Konten dari Pengguna

Menjawab "Lulus Sastra Jadi Apa?"

Muhammad Nauval Pratama

Muhammad Nauval Pratamaverified-green

Jurnalis kumparan

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Nauval Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lulus Sastra Jadi Apa?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi mahasiswa atau lulusan jurusan sastra, pertanyaan tersebut kadang terasa seperti pertanyaan yang harus dijawab berkali-kali. Bukan cuma buat orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Ketika memilih jurusan kuliah, saya justru tidak pernah membayangkan akan berkuliah di Sastra Rusia. Bahkan, bisa dibilang saya masuk jurusan tersebut karena sebuah ketidaksengajaan.

Awalnya, Sastra Rusia bukan pilihan utama yang benar-benar saya rencanakan. Saya hanya mencoba mendaftar dan melihat peluang yang ada. Sampai akhirnya, nama Sastra Rusia menjadi bagian dari perjalanan pendidikan saya.

Di awal perkuliahan, tentu muncul berbagai pertanyaan. “Nanti kalau lulus mau kerja apa?” atau “Memangnya belajar bahasa Rusia bisa kerja di mana?”

Pertanyaan semacam itu wajar muncul karena jurusan sastra sering kali dianggap memiliki jalur karier yang terbatas. Banyak yang mengira lulusan sastra hanya bisa menjadi guru, penerjemah, atau bekerja di bidang yang berkaitan langsung dengan bahasa dan literatur.

Namun, selama menjalani perkuliahan, saya justru menemukan bahwa kemampuan yang diperoleh dari jurusan sastra tidak sesempit itu.

Belajar sastra membuat saya terbiasa membaca, menulis, menganalisis teks, memahami konteks, melakukan riset, sekaligus melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang. Kemampuan-kemampuan tersebut ternyata bisa dibawa ke banyak bidang pekerjaan.

Salah satunya adalah dunia jurnalistik.

Berawal dari Magang

Ketertarikan saya terhadap dunia jurnalistik tidak langsung muncul begitu saja. Saya mulai mengenal dunia kerja media ketika mendapatkan kesempatan magang di Kompas.com.

Dari sana, saya mulai merasakan bagaimana sebuah informasi diproduksi menjadi berita. Saya belajar bahwa pekerjaan di media bukan hanya soal bisa menulis, tetapi juga soal bagaimana mencari informasi, melakukan verifikasi, memahami konteks, menentukan angle, hingga menyajikannya kepada pembaca.

Pengalaman tersebut kemudian membuka pintu ke kesempatan berikutnya.

Saat magang di CNN Indonesia TV.

Saya melanjutkan pengalaman di CNN Indonesia TV. Lingkungan kerja di televisi memberikan pengalaman yang berbeda. Saya melihat bagaimana sebuah peristiwa tidak hanya harus ditulis, tetapi juga diterjemahkan menjadi informasi yang bisa disampaikan melalui medium audiovisual.

Setelah itu, saya mendapat kesempatan bergabung dengan ANTARA News sebagai News Content Creator dan Clipper.

Setiap pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang berbeda. Saya mulai memahami bahwa latar belakang pendidikan bukan satu-satunya penentu seseorang akan bekerja di bidang apa.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengembangkan kemampuan yang dimiliki dan berani mencoba bidang yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Sampai akhirnya, perjalanan itu membawa saya menjadi Reporter News di kumparan.

"Lulus Sastra Kok Jadi Reporter?"

Saat meliput di Pulau Nusakambangan.

Menjadi reporter tentu bukan sesuatu yang langsung bisa dikuasai hanya karena pernah magang di beberapa media.

Justru ketika mulai menjadi reporter secara penuh, tantangannya terasa semakin nyata.

Ada target berita yang harus dicapai. Ada peristiwa yang harus dikejar. Ada narasumber yang harus dihubungi. Ada transkrip wawancara yang harus diolah. Ada deadline yang tidak bisa ditawar.

Di satu sisi, reporter dituntut cepat. Namun, di sisi lain, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi.

Ini menjadi salah satu tantangan terbesar ketika saya memulai pekerjaan sebagai Reporter News.

Saya harus membiasakan diri dengan ritme kerja yang jauh lebih dinamis. Tidak semua berita datang dalam kondisi siap tulis. Terkadang informasi masih berupa pernyataan singkat. Terkadang harus mencari narasumber tambahan. Terkadang angle yang sudah direncanakan berubah karena ada perkembangan baru di lapangan.

Belum lagi ketika harus memahami isu yang sebelumnya tidak terlalu familiar.

Saat meliput Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta.

Sebagai reporter, saya bisa saja pagi hari meliput kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, siangnya menghubungi narasumber soal transportasi publik, lalu di waktu lain harus memahami persoalan kebencanaan atau isu nasional.

Artinya, seorang reporter dituntut untuk terus belajar.

Di sinilah saya kembali merasakan manfaat dari belajar sastra.

Mungkin Sastra Rusia tidak secara langsung mengajarkan bagaimana membuat berita hard news. Namun, kuliah sastra melatih saya untuk membaca dan memahami teks secara kritis, mencari konteks, memperhatikan detail, serta menyusun informasi agar dapat dipahami orang lain.

Kemampuan tersebut kemudian saya bawa ke pekerjaan jurnalistik.

Jadi, Lulus Sastra Jadi Apa?

Saat live report di Gereja Katedral Jakarta.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, "lulus sastra jadi apa?"

Jawabannya mungkin tidak harus satu.

Lulusan sastra bisa menjadi apa saja selama memiliki kemampuan yang relevan dan mau terus belajar.

Bagi saya sendiri, perjalanan dari Sastra Rusia hingga menjadi reporter menjadi bukti bahwa pilihan jurusan tidak selalu menentukan garis akhir karier seseorang.

Justru, perjalanan karier sering kali terbentuk dari kesempatan-kesempatan yang datang, keputusan yang diambil, serta keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.

Saya masuk Sastra Rusia secara tidak sengaja. Tetapi, dari jurusan yang awalnya tidak pernah saya bayangkan itu, saya justru menemukan berbagai kemampuan yang kemudian membantu saya menjalani pekerjaan sebagai jurnalis.

Perjalanannya saya tentu belum selesai. Saya masih terus belajar dan akan memuat cerita seru lainnya disini. Nantikan ya...