Bahaya HIV Menyerang Remaja?Yuk Cari Tau Faktanya

Mahasiswa D4 - Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Airlangga
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Mahfuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masa remaja merupakan periode penting dalam semua kehidupan seseorang. Pada tahap ini, remaja mulai mengenal diri sendiri, membangun hubungan sosial, serta mengambil keputusan yang dapat memengaruhi masa depannya.
Namun, rasa ingin tahu dan kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang benar, terutama mengenai kesehatan reproduksi. Salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV).
HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel limfosit T CD4 yaitu salah satu jenis sel darah putih yang berperan penting dalam melawan infeksi. Ketika virus berkembang di dalam tubuh, jumlah dan fungsi sel kekebalan dapat terganggu sehingga kemampuan tubuh menghadapi penyakit semakin menurun apabila infeksi tidak ditangani.
HIV sering dianggap sama dengan AIDS, padahal keduanya memiliki pengertian berbeda. HIV adalah virus penyebab infeksi, sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan tahap lanjut infeksi HIV ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan berat dan seseorang menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik (penyakit yang menyerang sitem imun yang lemah) atau penyakit tertentu.
Seseorang yang terinfeksi HIV tidak serta-merta mengalami AIDS. Pemeriksaan dini dan pengobatan antiretroviral (ARV) dapat membantu mengendalikan virus serta menjaga kesehatan dalam jangka panjang. Dengan demikian, memahami HIV secara tepat penting agar masyarakat tidak hanya mengenali bahayanya, tetapi juga mengetahui bahwa infeksi ini dapat ditangani melalui perawatan medis yang sesuai.
HIV pada Remaja Mengapa Perlu Mendapat Perhatian?
Persoalan HIV pada remaja perlu diperhatikan karena masa ini merupakan periode pembentukan kebiasaan dan pengambilan keputusan. Pengaruh teman sebaya, kurangnya informasi, serta anggapan keliru mengenai kesehatan seksual dapat membuat remaja kurang memahami risiko penularan HIV.
Dalam artikel Melonjaknya Kasus HIV di Kalangan Remaja Indonesia, Maulana, Hasibuan, dan Mauliah (2024) mengutip data Kementerian Kesehatan tahun 2022 yang memperkirakan sekitar 1.929 remaja berusia 15–24 tahun terinfeksi HIV. Angka tersebut disebut meningkat 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu tantangan pencegahan adalah keterbatasan akses terhadap informasi yang benar. Remaja mungkin telah mendengar tentang HIV melalui media sosial atau pergaulan, tetapi belum tentu memahami jalur penularan dan cara pencegahannya.
Penelitian Purba, Saragih, dan Octavia (2021) menunjukkan bahwa edukasi teman sebaya dapat meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS. Sebelum intervensi, responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang, sedangkan setelah edukasi diberikan, berada dalam kategori pengetahuan baik. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi yang sesuai dengan karakteristik remaja dapat membantu meningkatkan pemahaman mereka.
Bagaimana HIV Menular?
HIV menular melalui cairan tubuh tertentu yang mengandung virus dalam jumlah yang cukup, terutama darah, air mani, cairan vagina, cairan rektal (cairan yang keluar dari anus), dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui beberapa jalur.
Pertama, melalui hubungan seksual yang berisiko, khususnya hubungan seksual vaginal atau anal tanpa perlindungan yang memadai dengan orang yang memiliki HIV dan dapat menularkan virus. Kedua, melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian apabila alat tersebut terkontaminasi darah yang mengandung HIV. Ketiga, melalui darah yang tidak aman, misalnya akibat penggunaan alat medis yang tidak steril. Keempat, HIV dapat ditularkan dari ibu kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Pemeriksaan dan penanganan medis yang tepat dapat mengurangi risiko penularan tersebut.
Sebaliknya, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari, seperti bersalaman, berpelukan, berbagi makanan, menggunakan toilet yang sama, atau duduk berdekatan. HIV juga tidak menyebar melalui keringat, air mata, maupun gigitan nyamuk.
Pemahaman mengenai jalur penularan ini penting untuk mencegah infeksi sekaligus menghindari diskriminasi. Mengucilkan seseorang hanya karena status HIV-nya bukanlah tindakan pencegahan yang tepat. Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan kesempatan untuk menjalani kehidupan sosial tanpa stigma.
Gejala HIV dan Dampaknya terhadap Tubuh
HIV perlu diwaspadai karena gejalanya tidak selalu terlihat pada tahap awal. Sebagian orang mengalami keluhan menyerupai flu, seperti demam, sakit tenggorokan, ruam kulit, atau pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, sebagian lainnya tidak merasakan gejala dalam waktu lama.
Farozi, Marlina, dan Andini (2024), dalam penelitian mengenai edukasi pencegahan HIV/AIDS pada remaja di SMAN 1 Cibitung, membahas sejumlah gejala yang dapat ditemukan pada orang dengan HIV/AIDS, antara lain demam, nyeri ketika menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam kulit, diare, batuk, penurunan berat badan, dan hilangnya nafsu makan. Keluhan yang berlangsung lama juga dapat mencakup demam berkepanjangan, diare kronis, batuk menetap, tuberkulosis (TBC), serta infeksi jamur pada mulut atau tenggorokan.
Gejala tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan status HIV karena dapat pula disebabkan oleh penyakit lain. Pemeriksaan HIV tetap diperlukan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi.
Dampak HIV terutama berkaitan dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Virus menyerang sel CD4 (sel kekebalan tubuh) dan memanfaatkannya untuk memperbanyak diri. Apabila infeksi tidak dikendalikan, jumlah atau fungsi sel tersebut dapat menurun sehingga tubuh lebih sulit melawan berbagai penyakit.
Ketika daya tahan tubuh melemah, risiko mengalami infeksi oportunistik meningkat. Penyakit seperti TBC dan infeksi jamur tertentu dapat menjadi masalah yang lebih serius pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu. Selain itu, keluhan berkepanjangan seperti demam, diare, batuk, dan penurunan berat badan dapat menghambat kegiatan sehari-hari, termasuk belajar dan bersosialisasi.
Dalam kondisi tertentu, infeksi HIV yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi AIDS. Namun, hal ini bukan berarti setiap orang yang terinfeksi HIV pasti langsung mengalami AIDS. Pengobatan ARV dan pemantauan kesehatan dapat membantu menekan perkembangan virus serta menjaga fungsi kekebalan tubuh. Karena itu, pemeriksaan dan penanganan sejak dini sangat penting.
Langkah Pencegahan HIV pada Remaja
Pencegahan HIV membutuhkan pengetahuan, perilaku yang aman, serta dukungan lingkungan. Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan remaja untuk melindungi kesehatan mereka.
Pertama, mencari informasi dari sumber tepercaya. Remaja sebaiknya tidak langsung mempercayai informasi kesehatan yang beredar di media sosial. Informasi dapat diperoleh melalui tenaga kesehatan, lembaga kesehatan, dan kegiatan edukasi di sekolah.
Kedua, mengambil keputusan yang aman dan bertanggung jawab. Remaja perlu memahami batasan diri serta tidak merasa harus mengikuti ajakan teman yang berisiko. Menunda aktivitas seksual merupakan salah satu pilihan pencegahan. Bagi orang dewasa yang aktif secara seksual, penggunaan kondom secara benar dan konsisten dapat mengurangi risiko penularan HIV.
Ketiga, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian. Jarum atau alat suntik yang terkontaminasi darah dapat menjadi perantara penularan. Penggunaan peralatan medis yang steril juga merupakan bagian penting dari pencegahan.
Keempat, memanfaatkan layanan kesehatan. Jika mengalami kemungkinan paparan HIV, seseorang sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan tidak menunggu munculnya gejala. Dalam kondisi tertentu, profilaksis pascapajanan atau PEP (Obat Aantiretroviral untuk mencegah HIV) dapat digunakan untuk mengurangi risiko infeksi. PEP perlu dimulai sesegera mungkin dan paling lambat 72 jam setelah kemungkinan paparan, berdasarkan penilaian tenaga kesehatan. Pemeriksaan HIV juga membantu seseorang mengetahui status infeksi dan memperoleh penanganan yang sesuai.
Kelima, memperkuat edukasi melalui teman sebaya, keluarga, dan sekolah. Teman dapat menjadi sumber dukungan dan penyebar informasi yang benar. Orang tua serta guru juga perlu membangun komunikasi yang terbuka agar remaja merasa aman untuk bertanya mengenai kesehatan reproduksi tanpa takut dipermalukan.
Menghentikan Stigma terhadap Orang dengan HIV
Selain mencegah penularan, masyarakat perlu menghindari stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV. Anggapan bahwa HIV dapat menular melalui kontak sosial biasa merupakan kesalahpahaman yang dapat menyebabkan pengucilan dan diskriminasi. Padahal, seseorang dengan HIV tetap berhak memperoleh pendidikan, pertemanan, pekerjaan, dan pelayanan kesehatan yang layak.
Stigma juga dapat membuat seseorang takut menjalani pemeriksaan atau mencari pengobatan. Oleh sebab itu, edukasi perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Remaja dapat berperan dengan tidak menyebarkan mitos, menghargai privasi orang lain, dan memberikan dukungan kepada siapa pun yang membutuhkan.
Kenali Risikonya, Lindungi Diri, Hentikan Stigma
HIV merupakan persoalan kesehatan yang perlu dipahami oleh remaja sejak dini. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, dapat meningkatkan risiko infeksi lain, dan pada tahap lanjut dapat berkembang menjadi AIDS apabila tidak ditangani. Karena gejalanya tidak selalu muncul, pemeriksaan merupakan langkah penting untuk mengetahui status infeksi.
Berbagai penelitian yang dibahas menunjukkan bahwa akses informasi dan edukasi berperan dalam meningkatkan pengetahuan serta mendukung perilaku pencegahan HIV/AIDS. Oleh karena itu, remaja perlu memperoleh informasi yang akurat, dukungan keluarga dan sekolah, serta akses terhadap layanan kesehatan yang ramah dan tidak menghakimi.
Melindungi diri dari HIV bukan hanya tentang menghindari risiko penularan, tetapi juga tentang membangun kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami fakta, mengambil keputusan yang aman, dan menghentikan stigma, remaja dapat ikut menciptakan lingkungan yang lebih sehat, peduli, dan mendukung masa depan generasi muda.
