Pandai Bicara Belum Tentu Bisa Mendengar dan Berpikir Kritis

Mahasiswa manajemen S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Ponco tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Public speaking menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa dalam menyampaikan gagasan, mendengarkan, dan berpikir kritis.
Di ruang kelas perkualiahaan, kemampuan public speaking sering kali menjadi hal yang paling mudah terlihat. Mahasiswa yang berani menyampaikan pendapat, mampu menjelaskan materi dengan lancar, dan percaya diri ketika melakukan presentasi kerap dianggap memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Namun, apakah seseorang yang pandai berbicara otomatis mampu berkomunikasi secara efektif?

Pertanyaan ini penting untuk direnungkan, terutama oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dalam dunia ekonomi dan bisnis, komunikasi bukan hanya tentang bagaimana seseorang menyampaikan gagasan, melainkan juga bagaimana ia memahami orang lain, menilai informasi, dan mengambil keputusan secara tepat. Karena itu, kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis seharusnya mendapat perhatian yang sama dengan kemampuan berbicara dalam pembelajaran public speaking.
Public Speaking Bukan Sekadar Berbicara
Selama ini, public speaking sering dipahami sebagai kemampuan berbicara di depan banyak orang, menguasai panggung, menjaga kontak mata, dan menyampaikan materi dengan percaya diri. Semua itu memang penting. Namun, komunikasi yang efektif tidak berhenti ketika seseorang selesai berbicara. Komunikasi juga menuntut kemampuan memahami pesan, mengevaluasi informasi, dan memberikan tanggapan yang sesuai.
Emanuele Fantini (2024), dalam artikel Podcasting for Interdisciplinary Education: Active Listening, Negotiation, Reflexivity, and Communication Skills, membahas bagaimana kegiatan podcast atau siniar dapat digunakan dalam pembelajaran untuk melatih keterampilan komunikasi, mendengarkan aktif, negosiasi, dan refleksi. Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan komunikasi dapat dikembangkan melalui kegiatan yang menuntut peserta bukan hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga berinteraksi dan menanggapi perspektif orang lain.
Gagasan ini relevan dengan kehidupan mahasiswa. Dalam diskusi kelompok, misalnya, seseorang mungkin sangat aktif berbicara, tetapi terus memotong penjelasan temannya. Ketika mendapat kritik, ia langsung membantah tanpa berusaha memahami alasan di balik kritik tersebut. Ia memang mampu berbicara, tetapi belum tentu mampu membangun komunikasi yang produktif.
Situasi semacam ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara tidak selalu sejalan dengan kemampuan berkomunikasi. Public speaking seharusnya tidak hanya menjadi ajang untuk menunjukkan siapa yang paling percaya diri, tetapi juga ruang untuk bertukar gagasan, menguji pemikiran, dan memahami sudut pandang yang berbeda.
Mendengarkan Bukan Berarti Sekadar Diam
Mendengarkan sering dianggap sebagai aktivitas pasif. Padahal, mendengarkan dengan baik membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kemauan untuk memahami maksud pembicara sebelum memberikan tanggapan.
Oyeronke Christiana Paramole dan rekan-rekannya (2024), dalam artikel The Impact of Active Listening on Student Engagement and Learning Outcomes in Educational Settings, membahas landasan konseptual mendengarkan aktif serta perannya dalam komunikasi antara pendidik dan mahasiswa. Artikel tersebut menekankan pentingnya mendengarkan aktif dalam membangun komunikasi yang bermakna dan lingkungan pembelajaran yang menghargai suara setiap individu.
Dalam konteks perkuliahan, mendengarkan aktif dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak memotong pembicaraan, memperhatikan penjelasan teman, mengajukan pertanyaan untuk memperjelas informasi, dan memastikan bahwa pesan yang diterima benar-benar dipahami.
Misalnya, ketika seorang mahasiswa mempresentasikan strategi pemasaran, mahasiswa lain sebaiknya tidak terburu-buru menolak gagasan tersebut. Ia perlu memahami alasan di balik strategi yang diajukan, kemudian mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya sebelum memberikan kritik.
Mendengarkan aktif bukan berarti harus selalu menyetujui pendapat orang lain. Justru, dengan mendengarkan secara utuh, seseorang memiliki dasar yang lebih baik untuk menyampaikan persetujuan maupun ketidaksetujuan.
Dalam hal ini, mendengarkan merupakan bentuk penghargaan terhadap lawan bicara sekaligus langkah awal untuk menghasilkan tanggapan yang lebih relevan. Perbedaan pendapat pun dapat menjadi kesempatan untuk belajar, bukan sekadar pemicu perdebatan.
Berpikir Kritis agar Tidak Sekadar Pandai Berargumen
Mendengarkan saja belum cukup tanpa kemampuan berpikir kritis. Di tengah banyaknya informasi dan pendapat, seseorang tidak seharusnya langsung menerima setiap pernyataan sebagai kebenaran. Informasi perlu diperiksa, alasan perlu dievaluasi, dan kesimpulan perlu dibuat berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.
Peter A. Facione (1990), melalui laporan Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction yang dikenal sebagai The Delphi Report, menjelaskan berpikir kritis sebagai penilaian yang terarah dan melibatkan interpretasi, analisis, evaluasi, serta penarikan kesimpulan. Laporan tersebut disusun berdasarkan proses konsensus yang melibatkan 46 ahli dari berbagai bidang.
Pemikiran Facione menegaskan bahwa berpikir kritis bukan berarti selalu mencari kesalahan orang lain. Sebaliknya, berpikir kritis menuntut seseorang untuk memeriksa alasan, bukti, dan asumsi yang mendasari suatu pernyataan sebelum menerima atau menolaknya.
Sebagai contoh, dalam presentasi mengenai strategi pemasaran, seorang mahasiswa menyatakan bahwa penggunaan media sosial pasti meningkatkan penjualan produk. Mahasiswa yang hanya menerima informasi tersebut mungkin langsung menyetujuinya. Namun, mahasiswa yang berpikir kritis akan mempertanyakan dasar pernyataan itu. Apakah terdapat data yang menunjukkan peningkatan penjualan? Apakah peningkatan tersebut benar-benar disebabkan oleh media sosial? Bagaimana pengaruh harga, kualitas produk, dan karakteristik konsumen?
Pertanyaan tersebut bukan bertujuan menjatuhkan pembicara, melainkan menguji kualitas argumen yang disampaikan. Dengan cara ini, diskusi tidak hanya didasarkan pada keyakinan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan fakta dan bukti yang relevan.
Kemampuan berpikir kritis juga membantu pembicara menyusun materi dengan lebih baik. Mahasiswa yang memahami isi presentasinya akan lebih siap menghadapi pertanyaan, menjelaskan alasan di balik pendapatnya, dan mengakui keterbatasan argumen ketika menemukan bukti yang berbeda.
Dengan demikian, mendengarkan membantu seseorang memahami informasi, sedangkan berpikir kritis membantu menilai informasi tersebut. Keduanya saling melengkapi dalam membangun komunikasi yang efektif.
Mengapa Mahasiswa FEB Membutuhkan Keduanya?
Mahasiswa FEB dipersiapkan untuk menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan komunikasi dan pengambilan keputusan. Dalam pemasaran, misalnya, kemampuan berbicara diperlukan untuk menjelaskan keunggulan produk dan meyakinkan calon konsumen. Namun, kemampuan mendengarkan diperlukan untuk memahami kebutuhan, keluhan, dan harapan konsumen.
Seorang pemasar yang hanya berfokus pada cara menjual berisiko mengabaikan masalah yang sebenarnya dihadapi pelanggan. Sebaliknya, pemasar yang mau mendengarkan dapat memperoleh informasi untuk memahami kebutuhan konsumen sebelum merancang strategi yang sesuai. Kemampuan berpikir kritis kemudian diperlukan untuk mengevaluasi informasi tersebut dan menentukan tindakan yang tepat.
Hal serupa berlaku dalam bidang manajemen. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi. Ia perlu mendengarkan masukan anggota tim, mempertimbangkan berbagai alternatif, dan mengevaluasi persoalan sebelum mengambil keputusan. Ketika terjadi perbedaan pendapat, kemampuan komunikasi yang baik dapat membantu tim mencari solusi tanpa harus mengorbankan rasa saling menghargai.
Dalam bidang ekonomi dan keuangan, kemampuan berpikir kritis juga dibutuhkan untuk menilai data, membandingkan pilihan, serta mempertimbangkan risiko dari suatu keputusan. Kemampuan berbicara membantu seseorang menjelaskan hasil analisisnya, sementara kemampuan mendengarkan memberinya kesempatan memahami informasi dan perspektif lain yang mungkin belum dipertimbangkan.
Oleh karena itu, keterampilan mendengarkan dan berpikir kritis bukan sekadar pelengkap public speaking. Keduanya relevan dengan berbagai kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa FEB, mulai dari presentasi akademik hingga komunikasi profesional.
Kampus Perlu Melatih Lebih dari Sekadar Keberanian Berbicara
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun keterampilan tersebut. Pembelajaran public speaking seharusnya tidak hanya berfokus pada kelancaran berbicara, penguasaan materi, atau keberanian tampil di depan kelas. Mahasiswa juga perlu dilatih untuk mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan yang bermutu, mengevaluasi argumen, menerima kritik, dan memberikan tanggapan berdasarkan alasan yang jelas.
Salah satu caranya adalah mengembangkan diskusi kelas yang mendorong mahasiswa untuk menanggapi gagasan temannya secara konstruktif. Penilaian presentasi juga dapat mempertimbangkan kemampuan menjawab pertanyaan, ketepatan argumen, dan keterbukaan terhadap masukan, bukan hanya penampilan ketika berbicara.
Mahasiswa sendiri dapat mulai membangun kebiasaan tersebut melalui langkah sederhana, seperti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyelesaikan pendapatnya, bertanya ketika ada informasi yang belum dipahami, memeriksa bukti sebelum menarik kesimpulan, dan tidak menganggap kritik sebagai serangan pribadi.
Kebiasaan ini memang tidak terbentuk dalam satu kali presentasi. Namun, melalui latihan yang konsisten, mahasiswa dapat belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang bagaimana membuat orang lain mendengarkan, melainkan juga tentang bagaimana memahami pesan dan meresponsnya secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kemampuan berbicara memang dapat membuat seseorang memperoleh perhatian. Namun, kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis membantu seseorang menggunakan perhatian tersebut untuk membangun pemahaman dan menghasilkan gagasan yang lebih berkualitas.
Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tujuan public speaking bukan sekadar menjadi pembicara yang meyakinkan, melainkan menjadi komunikator yang mampu memahami persoalan, menyampaikan argumen secara rasional, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan.
Sebab, dalam dunia akademik maupun profesional, kita tidak selalu membutuhkan orang yang paling cepat menjawab atau paling banyak berbicara. Kita juga membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan, berani mempertanyakan informasi secara sehat, dan mampu mengubah perbedaan pandangan menjadi kesempatan untuk menemukan solusi.
Jangan hanya belajar berbicara agar didengar. Belajarlah mendengarkan agar memahami, dan berpikir kritis agar setiap perkataan memiliki dasar serta makna.
