Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser Luncurkan Antologi Puisi Agung Jerman
·waktu baca 4 menit

Buku Antologi Puisi Agung Jerman karya Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser resmi diluncurkan di Perpustakaan Wisma Habibie & Ainun, Jakarta Selatan, Senin (8/6).
Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Berthold Damshäuser atau kerap disapa Pak Trum, salah satu penulis buku, yang kemudian dilanjutkan diskusi bersama penyair Agus R. Sarjono dan Ilham Akbar Habibie yang juga menulis pengantar buku tersebut.
Agus mengungkapkan buku ini lahir dari perjalanan panjang kerja sama penerjemahan puisi Jerman yang telah mereka lakukan sejak 2003.
“Kita sudah sejak 2003 menggarap seri puisi Jerman. Waktu itu terus terbit sampai terakhir Hermann Hesse. Kita berhenti agak lama. Tiba-tiba kami ingin bertemu. Tapi rupanya para penyair yang kami terbitkan juga pengen reuni. Jadi mereka berkumpul dalam Antologi Puisi Agung Jerman,” ujar Agus sambil berseloroh.
Trum menambahkan bahwa delapan penyair besar Jerman yang hadir dalam buku tersebut seolah “bertemu kembali” melalui halaman-halaman buku.
“Dalam buku itu, mereka yang sudah saling kangen itu—Rilke, Nietzsche, Goethe, Hermann Hesse, Bertolt Brecht—akhirnya mereka bisa jumpa kembali di halaman-halaman, dalam warna hitam atas putih. Bahagia mereka. Kami ini hanya fasilitator,” kata Trum.
Ia juga menyebut Ilham Akbar Habibie memiliki peran penting dalam lahirnya buku tersebut.
“Yang juga punya saham itu, motornya mereka adalah Bapak Ilham Akbar Habibie. Karena beliau juga ingin mereka berjumpa. Maka dia tulis pengantar untuk buku itu dan menyediakan perpustakaan dalam Wisma Ainun Habibie untuk peluncuran yang dilaksanakan dengan meriah sekali,” ujarnya.
Menurut Agus, buku tersebut memuat karya dari delapan penyair besar Jerman dengan sekitar 15 puisi dari masing-masing penyair.
Tantangan Menerjemahkan Keindahan Puisi
Dalam proses penyusunannya, kedua penulis mengaku menghadapi tantangan besar saat menerjemahkan puisi-puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia.
“Oh, banyak. Kesulitan banyak. Bagaimana memindahkan puisi-puisi Jerman dengan gaya yang berbeda-beda, dengan metafor berbeda ke dalam bahasa Indonesia, ya lumayan kerja keras,” kata Agus.
Trum menjelaskan bahwa menerjemahkan puisi tidak hanya memindahkan makna, tetapi juga keindahan yang terkandung di dalamnya.
“Itu puisi, sebuah keindahan yang juga ada isi semantik. Maka yang harus kami transfer adalah maknanya dan juga keindahannya. Itu sebuah tantangan,” ujarnya.
Menurut Trum, kolaborasinya dengan Agus menjadi kunci untuk menjaga kualitas terjemahan.
“Kalau saya sendiri tidak mungkin menghasilkan teks Indonesia yang sangat puitis. Maka saya bekerja sama dengan sahabat saya, seorang penyair hebat di Indonesia, Agus R. Sarjono, yang ikut menghasilkan keindahan dalam puisi terjemahan ini,” katanya.
Saat ditanya mengenai puisi favorit dalam buku tersebut, keduanya kompak mengaku sulit memilih satu karya tertentu.
“Kita mencintai hampir semuanya,” kata Agus.
“Hampir semuanya, dengan cara berbeda-beda. Kalau cinta dengan perempuan sebaiknya satu. Tapi kalau kepada puisi, itu boleh puluhan bahkan ratusan,” timpal Berthold yang disambut tawa.
Sementara itu, Ilham Akbar Habibie mengatakan peluncuran buku di Perpustakaan Wisma Habibie & Ainun merupakan kelanjutan dari dukungan yang telah diberikan mendiang BJ Habibie terhadap kedua penulis sejak puluhan tahun lalu.
“Sebetulnya asal muasalnya itu sudah puluhan tahun yang lampau di mana Pak Habibie, almarhum, sudah mulai mendukung mereka berdua. Jadi kita lanjutkan apa yang sudah dimulai oleh Pak Habibie,” kata Ilham.
Ia menilai buku tersebut menjadi contoh keberhasilan dialog budaya antara Indonesia dan Jerman melalui sastra.
Menurut Ilham, menerjemahkan puisi merupakan pekerjaan yang tidak mudah karena penerjemah harus menjaga makna sekaligus keindahan karya aslinya.
“Tantangannya adalah kita bisa menerjemahkan sesuatu secara harfiah, tapi keindahannya hilang. Kalau diterjemahkan secara indah, nanti isinya berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Nah, ini adalah satu hal yang sangat sulit dicapai,” ujarnya.
Ilham juga mengapresiasi penampilan pembacaan puisi karya penyair seperti Rainer Maria Rilke dan Friedrich Nietzsche dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jerman pada acara tersebut.
Dorong Generasi Muda Kembali Membaca
Berthold atau Pak Trum mengajak generasi muda untuk menemukan kebahagiaan melalui kecintaan terhadap puisi.
“Bahagialah dengan cinta pada sekian banyak puisi,” ujarnya.
Sementara Agus menilai kreativitas generasi muda saat ini sangat besar, tetapi perlu ditopang oleh kebiasaan membaca.
“Kalau mereka membaca puisi-puisi agung, puisi-puisi terbaik, saya kira aman. Seleranya akan terjaga dan kreativitas mereka yang luar biasa itu dapat cahaya yang glowing, tidak buram,” kata Agus.
Senada, Ilham berharap peluncuran buku ini tidak berhenti sebagai seremoni semata, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya baca di Indonesia.
“Budaya belajar, budaya baca di Indonesia itu harus kita dorong sehingga lebih banyak masyarakat membaca dan menikmati apa yang mereka baca,” ujarnya.
Menurut Ilham, di tengah dominasi budaya visual, sastra tetap memiliki peran penting karena mampu menyampaikan makna yang sering kali sulit diungkapkan melalui kalimat biasa.
“Harapannya, nanti lambat laun kita bisa mendorong masyarakat luas mulai menemukan kembali budaya kesastraan kita di Indonesia,” tutupnya.
