Membangun Dunia Virtual untuk Kehidupan Sehari-hari

Mahasiswa S1 Teknik Telekomunikasi di Institut Teknologi Telkom Purwokerto.
Tulisan dari Muhammad Naufal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pandemi COVID-19 telah mengubah kebiasaan hidup manusia secara drastis, dengan banyak aktivitas yang pindah ke dunia online. Sebagai contoh, banyak perusahaan yang sekarang menggunakan sistem kerja dari rumah, sementara rapat dan webinar menjadi lebih umum. Selain itu, bahkan sekolah dan hiburan seperti film juga banyak yang beralih ke versi online. Di tengah situasi pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir, metaverse menjadi solusi yang menarik karena merupakan alternatif kehidupan di luar dunia fisik. Metaverse adalah gabungan dari berbagai teknologi seperti konferensi video, media sosial, hiburan, game, pendidikan, pekerjaan, dan mata uang kripto. Menurut sebuah riset, metaverse memberikan manfaat yang signifikan bagi kehidupan manusia. Contohnya adalah kegiatan kampanye kepresidenan 2020 Joe Biden yang diselenggarakan di Animal Crossing Nintendo, wisuda mahasiswa UC Berkeley di Minecraft, dan perpustakaan virtual yang dikembangkan oleh Standford University di Second Life.
Apa itu Metaverse?
Metaverse dianggap sebagai gaya hidup masa depan yang lebih efisien, di mana manusia dapat terhubung dalam waktu nyata tanpa terikat oleh batas geografis. Di masa ini, media sosial seperti yang kita kenal saat ini mungkin sudah terlihat sebagai teknologi yang ketinggalan zaman. Namun, meskipun metaverse menjanjikan banyak keuntungan, ia juga memiliki potensi masalah yang besar. Pembicaraan mengenai metaverse semakin intens setelah Mark Zuckerberg pada Juni tahun lalu mengumumkan perubahan nama perusahaannya dari Facebook menjadi Meta. Perubahan ini dilakukan agar perusahaan tersebut dapat dianggap sebagai perusahaan teknologi, bukan hanya media sosial. Meta akan fokus pada pengembangan metaverse dengan tujuan untuk menghubungkan manusia, menemukan komunitas, dan mengembangkan bisnis.
Metaverse milik Meta, yang disebut Horizon Worlds, resmi diluncurkan pada Desember 2021. Horizon Worlds menawarkan kehidupan virtual yang terasa nyata dengan menggunakan teknologi realistic presence yang membuat pengguna merasa seperti berada di dunia nyata. Untuk dapat mengakses Horizon Worlds, pengguna harus menggunakan kacamata Oculus dan sarung tangan untuk mengontrol gerakan. Dengan demikian, pengguna seolah berada di dalam internet, bukan hanya melihatnya melalui layar gadget seperti yang terjadi saat ini.
Selain Meta, beberapa raksasa teknologi lain juga sedang membangun metaverse mereka sendiri, di antaranya adalah Apple, Google, dan Microsoft. Semua perusahaan tersebut sedang bersaing dengan perusahaan game dan hiburan yang telah lebih dulu memimpin pengembangan metaverse, seperti Fortnite, Roblox, Niantic, dan Decentraland. Di masa depan, akan lebih mudah bagi pengguna jika masing-masing penyedia layanan metaverse memberikan fleksibilitas untuk memungkinkan pengguna berganti-ganti platform dan membawa aksesoris avatar yang mereka miliki. Dengan demikian, pengguna dapat dengan mudah berpindah antar platform tanpa harus memulai dari awal lagi.
Metaverse ini dianggap sebagai gaya hidup masa depan yang lebih efisien, karena pengguna dapat mengaksesnya melalui kacamata virtual reality dan sarung tangan untuk mengontrol gerakan, sehingga terasa seperti berada di dunia nyata. Perusahaan teknologi besar seperti Meta, Apple, Google, dan Microsoft sedang membangun metaverse mereka sendiri, bersaing dengan perusahaan game dan hiburan yang telah lebih dulu memimpin pengembangan metaverse, seperti Fortnite, Roblox, Niantic, dan Decentraland.
Secara umum, metaverse memiliki banyak keuntungan yang menarik. Pengguna dapat terhubung dengan orang lain di seluruh dunia tanpa terbatas oleh batas geografis, membuat komunikasi dan interaksi lebih mudah. Selain itu, metaverse juga dapat menjadi tempat yang aman bagi pengguna untuk berkumpul dan bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan minat mereka. Metaverse juga dapat menjadi tempat yang ideal untuk mengembangkan bisnis, dengan menawarkan platform yang terhubung dengan jutaan pengguna.
Namun, metaverse juga memiliki potensi masalah yang besar. Salah satunya adalah masalah privasi, di mana pengguna mungkin merasa cemas tentang bagaimana data mereka digunakan oleh perusahaan yang mengelola metaverse. Ada juga kekhawatiran tentang bagaimana metaverse dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan kepribadian pengguna, terutama bagi anak-anak dan remaja yang belum cukup matang untuk mengelola waktu dan interaksi mereka dengan benar.
Sebagai kesimpulan, metaverse merupakan teknologi yang memiliki banyak potensi dan memberikan banyak keuntungan bagi pengguna. Namun, perlu diingat bahwa metaverse juga memiliki potensi masalah yang perlu dipertimbangkan, seperti masalah privasi dan pengaruh terhadap perkembangan sosial dan kepribadian pengguna. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk selalu memperhatikan dan memahami risiko yang terkait dengan metaverse, serta mengelola waktu dan interaksi dengan benar agar tidak terlalu tergantung pada teknologi ini.
Masuki Dunia Metaverse Melihat Pandangan ke Masa Depan
Kecintaan terhadap metaverse telah menyebabkan banyak brand terkenal di dunia ikut serta dalam dunia tersebut. Sebagai contoh, Gucci telah mulai menggunakan non-fungible token (NFT) dalam koleksinya. NFT adalah aset digital yang dapat berupa pakaian, karya seni, video, atau audio, dan koleksi khusus Gucci berupa NFT ini menawarkan sensasi kemewahan digital yang hanya bisa diperoleh di metaverse. Indonesia juga tidak mau ketinggalan dalam kegemparan metaverse. Penyanyi terkenal Syahrini baru-baru ini mengeluarkan NFT hijab pertama di dunia pada 14 Desember 2021, dan karya seni digital berupa avatar dirinya tersebut habis terjual hanya dalam hitungan jam. Selain bisnis NFT, beberapa platform metaverse seperti Sandbox dan Decentraland juga menyediakan fitur jual beli tanah virtual menggunakan mata uang kripto. Di atas tanah virtual tersebut, dapat dibangun properti virtual seperti kantor atau mall yang kemudian bisa dijual kembali atau disewakan.
Mata uang kripto juga telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan metaverse. Nilai mata uang kripto Decentraland MANA, misalnya, melonjak sebesar 20% dari $2,73 menjadi $3,27 saat Samsung membuka toko virtual pertamanya di Decentraland pada 6 Januari 2022. Tidak heran jika banyak pebisnis yang bersaing untuk memasuki metaverse, karena dianggap sebagai lahan bisnis digital masa depan yang menjanjikan.
NFT adalah aset digital yang dapat berupa pakaian, karya seni, video, atau audio, dan menawarkan sensasi kemewahan digital yang hanya bisa diperoleh di metaverse. Selain NFT, beberapa platform metaverse juga menyediakan fitur jual beli tanah virtual menggunakan mata uang kripto, di mana pengguna dapat membeli atau menjual tanah virtual dan membangun properti virtual di atasnya.
Mata uang kripto juga telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan metaverse. Nilai mata uang kripto Decentraland MANA, misalnya, melonjak sebesar 20% saat Samsung membuka toko virtual pertamanya di Decentraland. Hal ini menunjukkan bahwa mata uang kripto dapat menjadi alat tukar yang efektif di dunia metaverse, dan meningkatkan nilai dari aset digital yang dijual atau dibeli.
Secara umum, kecintaan terhadap metaverse telah menyebabkan banyak brand terkenal dan pebisnis tertarik untuk memasuki dunia tersebut. Metaverse dianggap sebagai lahan bisnis digital masa depan yang menjanjikan, terutama dengan adanya NFT dan mata uang kripto yang dapat membantu meningkatkan nilai dari aset digital. Namun, seperti semua bisnis, memasuki dunia metaverse juga memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan. Pengguna harus memahami risiko yang terkait dengan investasi NFT atau mata uang kripto, dan selalu melakukan due diligence sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset tersebut. Selain itu, pengguna juga harus memperhatikan risiko privasi yang terkait dengan penggunaan metaverse, terutama jika membeli atau menjual aset digital yang berisi informasi pribadi.
Risiko di Masa Depan : Menjelajahi Potensi Masalah Metaverse
Metaverse merupakan dunia virtual yang dianggap lebih realistis, praktis, dan fantastis daripada dunia nyata. Misalnya, jika seluruh layanan perbankan dapat diakses secara virtual, maka kita tidak perlu menghabiskan waktu mengantri di customer service hanya untuk berganti kartu debit atau mencetak buku tabungan, karena semua bisa dilakukan di dalam ruang virtual tanpa harus keluar rumah.
Metaverse memang dianggap sebagai teknologi yang sangat bermanfaat bagi manusia, terutama bagi penyandang disabilitas yang keterbatasan fisik dalam melakukan mobilitas di dunia nyata. Namun, inklusivitas metaverse masih dipertanyakan, terutama bagi mereka yang mengalami keterbatasan penglihatan dan bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap internet. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan metaverse untuk mempertimbangkan keterbatasan tersebut dalam pengembangan platform mereka.
Selain itu, potensi adiksi terhadap metaverse juga dianggap lebih besar daripada adiksi terhadap media sosial. Menurut sebuah riset, kecanduan terhadap teknologi dan internet seperti media sosial, smartphone, dan game dapat mengarah pada depresi. Namun, masih perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui dampaknya jika seseorang mengalami ketagihan hidup di dalam metaverse, seperti apakah pertemuan tatap muka akan terasa canggung dan kikuk dibanding interaksi manusia secara virtual.
Tidak menutup kemungkinan bahwa para penduduk metaverse juga akan terpolarisasi akibat algoritma yang dapat menyebabkan misinformasi, cyberbullying, dan perpecahan. Belum lagi masalah kejahatan siber lintas negara, pencurian data pribadi, dan pelecehan seksual secara virtual yang mungkin akan menjadi semakin rumit. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan metaverse untuk mempertimbangkan potensi masalah tersebut dalam pengembangan platform mereka.
Risiko di Masa Depan: Menjelajahi Potensi Masalah Metaverse
Metaverse adalah dunia virtual yang dianggap lebih realistis, praktis, dan fantastis daripada dunia nyata. Misalnya, jika seluruh layanan perbankan dapat diakses secara virtual, maka kita tidak perlu menghabiskan waktu mengantri di customer service hanya untuk berganti kartu debit atau mencetak buku tabungan, karena semua bisa dilakukan di dalam ruang virtual tanpa harus keluar rumah. Metaverse memang dianggap sebagai teknologi yang sangat bermanfaat bagi manusia, terutama bagi penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik dalam melakukan mobilitas di dunia nyata. Namun, inklusivitas metaverse masih dipertanyakan, terutama bagi mereka yang mengalami keterbatasan penglihatan dan bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap internet. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan metaverse untuk mempertimbangkan keterbatasan tersebut dalam pengembangan platform mereka.
Selain itu, potensi adiksi terhadap metaverse juga dianggap lebih besar daripada adiksi terhadap media sosial. Menurut sebuah riset, kecanduan terhadap teknologi dan internet seperti media sosial, smartphone, dan game dapat mengarah pada depresi. Namun, masih perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui dampaknya jika seseorang mengalami ketagihan hidup di dalam metaverse, seperti apakah pertemuan tatap muka akan terasa canggung dan kikuk dibanding interaksi manusia secara virtual.
Tidak menutup kemungkinan bahwa para penduduk metaverse juga akan terpolar polarisasi akibat algoritma yang dapat menyebabkan misinformasi, cyberbullying, dan perpecahan. Belum lagi masalah kejahatan siber lintas negara, pencurian data pribadi, dan pelecehan seksual secara virtual yang mungkin akan menjadi semakin rumit. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan metaverse untuk mempertimbangkan potensi masalah tersebut dalam pengembangan platform mereka, serta memastikan bahwa pengalaman pengguna di dalam metaverse tetap aman dan menyenangkan.
Meskipun metaverse memiliki banyak potensi masalah, tidak berarti bahwa manfaatnya tidak akan terasa. Sebaliknya, jika metaverse dikelola dengan baik dan diatur dengan tepat, maka ia dapat menjadi solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi manusia saat ini, seperti mobilitas terbatas, kekurangan akses terhadap layanan, dan terbatasnya interaksi sosial. Namun, adalah tanggung jawab kita semua untuk memastikan bahwa metaverse tidak hanya menjadi sekadar fantasi, tetapi juga menjadi dunia yang sejahtera bagi semua orang. Oleh karena itu, negara perlu segera menyediakan payung hukum berupa Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang juga mencakup pengaturan di ranah virtual untuk menangani potensi masalah yang mungkin terjadi di dalam metaverse.
Sebagai tambahan, penting juga untuk memahami bahwa metaverse bukanlah sebuah dunia yang terisolasi dari dunia nyata. Metaverse adalah bagian dari kehidupan manusia yang terintegrasi dengan dunia nyata, dan segala keputusan yang diambil di dalam metaverse memiliki dampak juga di dunia nyata. Oleh karena itu, penting bagi pengguna metaverse untuk memahami tanggung jawab yang harus mereka pikul di dalam metaverse, termasuk tanggung jawab untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain di dunia nyata maupun di dunia virtual. Jadi, meskipun metaverse menawarkan banyak keuntungan bagi kehidupan manusia, penting untuk memahami bahwa ada batasan yang harus diikuti agar metaverse tidak menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Dengan memahami risiko yang terkait dengan penggunaan metaverse, kita dapat memanfaatkannya dengan bijaksana dan sehat, sambil terus menikmati keuntungan yang ditawarkannya.
Dari penjelasan tersebut jika saya boleh menyimpulkan bahwa negara perlu segera menyediakan payung hukum berupa Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang juga mencakup pengaturan di ranah virtual untuk menangani potensi masalah yang mungkin terjadi di dalam metaverse. Sebagai tambahan, penting juga untuk memahami bahwa metaverse bukanlah sebuah dunia yang terisolasi dari dunia nyata, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia nyata. Oleh karena itu, penduduk metaverse harus tetap menghargai hak asasi manusia, menghargai orang lain, dan memahami bahwa tindakan di dalam metaverse juga memiliki konsekuensi di dunia nyata.
Secara keseluruhan, metaverse dianggap sebagai dunia virtual yang memiliki banyak potensi manfaat, tetapi juga memiliki risiko dan masalah yang perlu dipertimbangkan. Penting bagi penyedia layanan metaverse untuk memastikan bahwa pengalaman pengguna di dalam metaverse tetap aman, inklusif, dan sesuai dengan norma dan etika yang berlaku di dunia nyata. Negara juga perlu menyediakan payung hukum yang memadai untuk menangani masalah-masalah yang mungkin terjadi di dalam metaverse. Namun, penduduk metaverse juga harus memahami bahwa metaverse bukanlah dunia yang terisolasi dari dunia nyata, dan tindakan di dalam metaverse juga memiliki konsekuensi di dunia nyata.
Pendapat Penulis Tentang Dunia Virtual
Menurut pendapat saya tentang dunia virtual atau yang lebih di kenal dengan metaverse, membangun dunia virtual untuk kehidupan sehari-hari merupakan sebuah ide yang menarik dan menggiurkan, tetapi juga memiliki risiko yang harus dipertimbangkan. Salah satu risiko utama adalah masalah kepercayaan dan janji. Pada dasarnya, metaverse adalah sebuah dunia digital yang terdesentralisasi dan tidak terkendali oleh pihak manapun. Ini berarti bahwa setiap individu atau kelompok yang membangun bagian dari metaverse harus memahami bahwa mereka tidak memiliki kendali penuh atas bagaimana dunia tersebut akan digunakan atau diakses oleh orang lain.
Kepercayaan menjadi sangat penting dalam metaverse, karena orang-orang akan mempercayai dan mempercayai kepada orang lain untuk memenuhi janji-janji yang dibuat dalam dunia virtual tersebut. Namun, karena metaverse terdesentralisasi, tidak ada cara untuk secara resmi mengikat seseorang atau kelompok untuk memenuhi janji mereka. Ini berarti bahwa individu atau kelompok yang membangun bagian dari metaverse harus memahami bahwa risiko kegagalan untuk memenuhi janji atau kehilangan kepercayaan dari orang lain merupakan risiko yang harus dipertimbangkan.
Selain itu, metaverse juga memiliki risiko lain yang harus dipertimbangkan, seperti masalah privasi dan keamanan. Karena metaverse adalah dunia digital yang terdesentralisasi, tidak ada cara untuk menjamin privasi atau keamanan pada tingkat yang sama seperti dunia nyata. Ini berarti bahwa individu atau kelompok yang membangun bagian dari metaverse harus memahami bahwa risiko privasi dan keamanan merupakan risiko yang harus dipertimbangkan.
Namun, meskipun ada risiko yang harus dipertimbangkan dalam membangun dunia virtual untuk kehidupan sehari-hari, ini tidak berarti bahwa ide tersebut tidak layak untuk dipertimbangkan. Metaverse dapat memberikan banyak manfaat, seperti memungkinkan orang untuk terhubung dan berkomunikasi dengan cara yang tidak mungkin dilakukan dalam dunia nyata, atau memungkinkan orang untuk mengeksplorasi dunia yang tidak mungkin ada di dunia nyata. Oleh karena itu, penting untuk memahami risiko-risiko yang terkait dengan membangun dunia virtual untuk kehidupan sehari-hari.
