Konten dari Pengguna

Sholat Tarawih dan Witir dalam Perspektif Imam Syafii

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Nabil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi ini di buat oleh penulis dengan ai
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi ini di buat oleh penulis dengan ai

Sholat tarawih dan witir merupakan ibadah malam yang khas di bulan Ramadan, namun praktik pelaksanaannya di masyarakat sering kali memunculkan pertanyaan fikih yang belum sepenuhnya terjawab dalam diskusi publik. Salah satu persoalan yang jarang dibahas secara mendalam adalah bagaimana hubungan antara tarawih dan witir dalam perspektif mazhab Syafii, khususnya terkait status witir sebagai penutup sholat malam, boleh tidaknya sholat tahajud setelah witir, serta hukum berjamaah witir di luar Ramadan. Penelitian terhadap kitab-kitab turats Syafiiyah menunjukkan adanya nuansa pendapat yang perlu diluruskan agar praktik ibadah masyarakat lebih sesuai dengan kaidah fikih yang mu’tamad (diandalkan).

Menurut Imam Syafii dan mayoritas ulama Syafiiyah, sholat witir hukumnya sunnah muakkadah, bukan wajib. Artinya, sholat ini sangat dianjurkan namun tidak berdosa jika ditinggalkan. Waktu pelaksanaannya sama dengan waktu tarawih, yakni setelah sholat Isya hingga sebelum terbit fajar. Namun, dalam konteks Ramadan, witir disunnahkan berjamaah setelah tarawih sebagai syiar Islam, berbeda dengan luar Ramadan yang lebih utama dikerjakan sendiri di akhir malam.

Artikel ini membahas temuan penelitian fikih Syafiiyah terkait tarawih dan witir, serta implikasinya bagi praktik ibadah umat Islam kontemporer.

Status Hukum Witir dalam Mazhab Syafii

Mayoritas ulama mazhab Syafii berpendapat bahwa sholat witir adalah sunnah muakkadah, bukan wajib. Pendapat ini merujuk pada konsensus mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya. Dengan demikian, jika dikerjakan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa.

Imam Syafii sendiri menegaskan bahwa witir bukan kewajiban, melainkan anjuran kuat yang sebaiknya tidak ditinggalkan kecuali ada uzur. Hal ini berbeda dengan mazhab Hanafi yang mewajibkan witir, sehingga dalam Syafiiyah tidak ada konsekuensi dosa bagi yang meninggalkannya.

Witir Berjamaah Setelah Tarawih

Dalam mazhab Syafii, witir pada dasarnya tidak disunnahkan berjamaah kecuali di bulan Ramadan. Pada bulan suci ini, witir dianjurkan dilaksanakan berjamaah setelah tarawih sebagai bentuk syiar Islam dan penguatan ibadah kolektif. Para ulama Syafiiyah sepakat bahwa jika tarawih dianjurkan berjamaah, maka witir setelahnya pun dianjurkan berjamaah.

Namun, di luar Ramadan, witir lebih utama dikerjakan sendiri di akhir malam, sesuai hadis Nabi yang menganjurkan agar witir menjadi penutup sholat malam.[6][9]

Bolehkah Tahajud Setelah Witir?

Salah satu pertanyaan fikih yang sering muncul adalah apakah boleh sholat tahajud setelah witir? Dalam mazhab Syafii, jawabannya adalah boleh. Para ulama Syafiiyah menjelaskan bahwa perintah witir sebagai penutup malam bersifat anjuran, bukan kewajiban, sehingga tidak menghalangi sholat sunnah lainnya setelahnya.

Jika seseorang telah witir setelah tarawih berjamaah di masjid, lalu bangun malam untuk tahajud, ia tidak perlu mengulang witir lagi menurut qaul ashah (pendapat terkuat) dalam mazhab Syafii. Cukup menunaikan tahajud sesuai syariat tanpa witir ulang.

Waktu Pelaksanaan Tarawih dan Witir

Menurut mazhab Syafii, waktu tarawih sama dengan waktu witir, yakni setelah sholat Isya hingga sebelum terbit fajar. Imam Syafii menegaskan bahwa tarawih harus dilakukan setelah Isya dan tidak boleh melebihi waktu terbit fajar. Witir disunnahkan diakhirkan dari tarawih, namun tetap dalam rentang waktu yang sama.

Sholat tarawih dan witir dalam perspektif Imam Syafii memiliki kedudukan yang jelas: keduanya sunnah muakkadah, dengan witir sebagai penutup sholat malam yang sangat dianjurkan. Witir berjamaah setelah tarawih khusus disunnahkan di Ramadan sebagai syiar Islam, sementara di luar Ramadan lebih utama dikerjakan sendiri di akhir malam. Bolehnya tahajud setelah witir tanpa mengulang witir lagi merupakan pendapat terkuat dalam mazhab Syafii, sehingga umat Islam tidak perlu ragu untuk tetap tahajud meski telah witir setelah tarawih. Pemahaman yang benar terhadap kaidah fikih Syafiiyah ini diharapkan dapat meluruskan praktik ibadah masyarakat agar lebih sesuai dengan tuntunan imam mazhab.