Kisah Bersama Mumun

ASN yang gemar bercerita dan menikmati hidup dengan lembaran kertas dan secangkir bahagia
Tulisan dari Muhammad Rifqi Saifudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah menonton film Pocong dengan salah satu karakter pocongnya bernama “Mumun”? Ya, aku juga.
Mumun dan pocong lainnya adalah tontonan masa kecilku. Salah satu film horror yang sukses menurutku. Mumun adalah alasanku takut akan ruangan kosong dan menjaga rumah sendirian di siang bolong.
Sinetron Mumun kutonton di siang bolong, bukan di malam hari yang mencekam. Awalnya, Mumun kutonton layaknya film biasa seperti Doraemon dan Dora. Bukan hanya sekadar, tapi menikmati cerita di dalamnya.
Entah mulai kapan, semuanya berubah menjadi menyeramkan.
Sampai hari ini, kisah Mumun tetap menjadi yang terseram. Mencoba menuliskan masa-masa kelam itu pun perlu keberanian. Semoga aku bisa kuat menulis ini sampai selesai (dan mimpi itu tidak lagi terulang).
“Pah?” Aku berjalan sambil berkata lirih mencari ayah di tengah malam. Aku sudah kelas 4 SD, tapi tidurku masih bersama ayah. Hari itu, merasa sendirian, aku terbangun dan kulihat sudah tidak ada ayah di samping.
Kala itu aku masih anak tunggal. Ayah dan ibu ternyata tidur bersama, aku ikut di tengah-tengahnya. Akhirnya aku pun bisa tidur.
Tiba-tiba, aku berada di tengah jalan. Di sana tidak ada apa-apa, jalanan sepi. Kulihat ke samping, sepedaku terjatuh. Ringsek. “Aku habis jatuh ya?” begitu pikirku.
Kisah sepeda mengingatku tentang hari itu.
Bulan puasa, aku pulang dari masjid selepas tarawih dengan sepeda. Setan dikurung ketika bulan Ramadhan, begitu kata orang-orang. Toh, aku juga tidak pernah melihat “makhluk dunia lain” itu secara langsung. Aku pulang tarawih sendirian tidak akan terjadi apa-apa, toh ini bulan puasa, begitu pikirku.
Hari itu, aku sudah hampir sampai di depan rumah. Kulihat ada wanita yang keluar dari rumah. “Lah, ini tetanggaku kok pulang dari rumah? Bukannya orang rumah tarawih semua?”
Aku pulang bersepeda, yang lain masih di masjid.
Wanita ini berjalan ke arah lain membelakangiku, masih kukira dia tetangga yang rumahnya memang di sana. Kucoba mengejarnya untuk sekadar melampiaskan rasa penasaran. Kulewati rumah dan saat berada di tempat dia, tidak ada apa-apa. Hanya gelap.
Kucoba terus ke depan, nihil. Semuanya makin membingungkan karena itu saat pulang tarawih. Seharusnya banyak yang lalu lalang. Saat itu nihil.
Aku pulang lebih awal dari yang lain, tapi kenapa saat itu tidak ada yang lewat? Hanya aku sendiri. Bahkan keluargaku yang harusnya di belakang juga tidak terlihat.
Tiba-tiba, melayang pocong di belakang. Kaget dan aku langsung berlari. Aku bisa berlari tapi Mumun terlihat makin dekat. Makin dekat dan terus mendekat.
Aku terbangun. Sekarang di tempat tidur, suasana tengah malam, di sampingku ada ayah. Melihat ada beliau di samping, aku merasa aman dan tidur lagi.
Paginya, tidak ada terpikir Mumun tadi malam. Sarapan dan berangkat sekolah seperti biasanya. Siangnya, rutinitas ketika pulang sekolah tetap kulakukan, menonton Mumun dan pocong lainnya.
Malamnya, kejadiannya terulang. Terus menerus terulang.
Sekarang aku sudah tidak kecil lagi, tidak lagi takut tidur sendiri. Tapi masih tidak bisa tidur dengan gelap gulita.
Pernah suatu hari kucoba tidur tanpa cahaya sedikitpun. Mencoba tidur tapi entah kenapa perasaan tak karuan. Jantungku berdegup kencang. Sangat kencang.
Badanku kaku. Tidak tidur tapi mata tak bisa terbuka. Suara-suara aneh kudengar dari telinga. Makin memberontak makin kaku badanku.
Sampai saat ini, kejadian serupa masih beberapa kali terjadi. Namun aku tahu tanda-tandanya. Saat tidur namun jantung mulai berdegup, ada kemungkinan kejadian serupa terulang. Agar semuanya tidak terjadi, aku berusaha bangun. Tidak tidur, setidaknya untuk beberapa menit ke depan.
Mumun satu-satunya dan entah sampai kapan akan tetap menjadi satu-satunya film Pocong yang kutonton dengan serius.
Hantu itu tidak ada, hanya ada jin dan setan yang menyerupai mereka. Ada yang bilang saat kita tidak takut, mereka yang akan takut. Ya, itu bisa jadi benar. Namun sampai sekarang, bayangan Mumun terus ada di kepalaku.
Masa-masa dikejar pocong tiap malam terus terngiang-ngiang. Tak terhitung berapa kali aku bergidik saat menulis cerita ini. Melihat film pembantaian lebih kupilih daripada menonton horor dengan berbagai jumpscare yang ada.
Setidaknya film gore tanpa hantu memperlihatkan makhluk yang jelas kapan munculnya. Mungkin ada jumpscare tapi terprediksi. Hantu adalah entitas mengerikan yang sampai hari ini tetap berhasil membuatku bergidik ngeri.
Rumah hantu adalah wahana lain yang tidak akan kudatangi. Pernah ketika kuliah kucoba melawan rasa takut. Dan ah… bahkan rasanya pun aku lupa. Sudah berusaha kucoba gali ingatan kala itu tapi nihil, tidak ada yang kuingat.
Hanya teriakan teman-teman dan aku yang berjalan-jalan dengan hati-hati namun sebenarnya takut setengah mati. Rasanya aku lupa, entah lupa atau mencoba lupa.
Tapi aku jauh lebih berani dari dulu, ini hal yang patut kubanggakan. Lampu cahaya terang adalah caraku tidur setidaknya sampai SMA. Aku tidur sendiri namun tidak ada istilah tidur dalam remang-remang, apalagi gelap.
Mencoba menjalani hal baru sesulit itu ternyata, apalagi berdamai dengan trauma. Hantu adalah hal yang tidak kasat mata, namun kadang kala itulah yang membuat semuanya begitu sulit untuk dilakukan.
Sebelum hantu, aku mencoba untuk berusaha tetap tenang kala sendirian. Ini terpaksa kulakukan di saat kuliah. Hidup di kamar sendirian tanpa ada siapa-siapa. Untungnya kamar kosan sempit sehingga aku bisa melatih diri untuk mencoba sendirian.
Saat pulang libur kuliah, ternyata sendirian di rumah tidak semudah saat di kosan. Ada kalanya aku ditinggal menjaga rumah saat yang lain pergi. Dan… sampai hari ini pun perasaan “tidak sendirian itu masih ada”.
Tidak ada siapa-siapa di rumah yang dulu menjadi tempatku bermimpi pocong ternyata sebegitu menancapnya di kepala.
Setidaknya saat ini ada satu hal yang meningkat: Tidur remang-remang.
Tidur gelap gulita sangat bukan aku, entah sampai kapan aku tidak bisa tidur semacam itu. Perasaan jantung deg-degan selalu menghinggapi kala semuanya hitam. Namun saat ini, remang-remang malah menjadi kewajiban agar tidur nyenyak.
Walaupun remang-remang beberapa kali menjadi bumerang dan membuatku harus menahan kantuk sesaat demi menghindari sensasi kaku. Tapi setidaknya, tubuh menuju ke arah yang lebih baik. Penelitian mengatakan tidur dengan lampu terang tidak baik untuk kesehatan.
Pada akhirnya, sampai detik ini jangan pernah mengajakku menonton film horor. Film ada untuk dinikmati, untuk apa menonton kalau hanya membuatmu deg-degan dan tak karuan sepanjang film. Entah sampai kapan trauma terhadap Mumun akan hilang.
Ada keinginan untuk menonton film horor dan merasakan sensasinya, menerjang trauma yang ada. Namun, bayangan mimpi dikejar itu menghalangi. Cerita ini saja membuatku berpikir untuk menahan kantuk malam ini.
Tapi, bercerita ini adalah permulaan. Semoga aku bisa menerjang trauma ini seiring berjalannya waktu. Semoga.
