya Alif, seorang pelajar yang tinggal di Senen, Jakarta Pusat, mengaku masih menganggap tarif Transjakarta saat ini sebesar Rp 3.500 cukup terjangkau. Namun, jika tarif dinaikkan, ia berharap harganya tidak lebih dari Rp 5.000.

“Kalau saya Rp 3.500 tuh masih terbilang murah. Jadi kalau misalnya mau benar-benar dinaikin tuh ya paling-paling maksimal sih minimal buat saya sebagai anak sekolah paling ya Rp 5.000 lah,” kata Alif saat ditemui di kawasan CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (4/10).

Alif, pengguna Transjakarta saat ditemui di CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (4/10/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Alif mengaku menggunakan Transjakarta untuk pulang sekolah dan bepergian ke sejumlah tempat. Ia biasanya naik dari Lapangan Banteng dan turun di Kramat Sentiong.

Menurut dia, kenaikan tarif seharusnya dibarengi dengan peningkatan fasilitas, terutama halte dan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang dinilai belum terawat.

“Saya di Pal Putih. Di Pal Putih sama di Kramat Sentiong, kalau saya kan sering berangkat ke situ, ya ngeri aja (JPO di sana) gitu. Terus kayak kalau misalnya tarifnya dinaikin, ya fasilitasnya juga dinaikin lah menurut saya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi bus yang padat, terutama saat jam sibuk. Menurutnya, kenaikan tarif tidak sebanding jika penumpang masih harus berdesakan di dalam bus.

“Masa saya (kalau tarif) Rp 7.000, saya pulang sore masa sumpek-sumpekan? Ya enggak mau lah,” ucapnya.

Alif bahkan mengaku lebih memilih berjalan kaki jika tarif Transjakarta nantinya melampaui Rp 5.000.

Eca, pengguna Transjakarta saat ditemui di CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (4/10/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sementara itu, Eca, pengguna Transjakarta asal Pondok Gede, Bekasi, juga berharap kenaikan tarif tidak terlalu tinggi. Ia menilai tarif saat ini masih cukup terjangkau bagi masyarakat yang mengandalkan transportasi umum untuk beraktivitas.

“Kalau bisa sih ya jangan naik ya. Udah Rp 3.500 sih oke lah, aman. Maksudnya ya kalau bisa sih kalau memang toh naik, ya jangan mahal-mahal, biar ya kita-kita ini bisa ini lah, tetap gunain Transum,” kata Eca.

Eca berharap tarif baru berada di bawah Rp 5.000. Ia mengusulkan kenaikan menjadi Rp 4.000 atau Rp 4.500 agar masyarakat tetap bisa menggunakan Transjakarta.

“Misal (sekarang) Rp 3.500, ya (naiknya) di bawah Rp 5.000 lah kalau bisa. Naik gopek atau enggak Rp 4.000 gitu,” ujarnya.

Meski demikian, Eca mengaku keberatan jika tarif Transjakarta nantinya naik di atas Rp 5.000. Ia juga berharap pemerintah memperbaiki fasilitas, keamanan, dan kenyamanan layanan, khususnya saat jam berangkat dan pulang kerja.

“Ya pokoknya fasilitasnya diperbaiki lagi, keamanannya, kenyamanannya. Apalagi di jam-jam pulang kerja, berangkat kerja, udah itu enggak bisa duduk. Pasti berdiri,” tuturnya.

Tarif Transjakarta Naik Awal 2027

Momen kedatangan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di Mall Pelayanan Publik, Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (2/10). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan penyesuaian tarif Transjakarta dan Transjabodetabek mulai 1 Januari 2027. Penyesuaian ini menjadi yang pertama setelah tarif kedua layanan tersebut tidak berubah selama 20 tahun.

Pramono belum mengumumkan besaran tarif baru. Pemprov DKI Jakarta masih akan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar penyesuaian tarif tidak membebani pengguna transportasi umum.

“Dan dalam menentukan tarif transportasi yang baru, yang sudah 20 tahun tidak pernah mengalami perubahan, akan kami berlakukan tanggal 1 Januari 2027,” kata Pramono saat ditemui wartawan di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (29/9).

Selain penyesuaian tarif, Pemprov DKI juga berencana mengurangi subsidi bagi warga yang dinilai mampu dan memperluas cakupan penerima layanan transportasi gratis dari 15 menjadi 21 golongan.

Pramono mengatakan pemerintah memiliki waktu untuk menyosialisasikan kebijakan tersebut sebelum mulai diberlakukan. Ia memastikan penetapan tarif baru akan mempertimbangkan kemampuan masyarakat.

“Tetapi yang jelas, di dalam menentukan tarif itu kami pasti mempertimbangkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, sehingga tidak membebani bagi masyarakat,” ujarnya.