Ekonomi Digital dan UMKM: Menjembatani Gap Teknologi dengan Manajemen Inovatif

Mahasiswa program studi Manajemen, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad rafii Henanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia sedang menghadapi tantangan besar: bagaimana tetap relevan dan kompetitif di era yang semakin terhubung teknologi. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM masih jauh dari adopsi teknologi digital, meskipun mereka menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB Indonesia dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional.
Contoh nyatanya, mulai dari keterbatasan akses ke platform digital, pemasaran online yang belum optimal, hingga pengelolaan keuangan manual. Dalam diskusi publik di Jakarta, Devie Rahmawati, pengamat sosial digital dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan.
Jadi, bagaimana mengatasi perbedaan ini?
Gap Teknologi: Bukan Soal Alat, tapi Pola Pikir
Banyak orang menganggap gap teknologi semata-mata karena tidak adanya perangkat atau akses internet. Sebenarnya, cara orang berpikir tentang manajemen bisnis adalah yang paling sulit. Bisnis UMKM yang biasanya bergantung pada metode konvensional sering ragu untuk mencoba metode baru karena khawatir akan gagal atau tidak memahami manfaatnya.
Di sinilah pendekatan manajemen inovatif sangat penting. Manajemen inovatif bukan berarti harus canggih atau mahal, melainkan bagaimana UMKM harus menjadi fleksibel, terbuka, dan belajar secara berkelanjutan.
Salah satu contohnya adalah UMKM kuliner di Yogyakarta yang menggunakan WhatsApp Business dan Google Form untuk menerima pesanan dan membuat konten promosi dengan Canva. Sederhana, tetapi berdampak besar. Penjualan meningkat, pelanggan lebih setia, dan produktivitas meningkat.
Peran Platform Digital dan Ekosistem Kolaboratif
Hadirnya platform digital dan kolaborasi strategis yang memberikan ruang belajar bagi UMKM adalah langkah lain yang penting. Contohnya adalah program UMKM Go Digital dari Tokopedia, pelatihan pemasaran dari Shopee, dan pendampingan manajemen dari startup edukasi bisnis seperti Ruangguru for Business.
Dorongan pemerintah, seperti program onboarding digital dan pendanaan berbasis teknologi finansial (fintech), juga penting. Namun, program ini harus dipertahankan agar tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga meningkatkan manajemen dan konsistensi implementasi.
Kesimpulan
Inovasi harus membumi, mendorong UMKM untuk masuk ke ekonomi digital memerlukan lebih dari sekadar kata-kata atau teknologi canggih. Dibutuhkan manajemen yang berpihak pada kenyataan lapangan, pendidikan yang relevan, dan solusi yang mudah diterapkan. Pada akhirnya, masa depan ekonomi digital Indonesia ditentukan oleh jutaan usaha kecil dan menengah (UMKM) yang berani mengikuti perkembangan zaman.
Muhammad Rafii Henanda
