E-Commerce dan UMKM: Menang atau Tergilas Algoritma Raksasa?

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Rafi Rizqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda berniat hanya sekadar ‘cuci mata’ di aplikasi E-Commerce

, tetapi tanpa disadari akhirnya menyelesaikan transaksi untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan? Kondisi seperti ini bukan lagi sesuatu yang dapat dianggap sebagai kebetulan. Di tengah perkembangan teknologi digital, perilaku belanja masyarakat semakin dipengaruhi oleh rancangan sistem yang dibangun secara terstruktur dan cermat. Di era digital saat ini, kebiasaan belanja masyarakat secara tidak sadar sedang disetir oleh arsitektur sistem AI E-commerce yang dirancang dengan sangat presisi.
Di Indonesia, nilai transaksi pada sektor perdagangan elektronik terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Nilainya tidak lagi berada pada kisaran miliaran rupiah, melainkan telah mencapai ribuan triliun rupiah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total transaksi e-commerce pada tahun 2024 mencapai Rp1.288 triliun. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan e-commerce bukan hanya dampak sementara dari pembatasan aktivitas selama pandemi, tetapi telah menjadi bagian dari perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja. Pertumbuhan yang konsisten ini juga tidak hanya didorong oleh promosi seperti gratis ongkos kirim atau potongan harga, melainkan oleh inovasi teknologi yang terus berkembang.
Perang Fitur dan Manipulasi AI E-Commerce
Persaingan antarplatform besar seperti Tokopedia dan Shopee kini lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mereka dalam memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dan pengolahan data pada sisi back-end. Tokopedia, misalnya, terus mengembangkan sistem rekomendasi produk berbasis machine learning yang mampu menganalisis riwayat pencarian, durasi pengguna melihat suatu produk, hingga pola klik yang dilakukan. Melalui analisis tersebut, sistem dapat menyajikan rekomendasi produk yang terasa lebih personal, bahkan mampu mengantisipasi kebutuhan pengguna sebelum mereka benar-benar menyadarinya.
Sementara itu, Shopee menerapkan strategi yang berbeda melalui desain antarmuka (User Interface) yang interaktif. Kehadiran fitur Shopee Games dan Shopee Live berhasil menggabungkan pengalaman berbelanja dengan konsep gamifikasi. Tayangan interaktif secara langsung tersebut mampu membangkitkan efek Fear of Missing Out (FOMO), sehingga pengguna terdorong untuk segera melakukan pembelian karena khawatir kehilangan kesempatan memperoleh penawaran tertentu. Strategi ini terbukti efektif dalam mendorong keputusan pembelian yang bersifat impulsif.
Dari sudut pandang teknologi informasi, sistem seperti ini merupakan hasil inovasi yang sangat maju. Algoritma yang dikembangkan tidak hanya berperan dalam mendukung transaksi bernilai triliunan rupiah, tetapi juga menjadi fondasi bagi jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas jangkauan bisnis mereka ke ranah digital. Melalui sistem tersebut, pelaku usaha dapat menjangkau pasar yang lebih luas dengan proses operasional yang lebih efisien.
Namun demikian, kemajuan teknologi ini juga memiliki konsekuensi yang perlu diwaspadai. Bagi konsumen, pengalaman berbelanja yang semakin praktis dapat menjadi pemicu perilaku konsumtif apabila tidak disertai dengan kemampuan literasi digital yang memadai. Banyak pengguna tanpa sadar memberikan data aktivitas dan kebiasaan mereka kepada sistem, sehingga algoritma dapat terus mempelajari pola perilaku tersebut dan menyajikan berbagai penawaran yang mendorong pengguna untuk melakukan pembelian secara berulang.
Pada akhirnya, teknologi e-commerce memang dirancang untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat proses transaksi, dan memberikan kemudahan bagi pengguna. Namun, di tengah semakin berkembangnya kecerdasan buatan yang mengendalikan berbagai rekomendasi belanja, keputusan akhir untuk menekan tombol checkout tetap harus didasarkan pada pertimbangan yang rasional. Memahami bagaimana algoritma bekerja menjadi langkah penting agar masyarakat tidak hanya menjadi sumber data yang dimanfaatkan oleh sistem, tetapi tetap memiliki kendali penuh atas setiap keputusan konsumsi yang diambil.
