Konten dari Pengguna

Frugal Living Pelit yang Berkelas atau Hemat yang Tersiksa?

Muhammad Nawal

Muhammad Nawal

mahasiswa

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Nawal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu menabung emas. Foto: Nuttapong punna/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menabung emas. Foto: Nuttapong punna/Shutterstock

Pernahkah Anda merasa sangat ingin belanja barang-barang kecil yang mewah saat isi dompet sedang kritis atau saat tekanan hidup sedang tinggi-tingginya? Dalam dunia ekonomi psikologi, fenomena unik ini dikenal dengan istilah lipstick effect. Istilah ini lahir dari fakta historis bahwa selama masa depresi ekonomi besar-besaran.

Penjualan kosmetik, khususnya lipstik merah justru melonjak tajam. Mengapa? Karena ketika manusia tidak mampu membeli barang mewah yang besar seperti mobil atau rumah, mereka akan mencari pelarian lewat kemewahan kecil demi instan dopamin dan rasa nyaman sementara.

Di zaman sekarang, lipstick effect bermutasi menjadi kebiasaan coffee break mahal, checkout keranjang belanja online di tengah malam, atau berburu gadget terbaru demi validasi sosial. Alhasil, kita sering terjebak dalam lingkaran setan: stres kerja, belanja untuk meredakan stres, lalu stres lagi melihat tagihan akhir bulan. Di sinilah tren frugal living hadir menawarkan jalan keluar. Namun, sebuah pertanyaan besar sering muncul: apakah gaya hidup ini adalah sebuah pilihan pelit yang berkelas, atau justru cara instan untuk membuat diri sendiri hidup hemat tapi tersiksa?

Banyak orang salah kaprah dan menyamakan frugal living dengan sifat pelit. Padahal, keduanya berdiri di atas niat yang sangat berbeda. Orang yang pelit biasanya enggan mengeluarkan uang bahkan untuk kebutuhan dasar yang penting atau kenyamanan orang lain, hanya demi melihat angka di rekening terus bertambah. Fokus mereka adalah menimbun.

Sebaliknya, frugal living adalah tentang mindful spending, seni mengalokasikan uang secara sadar.

Zora A. Sukabdi, seorang pakar psikologi, menjelaskan bahwa frugal living berarti sadar akan pengeluaran dan fokus pada prioritas keuangan. Seseorang harus menanamkan tujuan keuangan jangka panjang (seperti investasi atau persiapan pensiun dini) dan menyelaraskan gaya hidupnya untuk mencapai tujuan tersebut tanpa membeli barang yang tidak perlu.

Senada dengan hal itu, pakar keuangan dunia dalam buku The Psychology of Money mengatakan "True wealth is what you don't see (kekayaan sejati adalah apa yang tidak Anda lihat)".

Housel mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah mobil mewah atau pakaian bermerek yang dipamerkan, melainkan kebebasan, investasi, dan tabungan yang memberi kita kendali penuh atas waktu kita. Ini adalah cara hidup hemat yang sangat berkelas, karena kontrol keuangan ada penuh di tangan kita, bukan didikte oleh gengsi.

Jebakan "Frugal" yang Berujung Siksaan

Ilustrasi Tabungan atau Menabung. Foto: Shutterstock

Gaya hidup ini baru akan terasa menyiksa jika Anda salah dalam menerapkannya, atau jatuh ke dalam lubang extreme frugality.

Mari kita lihat studi kasus nyata dari Aries (28 tahun), seorang pekerja kantoran di Jakarta. Tergiur oleh tren frugal living di media sosial yang menjanjikan "pensiun muda", Aries memotong anggaran hidupnya secara radikal. Ia berhenti bersosialisasi dengan temannya, hanya makan mi instan dan gorengan setiap hari demi menekan pengeluaran makan di bawah Rp 15.000, dan menolak berobat saat badannya mulai meriang.

Hasilnya? Setelah enam bulan, Aries memang berhasil menabung 70% dari gajinya. Namun, ia berakhir di rumah sakit karena malnutrisi dan menderita gejala financial anxiety (kecemasan finansial) yang parah. Biaya rumah sakit yang membengkak justru melahap habis semua uang yang sudah ia hemat dengan susah payah. Aries terjebak dalam versi hemat yang menyiksa diri sendiri.

Studi kasus Aries membuktikan kebenaran teori psikologi: ketika metode hemat dilakukan secara ekstrem, ia justru berubah menjadi penjara emosional. Penulis legendaris Amy Dacyczyn dalam The Complete Tightwad Gazette pernah memperingatkan:

"Tightwaddery without creativity is deprivation (berhemat tanpa kreativitas adalah sebuah penyiksaan/perampasan hak diri)."

Saat kita memangkas semua sumber kebahagiaan tanpa mencari alternatif yang kreatif, kita hanya sedang menyiksa mental. Frugal living yang sehat justru memanfaatkan celah dari lipstick effect secara bijak. Kita tidak perlu membuang semua kesenangan kecil, melainkan mengubah caranya:

  1. Aturan 24 Jam: Saat hasrat belanja impulsif muncul, tunggulah selama 24 jam. Sering kali, keinginan menggebu-gebu itu akan hilang dengan sendirinya.

  2. Buat Anggaran "Kesenangan": Jangan hapus anggaran hiburan menjadi nol. Sisihkan 5-10% pendapatan khusus untuk mengapresiasi diri sendiri tanpa rasa bersalah.

  3. Fokus pada Pengalaman, Bukan Barang: Alihkan kebahagiaan dari memiliki barang bermerek ke aktivitas yang memperkaya jiwa, seperti memasak bersama orang terdekat atau menikmati kopi seduh sendiri di rumah sambil membaca buku.

Pada akhirnya, frugal living tidak akan pernah membuat Anda tersiksa jika pondasi utamanya adalah cinta pada diri sendiri dan masa depan, bukan karena rasa takut kekurangan uang. Gaya hidup ini menjadi sangat berkelas karena mengajarkan kita sebuah kebenaran fundamental yang sering kita lupakan: bahwa kedamaian pikiran dan kesehatan mental sejati tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak barang yang mampu kita pamerkan, melainkan dari seberapa merdekanya kita dari ketergantungan materi.