Konten dari Pengguna

Mahasiswa UNDIP Sosialisasikan POC Sebagai Upaya Penanganan Limbah Budidaya Ikan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rafi Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses sosialisasi dilakukan di BUMDes Desa Tambaksari yang Dihadiri Para Pembudidaya Ikan. Sumber Foto: Muhammad Rafi Prasetyo
zoom-in-whitePerbesar
Proses sosialisasi dilakukan di BUMDes Desa Tambaksari yang Dihadiri Para Pembudidaya Ikan. Sumber Foto: Muhammad Rafi Prasetyo

Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal (2 Juli 2025) – Sebagai upaya mengurangi jumlah limbah hasil budidaya ikan lele, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro menyosialisasikan mengenai pemanfaatan air limbah budidaya ikan lele sebagai pupuk cair tanaman buah kepada para pembudidaya di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari KKN-T IDBU Tim 38 yang diketuai oleh Dr. Ir. Diana Rachmawati, M.Si., dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) lainnya yaitu Faik Kurohman, S.Pi., M.Si., Adnan Fauzi, S.T., M.Kom., dan Dr. Putut Har Riyadi, S.Pi., M.Si. Kegiatan sosialisasi ini dibawakan oleh Muhammad Rafi Prasetyo, salah satu anggota tim dari jurusan Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Sosialisasi dilakukan di BUMDes desa Tambaksari dengan kebanyakan audiens adalah para pembudidaya ikan.

Hanya dibuang begitu saja, air limbah budidaya ikan lele padahal kaya manfaat untuk tanaman

Limbah air budidaya ikan lele di Desa Tambaksari hanya dibuang begitu saja. Tentu hal ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan terutama pencemaran air dan udara akibat timbulnya bau tidak sedap apabila terus dilakukan tanpa adanya pengolahan atau pemanfaaatan yang tepat. ”Meskipun sering dianggap sebelah mata, limbah hasil budidaya ikan lele ternyata masih mengandung unsur hara makro seperti Nitrogen, Fosfor, Kalium, dan Karbon Organik yang berasal dari sisa pakan ataupun feses ikan. Unsur hara makro ini sangat dibutuhkan untuk tanaman terutama untuk tanaman buah yang cukup banyak ditanam di pekarangan warga desa seperti pohon pisang, jambu, mangga, dan rambutan” ujar Rafi. Kandungan unsur hara makro dan organik pada air limbah budidaya berfungsi menyeluruh, mulai dari awal pertumbuhan (fase vegetatif) hingga fase generatif (berbunga dan berbuah) pada tanaman buah.

Pembudidaya cukup antusias mendengarkan pemaparan materi oleh mahasiwa. Setelah proses pemaparan selesai, dilakukan sesi sharing discussion antara mahasiwa dengan para pembudidaya. Kebanyakan dari mereka bercerita, limbah dari kegiatan budidaya dibuang begitu saja tanpa adanya pengolahan dan pemanfaatan lebih lanjut. Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat membantu pembudidaya dalam mengatasi permasalahan limbah.

Foto bersama para pembudidaya setelah proses sosialiasi selesai. Sumber Foto: Muhammad Rafi Prasetyo

(Laporan oleh: UNDIP-Muhammad Rafi Prasetyo)