Yang Sejauh Ini Diketahui soal Pelecehan di Grup WA oleh Mahasiswa Unesa

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock

Penanganan atas kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) masih bergulir. Perkembangan terbaru, pihak kampus menyatakan tidak akan mentolerir aksi pelecehan seksual.

Pelecehan yang dilakukan oleh tiga mahasiswa di Unesa ini dilakukan di sebuah grup WhatsApp. Ya, pelecehan ini berbentuk daring, menyasar mahasiswi hingga dosen sebanyak 26 korban.

Para pelaku yakni berinisial RY, HA dan AD. Mereka merupakan mahasiswa Fakultas Vokasi Unesa. Mereka membahas 26 korban di grup itu secara tidak etis. Juga membuat kontennya. Aktivitas ketiganya terungkap usai korban mendapati grup berisi pelecehan tersebut.

Ketua Umum DPM Fakultas Vokasi Unesa, Tegar Eka Pambudi El Akhsan, membenarkan adanya laporan mengenai perkara dugaan pelecehan seksual itu. Pelaporan diterima sejak tanggal 1 hingga 13 Juli 2026.

"Terjadi perubahan pada jumlah korban yang sebelumnya berjumlah 19 orang, kini menjadi 26 orang yang terdiri dari 22 mahasiswa dan 4 dosen," ujar Tegar dalam keterangannya, Sabtu (18/7).

Pelecehan Juga Gunakan AI

Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Foto: Unesa

Pelecehan seksual yang RY, HA dan AD lakukan diduga tidak hanya bersifat verbal di grup WA saja. Tegar mengungkapkan terduga pelaku juga menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk membuat konten yang tidak etis.

"DPM memperoleh informasi bahwa bentuk dugaan pelecehan yang terjadi di dalam grup percakapan tidak hanya berupa pelecehan verbal dan objektifikasi yang bersifat fantasi atau pemenuhan kesenangan pribadi, tetapi juga mencakup penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menghasilkan konten yang tidak etis terhadap salah satu korban," kata Tegar.

Mulanya, dugaan pelecehan seksual itu awalnya dilakukan oleh ketiga pelaku dalam sebuah grup WhatsApp yang hanya diisi mereka bertiga.

Namun mereka kemudian membawa percakapan tidak etis dalam grup tersebut ke grup Whatsapp lain yang awalnya dibuat untuk membicarakan lomba. Grup itu berisi enam orang termasuk tiga terduga pelaku.

Saat ini kasus tersebut tengah ditangani oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unesa. Satgas telah memanggil pihak-pihak terkait dalam kasus itu.

"DPM memperoleh informasi bahwa hingga tanggal 13 Juli 2026, saudara berinisial HA, RY, AD, RE, JO dan DO yang telah memenuhi panggilan PPKS. Berdasarkan hasil verifikasi kepada PPKS dan informasi yang diperoleh DPM, saudara RE, JO dan DO sementara dinyatakan bukan sebagai pihak pelaku hingga seluruh proses berakhir," ucap dia.

Disanksi Cium Kaki Ibu

Tegar, menuturkan berdasarkan informasi yang ia dapat ketiga pelaku telah menjalani sanksi permintaan maaf.

"DPM memperoleh informasi dari JO dan DO bahwasanya ketiga pihak yang berinisial HA, RY dan AD mendapatkan sanksi membuat video sujud sekaligus mencium kaki orang tua serta meminta maaf ke ortu dengan jujur menceritakan semuanya dan direcord dikirim ke PPKS," kata dia.

Namun, belum ada keputusan Drop Out (DO) untuk para terduga pelaku.

Sementara itu, pihak kampus saat ini masih melakukan tindak lanjut atas laporan dugaan pelecehan seksual tersebut. Kampus juga tengah memanggil ketiga terduga pelaku itu.

"Ini kami proses, masih pemanggilan," ujar Direktur Humas, Informasi Publik dan Protokoler Unesa, Vinda Maya Setianingrum.

Ketiga Mahasiswa Dinonaktifkan Sementara

Ilustrasi Kampus Unesa. Foto: Ale apriana/Shutterstock

Belakangan, Unesa menonaktifkan sementara enam mahasiswa yang diduga terlibat dalam kasus dugaan pelecehan seksual melalui grup WhatsApp di lingkungan Fakultas Vokasi Unesa. Yang dinonaktifkan adalah tiga terduga pelaku, dan tiga saksi.

"Demi kelancaran pemeriksaan, Unesa mengambil langkah dengan menonaktifkan keenam terlapor dari kegiatan akademik atau kegiatan kampus," demikian pernyataan yang diunggah akun Instagram @official_unesa, dikutip Minggu (19/7).

Unesa memastikan, penonaktifan ini bukan sanksi akhir, melainkan hanya bagian dari proses administratif dalam rangka memperlancar proses pemeriksaan.

Unesa menjelaskan, sejak laporan terkait dugaan pelecehan ini diterima, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Unesa langsung melakukan investigasi.

Unesa memastikan penelusuran lebih jauh akan dilakukan untuk mengungkap kemungkinan adanya pelaku maupun korban lainnya.

Unesa juga mengapresiasi pihak yang telah melaporkan dugaan pelecehan ini. Kampus memastikan akan melakukan pelindungan terhadap korban, termasuk memberikan pendampingan hukum maupun psikologis.

"Unesa menegaskan tidak mentolerir segala bentuk tindakan kekerasan di lingkungan kampus karena mencederai martabat dan nilai-nilai luhur akademik," tulisnya.

"Sehubungan dengan itu, Unesa sangat menyayangkan sekaligus menaruh perhatian serius terhadap dugaan pelanggaran etik berupa kekerasan verbal yang melibatkan mahasiswa Fakultas Vokasi," lanjutnya.