Tahun Baru Islam: Menghidupkan Nilai Hijrah dalam Keluarga Muslim.

Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Perbandingan Mazhab
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Rasyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun Baru Islam: Menghidupkan Nilai Hijrah dalam Keluarga Muslim
Tahun Baru Islam merupakan momen yang sarat makna spiritual bagi umat Muslim. Berbeda dengan perayaan tahun baru masehi yang identik dengan pesta, Tahun Baru Islam justru mengajak kita merenung, merefleksikan diri, dan memperbarui komitmen hijrah—berpindah dari kondisi buruk menuju yang lebih baik. Dalam konteks kekinian, menghidupkan nilai hijrah dalam keluarga Muslim menjadi langkah penting dalam membentuk rumah tangga yang berlandaskan iman, ilmu, dan amal.
Makna Hijrah dalam Konteks Keluarga
Secara historis, hijrah merujuk pada perpindahan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Namun, para ulama memaknai hijrah secara lebih luas: meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan. Dalam keluarga Muslim, hijrah bisa berarti memulai kebiasaan baru yang lebih Islami: mulai dari salat berjamaah, memperbanyak dzikir, hingga memperbaiki komunikasi antar anggota keluarga.
Membangun Tradisi Spiritual di Awal Tahun Baru Islam
Tahun Baru Islam hendaknya dimanfaatkan untuk menanamkan nilai hijrah dalam keluarga. Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan antara lain:
1. Membaca doa awal dan akhir tahun bersama.
2. Mengadakan kajian keluarga tentang kisah hijrah Nabi.
3. Menyusun resolusi hijrah keluarga: target ibadah, sedekah rutin, atau menumbuhkan literasi Islam di rumah.
Peran Orang Tua dalam Menanamkan Nilai Hijrah
Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Dalam menghidupkan nilai hijrah, orang tua harus menjadi teladan. Keteladanan dalam menjaga akhlak, kedisiplinan ibadah, serta kebiasaan positif seperti membaca Al-Qur’an dan berdiskusi tentang nilai-nilai Islam sangat menentukan karakter anak. Tahun Baru Islam menjadi waktu strategis untuk memulai perubahan ini.
Tantangan dan Peluang di Era Digital
Di era digital, keluarga Muslim dihadapkan pada tantangan baru: arus informasi yang begitu deras, budaya individualisme, dan gaya hidup instan. Namun, ini juga menjadi peluang untuk menanamkan nilai hijrah melalui media digital: mengikuti kajian daring, mengisi media sosial dengan konten Islami, dan mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Kesimpulan
Tahun Baru Islam adalah momen yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat hijrah, bukan hanya secara individu, tapi juga secara kolektif dalam keluarga. Dengan memulai perubahan dari rumah, keluarga Muslim bisa menjadi pondasi kokoh bagi terbentuknya masyarakat yang beradab dan bertakwa. Mari kita jadikan Tahun Baru Islam sebagai titik balik menuju keluarga yang lebih berkah.
