Indonesia Kaya Sumber Daya, Mengapa Nilai Tambahnya Masih Dinikmati Negara Lain?

Mahasiswa/Perguruan Tinggi dan Wirausaha Institusi pendidikan: Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang Profesi: Educator
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Nur Fawaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia adalah negara yang tidak pernah kehabisan cerita tentang kekayaan alam. Dari nikel, batu bara, kelapa sawit, minyak bumi, gas alam, hingga hasil laut, semuanya menjadi bagian dari kekayaan yang dimiliki negeri ini. Kita sering mendengar bahwa sumber daya alam merupakan modal besar bagi pembangunan ekonomi. Namun, ada satu pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita ajukan: apakah kekayaan tersebut benar-benar sudah memberikan nilai ekonomi yang maksimal bagi Indonesia?
Memiliki sumber daya alam yang melimpah ternyata tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi sejahtera. Kekayaan alam hanya akan menjadi kekuatan ekonomi apabila mampu diolah dan menghasilkan nilai tambah. Di sinilah persoalan Indonesia menjadi menarik. Selama bertahun-tahun, Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas sebagai salah satu sumber penerimaan ekspor. Bahan mentah keluar dari Indonesia, kemudian diproses menjadi produk yang memiliki nilai lebih tinggi.

Sederhananya, kita menjual bahan baku, sementara keuntungan yang lebih besar dapat muncul pada tahap pengolahan.
Bayangkan sebuah komoditas tambang yang diambil dari bumi Indonesia. Nilainya tentu berbeda ketika masih berupa bahan mentah dibandingkan ketika telah menjadi bahan baku industri, komponen teknologi, atau produk jadi. Semakin banyak proses produksi dilakukan di dalam negeri, semakin besar pula peluang terciptanya nilai tambah, lapangan pekerjaan, dan aktivitas ekonomi baru.
Karena itu, hilirisasi menjadi salah satu langkah penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Gagasan dasarnya sederhana: jangan terus-menerus menjual kekayaan alam dalam bentuk mentah. Olah terlebih dahulu di dalam negeri agar manfaat ekonominya dapat diperbesar.
Namun, menurut saya, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan “berapa banyak pabrik yang berhasil dibangun?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menguasai teknologi, siapa yang mendapatkan keuntungan, dan seberapa besar masyarakat Indonesia terlibat di dalamnya?
Jika industri pengolahan tumbuh tetapi teknologi masih sepenuhnya bergantung pada pihak luar, tenaga ahli lokal belum banyak terlibat, dan perusahaan dalam negeri hanya menjadi pelengkap, maka kita perlu bertanya kembali apakah proses tersebut sudah benar-benar memperkuat perekonomian nasional.
Investasi asing, tentu saja, bukan sesuatu yang harus ditolak. Indonesia membutuhkan investasi untuk membangun industri, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperoleh teknologi. Akan tetapi, investasi seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa besar modal yang masuk. Yang tidak kalah penting adalah apa yang ditinggalkan setelah investasi tersebut berjalan.
Apakah tenaga kerja Indonesia memperoleh keterampilan baru? Apakah perusahaan lokal mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok? Apakah terjadi transfer teknologi? Apakah masyarakat di sekitar kawasan industri mengalami peningkatan kesejahteraan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pembangunan ekonomi bukan sekadar tentang pertumbuhan angka investasi atau peningkatan ekspor. Pembangunan harus menghasilkan kemampuan ekonomi yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Di sinilah kualitas sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sumber daya alam. Indonesia boleh memiliki nikel dalam jumlah besar, tetapi tanpa tenaga kerja yang mampu menguasai teknologi pengolahan, kita akan terus bergantung pada pihak yang memiliki pengetahuan dan teknologi tersebut.
Artinya, sumber daya alam dan sumber daya manusia harus berjalan bersama. Pendidikan vokasi, pelatihan kerja, penelitian, pengembangan teknologi, dan penguatan keterampilan harus menjadi bagian dari strategi hilirisasi. Jangan sampai Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah, tetapi kekurangan orang yang mampu mengolahnya menjadi produk berteknologi tinggi.
Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah keterlibatan pelaku usaha dalam negeri. Pembangunan industri berskala besar seharusnya dapat menciptakan peluang bagi UMKM dan perusahaan lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok. Ketika industri besar membutuhkan barang dan jasa dari pelaku usaha dalam negeri, manfaat ekonomi akan menyebar lebih luas.
Dengan cara tersebut, sumber daya alam tidak hanya memberikan keuntungan kepada perusahaan yang mengelolanya, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Ada usaha baru yang tumbuh, tenaga kerja yang terserap, pendapatan masyarakat yang meningkat, dan aktivitas ekonomi daerah yang semakin berkembang.
Persoalan lainnya adalah pemerataan manfaat pembangunan. Daerah yang kaya sumber daya alam seharusnya tidak hanya menjadi tempat pengambilan kekayaan, sementara masyarakat di sekitarnya memperoleh manfaat yang terbatas. Pembangunan ekonomi harus mampu menciptakan hubungan yang lebih adil antara sumber daya, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Pada akhirnya, Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap kekayaan alam. Sumber daya alam bukan sekadar komoditas yang bisa dijual untuk mendapatkan devisa. Ia adalah modal pembangunan yang jumlahnya terbatas dan harus dikelola untuk menciptakan kemampuan ekonomi yang bertahan dalam jangka panjang.
Indonesia tidak seharusnya selamanya berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah bagi industri dunia. Kita harus bergerak menuju negara yang mampu mengolah, menciptakan teknologi, menghasilkan produk bernilai tinggi, dan menguasai sebagian besar rantai nilai dari sumber daya yang kita miliki sendiri.
Tentu proses tersebut tidak mudah. Hilirisasi membutuhkan modal besar, teknologi, tenaga kerja berkualitas, infrastruktur, serta kebijakan yang konsisten. Tetapi jika Indonesia ingin naik kelas dalam pembangunan ekonomi, langkah tersebut harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa banyak sumber daya alam yang berhasil kita keluarkan dari bumi, tetapi juga seberapa besar nilai yang mampu kita ciptakan dari sumber daya tersebut.
Kita tidak kekurangan sumber daya. Yang harus diperkuat adalah kemampuan untuk menciptakan nilai tambah dari sumber daya tersebut.
Indonesia sudah memiliki kekayaan alam. Tantangannya sekarang adalah memastikan kekayaan itu tidak berhenti sebagai angka dalam laporan ekspor, tetapi berubah menjadi industri yang kuat, teknologi yang berkembang, pekerjaan yang berkualitas, dan kesejahteraan bagi masyarakat.
