Adam Smith sang Pelupa Genius yang Ingin Mewujudkan Kemakmuran Universal

FEB UIN JKT
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Ridhwan Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Adam Smith, sang profesor logika dan filsafat moral yang pelupa dan pelamun karena terlalu larut dalam pikirannya atau terlalu asyik berpikir, telah mengubah dunia menjadi jauh lebih baik melalui magnum opusnya, yaitu An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Melalui simpatinya terhadap masyarakat dan kejeniusannya lah Adam Smith mematahkan penganut merkantilisme (merkantilisme merupakan keyakinan bahwa kekayaan negara ditentukan oleh banyaknya logam mulia). Oleh karena itu, banyak sekali penjajahan ke negara lain akibat paham ini karena mereka percaya bahwa kekayaan didapat melalui akumulasi uang itu sendiri, yang pada saat itu ialah emas dan perak yang harus didapatkan dengan cara apapun. “Tidak ada ekspedisi atau perang yang terlalu mahal untuk memuaskan dahaga akan logam mulia,” Mark Skousen, The Making of Modern Economics (2022: 15).

Serangan Mematikan terhadap Merkantilisme
Adam Smith melakukan serangan terhadap sistem merkantilisme dengan mengecam sistem tarif tinggi dan berbagai pembatasan perdagangan lainnya (hal ini karena dalam sistem merkantilisme, dilakukan terus pendorongan ekspor dan penghambatan impor dengan tujuan agar emas dan perak terus mengalir kedalam neraca perdagangan). Namun adam smith mengatakan bahwa ini ialah hal yang “absurd”. Adam Smith menyatakan bahwa setiap negara mempunyai “Keunggulan Absolute” yaitu suatu negara sebaiknya menghasilkan barang yang dapat diproduksi dengan biaya lebih murah, cepat, dan sedikit tenaga kerjanya (efisien). Untuk apa suatu negara memproduksi suatu barang jika biayanya lebih mahal dibandingkan impor. yang mana gagasan adam smith ini disempurnakan oleh david ricardo yang ia sebut sebagai Keunggulan Komparatif, contohnya:
Biaya peluang Negara Konoha membuat 1 unit A = ia kehilangan kesempatan membuat 0,5 unit B.
Biaya peluang Negara Sunagakure membuat 1 unit A = ia kehilangan kesempatan membuat 2 unit B.
→ Negara Konoha punya biaya peluang lebih rendah untuk A → keunggulan komparatif di A.
→ Negara Sunagakure punya biaya peluang lebih rendah untuk B → keunggulan komparatif di B.
Jika hanya memakai teori Adam Smith, negara lain tampak tidak punya alasan untuk berdagang. Ricardo masuk dan menjelaskan bahwa bahkan jika satu negara unggul absolut di semua barang, perdagangan tetap menguntungkan selama biaya peluang berbeda.
Pasar Bebas Menciptakan Kemakmuran Universal
Akumulasi emas dan perak mungkin memang memenuhi kantong orang kaya dan penguasa, tapi apa sumber kekayaan seluruh bangsa dan warga biasa? Smith menegaskan bahwa kekayaan bangsa-bangsa itu datang dari produksi dan pertukaran, bukan perolehan emas dan perak dengan merugikan bangsa lain. Kekayaan itu juga datang dari tanah, rumah, dan barang-barang konsumsi dari berbagai jenis.
Adam Smith menjelaskan bahwa kekayaan bangsa datang dari produktivitas tenaga kerja. Bagaimana cara untuk meningkatkan produktivitas ini? Yaitu dengan menciptakan pembagian kerja (proses produksi dibagi menjadi tugas-tugas kecil yang dilakukan oleh berbagai pekerja berbeda) sehingga menciptakan output produksi yang lebih banyak. Dari sinilah perluasan pasar dapat dilakukan melalui perdagangan nasional sehingga negara bisa menjadi lebih makmur tanpa merugikan negara lain.
Intinya:
Kekayaan negara = tingkat produktivitas tenaga kerja
Produktivitas meningkat melalui pembagian kerja
Pembagian kerja membutuhkan pasar besar
Perdagangan memperluas pasar → memacu produksi
Semua negara dapat menjadi lebih makmur tanpa merugikan satu sama lain
Lalu bagaimana produktivitas tenaga kerja, produksi, dan pertukaran dapat dimaksimalkan sehingga mendorong “kemakmuran universal”?
Adam Smith memiliki jawaban yang jelas yaitu BERIKAN KEBABASAN EKONOMI KEPADA MASYARAKAT!
Di magnum opusnya The Wealth of Nations, Smith selalu menyerukan prinsip “kebebasan alamiah,” yaitu kebebasan bagi individu untuk melakukan apa yang mereka anggap terbaik tanpa campur tangan negara. Prinsip inilah yang mendorong pergerakan bebas tenaga kerja, modal, uang, dan barang.
Melalui bukunya, Smith membahas bagaimana kekayaan dan kemakmuran tercipta melalui pasar bebas yang demokratis. Ada tiga karakteristik yang disorot dalam sistem ini, yaitu:
Kebebasan: Individu memiliki hak untuk memproduksi dan menukar barang, tenaga kerja, dan modal sesuai yang mereka anggap tepat.
Persaingan: Individu memiliki hak untuk bersaing dalam produksi dan pertukaran barang dan jasa.
Keadilan: Individu harus adil dan jujur sesuai dengan aturan masyarakat.
Inilah ketiga fondasi utama yang membuat mekanisme invisible hand bekerja. Smith menyatakan bahwa melalui sistem ini para individu dapat mengejar kepentingannya sendiri dari kebebasan yang mereka dapat. Melalui usaha dalam realisasi kepentingan pribadi inilah, secara tidak langsung, mereka dapat merealisasikan kepentingan individu lainnya (karena untuk merealisasikan kepentingan pribadi tentunya butuh manusia lainnya).
Adam Smith Mendukung Keserakahan?
Banyak orang yang mengatakan bahwa Adam Smith mendukung keserakahan karena mengabaikan kasus para kapitalis yang rakus, tukang tipu, dan memanfaatkan pelanggan untuk mengejar kepentingan pribadi. Tapi Smith tidak membenarkan keserakahan. Smith tidak ingin efisiensi ekonomi menggantikan moralitas. Kepentingan pribadi bukan berarti mengabaikan kebutuhan orang lain. Apa yang dikatakan Adam Smith ialah bahwa seseorang hanya dapat membantu dirinya dengan membantu orang lain. Karena bisnis yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan para pelangganlah yang akan paling menguntungkan. Kapitalis digerakkan untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan cara memaksimalkan laba dengan memusatkan kebutuhan publik. Dengan demikian, kapitalis yang berhasil mau tidak mau harus mengarahkan perhatiannya untuk membantu dan melayani orang lain.
Intinya ialah “Untuk memenuhi kepentingan diri, seseorang harus terlebih dahulu memberi manfaat kepada orang lain.” Kepentingan diri ini mesti terarah dan dibatasi oleh keadilan, bukanlah keserakahan. Lagi-lagi, pada akhirnya Smith ialah seorang filsuf moral yang tentunya mementingkan moralitas. Ya, walaupun Pasar Bebas ini dapat menciptakan kemakmuran universal, banyak sekali yang tidak mempraktikkannya dengan batasan moral yang sesuai keinginan utopia Smith, sehingga memang dibutuhkan peran negara untuk mengendalikan “nafsu” para kapitalis.
