Konten dari Pengguna

Volunterisme: Empati yang Mengubah Dunia

Muhammad Rifky Apriansyah

Muhammad Rifky Apriansyah

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rifky Apriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Komunitas yang sedang Melakukan Kegiatan Volunteer (Sumber: unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Komunitas yang sedang Melakukan Kegiatan Volunteer (Sumber: unsplash)

Bagaimana aksi sukarela menciptakan dampak global, mulai dari akar rumput hingga kebijakan dunia.

Di balik sorotan media yang sering menyoroti kekuatan politik dan ekonomi, terdapat kekuatan lain yang bergerak dalam diam: volunterisme. Relawan—dengan tangan kosong namun hati yang penuh—telah menjadi aktor penting dalam membentuk dunia yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan berperikemanusiaan. Menurut laporan United Nations Volunteers (UNV) 2022, lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia terlibat dalam kegiatan sukarela setiap tahunnya. Ini menjadikan volunterisme sebagai kegiatan sosial terbesar di dunia, melampaui banyak lembaga internasional. Aksi ini bersifat lintas budaya, agama, usia, dan kelas sosial. Volunterisme tidak hanya menjadi solusi lokal atas masalah sosial, tetapi juga memainkan peran penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Misalnya, relawan lingkungan di Afrika Sub-Sahara membantu reforestasi lahan tandus; relawan kesehatan di Asia Tenggara memberikan edukasi tentang sanitasi dan vaksinasi; dan relawan pendidikan di Amerika Latin menjembatani kesenjangan literasi di daerah terpencil. Dari sisi psikologis, penelitian oleh Musick & Wilson (2008) menunjukkan bahwa volunterisme secara signifikan meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, dan memperpanjang harapan hidup. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan, tetapi juga oleh para relawan itu sendiri. Dari sisi empiris, studi sistematis oleh World Bank (2020) menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat partisipasi relawan yang tinggi cenderung memiliki indeks pembangunan manusia (IPM) yang lebih baik. Ini disebabkan oleh meningkatnya rasa memiliki terhadap komunitas, peningkatan kapasitas lokal, serta partisipasi warga yang aktif dalam tata kelola. Volunterisme juga mendorong perubahan struktural. Gerakan Black Lives Matter, Fridays for Future, hingga aksi sosial #Kitabisa dan @indorelawan di Indonesia menunjukkan bahwa gerakan akar rumput yang dimulai oleh relawan bisa memengaruhi kebijakan nasional dan internasional. Dalam konteks Indonesia, volunterisme bukanlah hal baru. Tradisi gotong royong adalah manifestasi lokal dari semangat ini. Namun kini, teknologi dan media sosial memperluas jangkauan serta dampaknya. Meski penuh potensi, volunterisme masih menghadapi tantangan serius: kekurangan dukungan dana, pengakuan hukum yang terbatas, serta potensi eksploitasi. Maka, perlu ada kebijakan publik yang lebih kuat untuk mendukung ekosistem relawan yang berkelanjutan, mulai dari pelatihan, sertifikasi, hingga insentif berbasis prestasi sosial. Volunterisme bukan sekadar aktivitas tambahan. Ia adalah pilar ketiga dalam pembangunan berkelanjutan, berdampingan dengan sektor publik dan swasta. Dalam dunia yang makin ter polarisasi, relawan menjadi simpul harapan—menghubungkan kemanusiaan dengan aksi nyata. Jika dunia ingin berubah, maka perubahan sekecil atau sebesar apa pun itu dimulai dari tangan-tangan yang bersedia memberi tanpa pamrih. Dan tangan itu adalah tangan para relawan.