Konten dari Pengguna

Percaya dan Kecewa: Ulasan dalam Novel "Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak?"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rauf Kurnia Nur Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi : Seseorang yang sedang khusyuk berdoa kepada tuhan. Photo : Rizky Sabriansyah/pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : Seseorang yang sedang khusyuk berdoa kepada tuhan. Photo : Rizky Sabriansyah/pexels

Setiap orang mungkin pernah berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu merasa tidak mendapat jawaban langsung dari Tuhan. Pengalaman yang tampak sederhana itu justru menyimpan pergulatan batin yang sangat dalam, dan di situlah sebuah novel bisa mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung, apakah kecewa berarti kehilangan iman, atau justru bagian dari proses beriman. Dalam novel "Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak" karya Tinandrose mengangkat pergulatan batin seorang tokoh utamanya yaitu Nirmana yang kecewa karena doa-doanya terasa tidak terjawab. Nirmana pun tumbuh dalam keluarga dengan ajaran agama yang kaku dan dibayangi luka masa kecil, sementara sang ibu memilih diam sehingga rumah terasa menyesakkan. Lelah karena doa dan usahanya kerap berujung dengan jawaban yang terus berulang yaitu "tidak", ia merasa bukan "anak favorit Tuhan". Dalam keseharian bersama adiknya, Nurmala, yang tunawicara, serta perjumpaannya dengan Kamal, seorang pasien yang ingin menjalani operasi jantung di rumah sakit, Nirmana perlahan dihadapkan pada pertanyaan: apakah "tidak" benar-benar merupakan sebuah penolakan?

Pergulatan Nirmana berlapis, baik dari dalam dirinya maupun dari lingkungan terdekatnya. Secara batin, ia merasa dianaktirikan oleh Tuhan karena doa dan harapannya selalu dijawab "tidak", hingga ia jatuh dalam kehampaan dan berada di titik terendah hidupnya. Kegelisahan itu

"Kenapa masih percaya Tuhan setelah hidupmu dibuat berantakan?"

Kemudian secara eksternal, rumah yang seharusnya aman justru menjadi sumber luka. Sang ayah, figur yang keras dan menjadi sumber trauma domestik dalam hidup Nirmana. Sedangkan sang ibu, figur yang pasif karena tidak memilih melawan dalam menghadapi konflik yang terjadi di dalam rumah. Di puncak keputusasaannya akibat depresi, luka batin, dan trauma yang mendalam dari ayahnya, Nirmana mengalami stress berat yang membuat ia dilarikan ke rumah sakit dan menjalankan perawatan intensif disana.

Di tengah kegelapan itu, hadirlah sesorang yang bernama Kamal, pasien yang bersebelahan dengan Nirmana di rumah sakit. Kamal hidup dengan penyakit jantung kronis dan sejak kecil ditinggalkan orang tuanya, akan tetapi ia menghadapinya dengan tenang dan humor yang hangat. Lewat Kamal, Nirmana menyadari bahwa ia bukan satu-satunya orang yang dunianya runtuh. Kamal menjadi cermin yang membalik cara pandang Nirmana bahwa rasa sakit dan penolakan tidak harus dihadapi dengan kemarahan yang berisik di telinganya.

Penyembuhan Nirmana juga datang dari adiknya, Nurmala, yang tunawicara. Sejak kecil, Nirmana merasa tidak terlihat:

"Aku tidak pernah bisa menjadi anak yang mereka inginkan. Setidaknya itu yang kurasa dari perlakuan mereka."

Karena perhatian orang tua tertuju pada Nurmala, sehingga ia memaksakan diri rajin belajar dan beribadah demi pengakuan ayahnya. Belakangan ia sadar bahwa Nurmala menanggung luka yang sama besarnya, menyaksikan kekerasan di rumah tanpa bisa bersuara. Ketabahan Nurmala tanpa kata menjadi alasan Nirmana untuk berhenti larut dalam dukanya sendiri dan bertahan melindungi adik dan ibunya.

Dalam novel ini, ada beberapa apresiasi yang bisa saya dapatkan setelah membacanya:

Pertama, yang membuat konflik ini terasa kuat adalah kejujurannya: novel ini tidak menutupi bahwa iman bisa goyah oleh luka, sehingga pembaca yang pernah kecewa pada doa bisa merasa dipahami, bukan dihakimi.

Kedua, kehadiran Kamal menjadi salah satu kekuatan novel ini, karena perubahan Nirmana tidak datang lewat ceramah, tetapi lewat percakapan dan kehangatan yang sederhana, sehingga keduanya terasa lebih wajar dan tidak menggurui.

Ketiga, ada adiknya yaitu Nurmala. Dengan menjadikan tokoh yang tidak bersuara, ia bisa menjadi karakter penyembuh untuk Nurmana. Artinya, novel ini menunjukkan bahwa kasih sayang tidak selalu butuh kata-kata, dan ini menjadi sentuhan yang mengharukan.

Pada akhirnya, Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak mengajak para pembaca melihat jawaban "tidak" dari sudut yang berbeda. Novel ini mengingatkan bahwa:

"kalaupun ada doa yang tidak terkabul, bukan karena Tuhan tidak mau mendengarkanmu. Kadang, untuk menyelamatkanmu dari yang tak kamu tahu, Tuhan harus menahannya."

Kekecewaan seseorang tidak dihapus, tetapi diberi ruang, sebab:

"terkadang, takdir baik juga butuh air mata sebagai tanda terimanya."

Karena itu, novel ini layak dibaca oleh siapa pun yang pernah merasa doanya tak terjawab. Ia tidak menjanjikan jawaban yang selalu "iya", tetapi menawarkan keberanian untuk tetap percaya, meski sambil menangis.

Daftar Pustaka

Tinandrose (2025) Bagaimana jika Tuhan bilang tidak?. Bandung: Teman Duduk.