Akuntansi Membuat Hidup Lebih Tenang, Bukan Pusing

Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Rayhan Maulana Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akuntansi Tidak Serumit yang Dibayangkan
Begitu mendengar kata akuntansi, banyak orang langsung mengeluh. Pusing, angka melulu, rumit. Untuk apa mempelajarinya kalau bukan mahasiswa ekonomi?
Dulu saya pun berpikir demikian. Namun, setelah beberapa tahun mengelola keuangan sendiri, saya mengubah pandangan. Akuntansi sebenarnya sederhana. Yang membuatnya rumit adalah cara kita menjelaskannya.
Dasar Akuntansi Sederhana: Mencatat Uang Masuk dan Keluar
Inti akuntansi hanya satu. Anda mencatat uang yang masuk, mencatat uang yang keluar, lalu mengurangkan keduanya. Selesai.
Pernahkah Anda menabung di celengan sewaktu kecil? Setiap mendapat uang saku, Anda memasukkan sebagian ke celengan. Sesekali celengan dibuka, isinya dihitung, lalu hasilnya ditulis di selembar kertas. Itu sudah merupakan akuntansi dalam bentuk paling dasar.
Atau saat Anda berbelanja di warung, lalu menghitung sisa uang di dompet. Itu juga akuntansi.
Lalu mengapa banyak orang menganggapnya rumit? Sebab di sekolah dan kampus, akuntansi diajarkan dengan istilah-istilah berat, seperti debit-kredit, neraca, dan jurnal umum. Untuk keperluan sehari-hari, Anda tidak membutuhkan semua itu.
Mulai dari Hal Paling Mudah
Saya punya satu tips. Ambil buku tulis biasa atau gunakan aplikasi catatan di ponsel. Lalu lakukan hal berikut setiap hari.
Tulis semua uang yang Anda terima, misalnya gaji, uang saku, hasil berjualan, atau uang yang dikembalikan teman. Tulis juga semua uang yang keluar, mulai dari makan, bensin, pulsa, hingga jajan kecil. Di akhir hari, kurangi total uang masuk dengan total uang keluar, lalu lihat sisanya.
Lakukan ini secara rutin. Jangan mempermasalahkan rapi atau tidaknya catatan, dan jangan malu jika tulisan Anda berantakan. Yang terpenting, Anda melakukannya.
Banyak orang gagal karena ingin langsung sempurna. Mereka ingin catatan yang rapi, memakai rumus, bahkan membuat laporan seperti perusahaan. Hasilnya, mereka stres sendiri lalu berhenti total. Lebih baik pelan-pelan asalkan konsisten.
Kesalahan Umum yang Membuat Orang Berhenti
Saya sering melihat orang yang bersemangat mencatat, tetapi berhenti setelah beberapa minggu. Biasanya ada tiga penyebabnya.
Pertama, mereka memakai cara yang terlalu rumit. Ada yang langsung membeli buku akuntansi berkolom-kolom, ada pula yang mengunduh aplikasi keuangan penuh fitur padahal belum terbiasa. Akhirnya mereka kewalahan dan menyerah. Solusinya, mulailah dengan cara paling sederhana, yaitu satu halaman kosong di buku tulis atau satu berkas catatan di ponsel.
Kedua, mereka kecewa karena tidak melihat hasil instan. Setelah sebulan mencatat, uang tetap habis, lalu mereka merasa usahanya percuma. Padahal, akuntansi tidak akan membuat Anda langsung kaya. Akuntansi hanya membuat Anda sadar. Proses perbaikan membutuhkan waktu, bisa berbulan-bulan, jadi jangan menyerah sebelum benar-benar mencoba.
Ketiga, mereka terlalu keras pada diri sendiri. Begitu sadar telah boros, mereka stres dan marah, lalu malas melanjutkan. Sebenarnya tidak perlu demikian. Anggaplah catatan Anda sebagai cermin. Cermin tidak pernah marah, ia hanya memperlihatkan wajah Anda apa adanya. Begitu pula catatan keuangan.
Contoh Nyata dari Kehidupan Sehari-hari
Saya ambil contoh dari seorang teman, sebut saja Dedi. Ia bekerja dengan gaji Rp5 juta per bulan. Gajinya selalu habis, bahkan sesekali ia harus berutang. Dedi bingung karena merasa tidak pernah berfoya-foya.
Saya menyarankannya mencatat semua pengeluaran selama sebulan. Pada minggu pertama, ia terkejut. Dalam satu minggu, hampir Rp300.000 habis hanya untuk kopi dan camilan di kantor, belum termasuk makan siang yang kadang mahal karena ikut-ikutan teman.
Pada minggu kedua, ia menyadari memiliki tiga aplikasi streaming yang jarang dipakai, dengan total langganan hampir Rp150.000 per bulan. Pada minggu ketiga, ia melihat beberapa belanja daring yang ternyata hanya keinginan sesaat, bukan kebutuhan.
Setelah mengetahui semua itu, Dedi mulai berhemat. Ia membuat kopi sendiri di rumah, memilih satu layanan streaming yang paling sering dipakai, dan menunda belanja daring selama dua hari sebelum memutuskan membeli. Hasilnya, pada bulan kedua ia tidak perlu berutang, bahkan bisa menabung Rp300.000.
Dedi tidak menjadi kaya, tetapi ia lebih tenang. Ia tahu persis ke mana uangnya pergi, dan ia bisa tidur tanpa waswas.
Mengapa Catatan Keuangan Membuat Hidup Lebih Tenang
Bayangkan Anda mengendarai motor pada malam hari tanpa lampu. Anda pasti tegang, takut menabrak, dan jantung berdebar. Hidup tanpa pencatatan keuangan terasa serupa. Setiap bulan Anda hanya pasrah, uang habis tetapi bingung untuk apa.
Begitu mulai mencatat, Anda punya lampu. Anda bisa melihat pengeluaran mana yang sebenarnya tidak penting. Setelah tahu, Anda bisa mengaturnya kembali. Anda tidak harus berhenti total, cukup mengurangi sedikit demi sedikit. Perlahan, keuangan Anda membaik.
Yang tak kalah penting, Anda tidak lagi waswas menjelang akhir bulan karena sudah tahu posisi keuangan Anda. Meskipun pas-pasan, setidaknya Anda siap.
Ada manfaat lain yang jarang dibahas. Dengan catatan keuangan, Anda lebih berani mengambil keputusan. Ingin pindah kerja? Anda tahu berapa pengeluaran minimal setiap bulan, sehingga tahu pula berapa gaji minimal yang harus dicari. Ingin membuka usaha kecil? Anda bisa menghitung modal yang sudah terkumpul. Semuanya menjadi lebih jelas.
Jangan Terobsesi pada Kesempurnaan
Pesan saya hanya satu. Jangan stres jika catatan Anda masih acak-acakan, dan jangan stres jika suatu hari Anda lupa mencatat. Itu wajar, karena yang namanya belajar pasti ada salah.
Dalam akuntansi profesional pun dikenal prinsip materialitas. Artinya, selisih yang kecil dan tidak mengubah keputusan penting boleh diabaikan. Jadi, tidak perlu pusing karena selisih seribu atau dua ribu rupiah. Yang penting, Anda memahami gambaran besarnya.
Lebih baik catatan berantakan tetapi dilakukan setiap hari, daripada catatan rapi sempurna yang hanya dibuat sebulan sekali lalu terhenti di tengah jalan.
Jika suatu hari Anda lupa mencatat, jangan menyerah. Mulai lagi besok tanpa mengulang dari awal. Yang penting, Anda terus berjalan.
Keuangan Pribadi dan Usaha Kecil: Apa Bedanya?
Saya tambahkan sedikit untuk Anda yang sedang merintis usaha kecil. Untuk keuangan pribadi, Anda cukup mencatat pemasukan dan pengeluaran harian. Untuk usaha, ada tambahan satu hal: pisahkan uang pribadi dan uang usaha, jangan dicampur.
Caranya sederhana. Buat dua catatan, satu untuk kebutuhan sehari-hari dan satu untuk usaha. Pada catatan usaha, tulis semua pendapatan dari penjualan dan semua biaya usaha, seperti pembelian barang dagangan, ongkos kirim, dan sewa tempat. Kurangi pendapatan dengan biaya, maka hasilnya adalah keuntungan. Keuntungan itu bisa Anda ambil sebagai gaji atau disisihkan sebagai modal.
Dengan memisahkan catatan, Anda tidak akan bingung dan tahu apakah usaha Anda benar-benar untung atau justru rugi. Dalam pengamatan saya, tidak sedikit usaha kecil yang tutup karena pemiliknya tidak pernah mencatat. Uang hasil berjualan terpakai untuk belanja pribadi sehingga modal habis. Jika rajin mencatat, semuanya bisa diatur.
Kesimpulan: Akuntansi Itu Sahabat, Bukan Musuh
Semoga setelah membaca tulisan ini, Anda menyadari bahwa akuntansi bukanlah momok. Akuntansi adalah alat yang membantu Anda memahami diri sendiri, terutama soal uang. Ia tidak menghakimi, hanya menunjukkan fakta.
Mulailah dari yang paling kecil. Buka buku tulis, lalu catat uang saku atau gaji hari ini dan belanja tadi. Lakukan lagi besok. Tak lama lagi Anda akan terbiasa, dan tanpa terasa hidup Anda menjadi lebih tenang.
Pada akhirnya, yang membuat stres bukanlah uang yang sedikit, melainkan ketidakjelasan tentang uang itu sendiri.
Jadi, Kapan Mau Mulai?
Tidak perlu menunggu bulan depan, dan tidak perlu membeli buku khusus. Mulailah hari ini. Ambil ponsel, buka catatan, lalu tulis sisa uang di dompet Anda saat ini. Jika nanti ada pengeluaran, tambahkan.
Lakukan selama seminggu, dua minggu, hingga sebulan. Anda akan heran sendiri karena ternyata akuntansi tidak semenakutkan yang dibayangkan. Bahkan tidur Anda bisa lebih nyenyak karena tidak terus memikirkan uang.
