Konten dari Pengguna

Karma Amerika Serikat, Balogun Lolos Hukuman Berujung Dibantai Belgia

Muhammad Rifqi Farisi

Muhammad Rifqi Farisi

Dosen di Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rifqi Farisi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemain Timnas Amerika Serikat Folarin Balogun menahan bola saat melawan Timnas Belgia pada pertandingan 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Seattle, Seattle, Washington, AS, Senin (6/7/2026). Foto: Albert Gea/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Timnas Amerika Serikat Folarin Balogun menahan bola saat melawan Timnas Belgia pada pertandingan 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Seattle, Seattle, Washington, AS, Senin (6/7/2026). Foto: Albert Gea/REUTERS

Karma seolah menjadi kata yang paling tepat untuk menggambarkan nasib Amerika Serikat di Piala Dunia 2026. Setelah keputusan FIFA menangguhkan hukuman kartu merah Folarin Balogun memicu kontroversi dan dianggap menguntungkan tuan rumah, Amerika Serikat justru harus menerima kenyataan pahit usai dibantai Belgia dengan skor telak 1-4 pada babak 16 besar. Bagi banyak penggemar sepak bola, hasil tersebut menjadi ironi yang seakan membalas polemik pembatalan sanksi Balogun sebelum pertandingan.

Kontroversi bermula saat Balogun menerima kartu merah dalam pertandingan melawan Bosnia dan Herzegovina akibat tekel keras yang mengenai pergelangan kaki lawan. Wasit tanpa ragu mengusir penyerang Amerika Serikat tersebut karena menilai pelanggaran yang dilakukan membahayakan keselamatan pemain lawan. Berdasarkan regulasi FIFA, Balogun seharusnya menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan.

Namun, hanya beberapa jam sebelum laga babak 16 besar menghadapi Belgia, FIFA memutuskan menangguhkan pelaksanaan hukuman tersebut dengan menggunakan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA sehingga Balogun tetap diizinkan tampil. Keputusan itu langsung memicu kontroversi karena dinilai sebagai langkah yang sangat jarang terjadi dalam turnamen sebesar Piala Dunia.

Kontroversi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya meminta Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau kembali kartu merah Balogun. Trump bahkan mengaku memahami peraturan sepak bola dan menilai insiden tersebut bukanlah sebuah pelanggaran, melainkan hanya benturan dua pemain yang sama-sama mengejar bola.

Pernyataan Trump justru memicu gelombang kritik. Banyak pengamat sepak bola, mantan pemain, hingga federasi-federasi Eropa menilai tekel Balogun merupakan pelanggaran serius yang memang layak diganjar kartu merah. Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Belgia juga mengajukan keberatan terhadap keputusan FIFA karena menganggap pembatalan hukuman tersebut mencederai prinsip keadilan dalam kompetisi. Namun, keberatan tersebut akhirnya ditolak.

Ironisnya, kehadiran Balogun tidak mampu mengubah nasib Amerika Serikat. Belgia tampil jauh lebih efektif sepanjang pertandingan dan sukses menghancurkan tuan rumah dengan skor telak 4-1. Amerika Serikat pun harus mengakhiri perjalanan mereka di babak 16 besar, sementara Belgia melaju ke perempat final.

Usai pertandingan, gelandang Belgia Nicolas Raskin bahkan menyebut kemenangan tersebut sebagai bentuk "keadilan". Pernyataan itu semakin memperkuat narasi yang berkembang di kalangan pecinta sepak bola bahwa kontroversi sebelum pertandingan seolah mendapatkan jawabannya di atas lapangan.

Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan tersebut, sepak bola kembali menunjukkan bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh keputusan administratif semata. Kontroversi mungkin dapat mengubah daftar pemain yang tampil, tetapi hasil pertandingan tetap ditentukan oleh performa selama 90 menit di lapangan.

Bagi banyak penggemar sepak bola, kekalahan telak Amerika Serikat bukan sekadar hasil pertandingan. Peristiwa itu dianggap sebagai ironi, bahkan oleh sebagian pihak disebut sebagai "karma" atas polemik pembatalan hukuman Balogun yang sejak awal memicu perdebatan mengenai integritas, sportivitas, dan keadilan dalam kompetisi sepak bola dunia.