Kisah Es Gak Beres yang Beres

ASN yang gemar bercerita dan menikmati hidup dengan lembaran kertas dan secangkir bahagia
Tulisan dari Muhammad Rifqi Saifudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

The power of kepepet sangat nyata dirasakan oleh banyak orang, salah satunya adalah kisah pemuda asal Asahan, Sumatera Utara bernama Yudi Efrinaldi. Berawal dari profesi sebagai guru honorer dengan ekonomi yang pas-pasan, Yudi berusaha memutar otak mencari cara untuk mendongkrak perekonomian. Setelah beberapa kali mencoba berbisnis, akhirnya jodoh Yudi adalah Es Gak Beres yang ternyata membereskan masalah ekonomi Yudi.
Habiskan Jatah Gagal
Ada yang pernah berkata bahwa tiap orang punya jatah gagal masing-masing, tidak ada yang tau kapan kita berhasil tapi ketika kita terus bangkit setelah gagal maka satu jatah gagal sudah berkurang. Ini artinya langkah menuju kesuksesan akan makin mendekat.
Sebelum sukses dengan Es Gak Beres, Yudi pernah berjualan bubur ayam di pinggir jalan dan pisang krispi online di Kisaran Ojek Online (KIJEK). Walaupun belum berhasil di dua bisnis sebelumnya, dapat dilihat bahwa Yudi sudah memiliki kreativitas dan pintar mencari peluang. Ini terlihat dari bisnisnya yang sudah merambah online di KIJEK, tidak hanya berhenti berjualan di pinggir jalan namun sudah merambah dunia online. Kreativitas inilah yang akan membawa Yudi nantinya meraih kesuksesan.
Es Gak Beres bermula pada tahun 2019 ketika Yudi berjualan jus buah dengan gerobak di pinggir jalan mulai pukul tiga hingga enam sore saat Ramadan alias berjualan takjil. Suatu hari celetukan konsumen memunculkan ide untuk menciptakan brand “Es Gak Beres”.
Yudi lalu mulai mencoba peruntungan dengan menjual es kekinian seperti thai tea, green tea, dan yang lainnya dengan inovasi tambahan varian buah-buahan. Es ini ia jual dengan harga lima ribuan saja dengan menggunakan resep yang didapat dari Youtube. Bermodalkan minuman kekinian dengan branding yang tidak biasa, kali ini Yudi mencicipi jatah keberhasilan dengan Es Gak Beres.
Berguna bagi Sesama
Es Gak Beres tidak menghasilkan keburukan bagi Yudi, pun bagi warga sekitar usaha ini malah membantu dan membereskan banyak hal. Yudi ingin menularkan kesuksesannya pada orang sekitar, termasuk kepada para pelajar. Ini membawa Yudi membawakan pelatihan-pelatihan untuk menanamkan jiwa kewirausahaan kepada sekolah-sekolah penggerak di Kabupaten Asahan. Yudi yakin bahwa jiwa wirausaha sangat diperlukan sehingga ia sering berbagi cerita mengenai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kepada siswa dan mahasiswa.
Ini tentunya akan menciptakan Yudi-Yudi yang lain yang dapat melahirkan wirausaha muda yang turut ambil bagian dalam memajukan perekonomian Indonesia. Jadi bukan hanya menciptakan Nasib yang lebih baik bagi orang yang bersangkutan, dengan berwirausaha maka lapangan pekerjaan bagi banyak warga sekitar sehingga ekonomi akan terus berjalan.
Berawal dari mencari cara untuk lepas dari keterpurukan, Es Gak Beres juga turut terjun dalam kegiatan sosial untuk melepas kesusahan ekonomi dari orang-orang sekitar. Tiap Jumat Es Gak Beres menyediakan layanan pemberian sembako gratis dan di bidang kesehatan juga menyediakan ambulans gratis. Ini adalah bentuk rasa Syukur Yudi sekaligus membantu sesama karena Yudi juga pernah berada pada posisi serupa.
Es Gak Beres pun Kadang Gak Beres
Walaupun sudah memiliki hampir 500 mitra cabang yang tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Aceh, Jambi, Lampung, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, usaha Yudi ini juga tidak lepas dari kerikil-kerikil ketika berupaya berinovasi. Omzet Es Gak Beres pernah anjlok ketika Yudi berupaya untuk menaikkan tarif agar tidak terjebak di harga lima ribuan, tapi ini berhasil diatasi dengan menyediakan paket bunding dan menjual berbagai varian ukuran dengan beragam harga.
Banyaknya mitra membuat Es Gak Beres yang awalnya berjualan menggunakan gerobak kembali mencoba peruntungan dengan ekspansi membuka café dan resto. Selain untuk mempertahankan brand unik yang sudah kuat, ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi Masyarakat sekitar tempat berjualan selain membuka lapangan pekerjaan melalui mitra dan pelatihan yang disediakan.
Penjualan Es Gak Beres rata-rata mampu menjual hingga 300 cup per hari dengan hasil penjualan rata-rata sebesar 300 ribu sampai dengan 1,5 juta rupiah. Yudi merupakan bukti bahwa buah dari tekad keras dan kreativitas adalah kesuksesan.
Tidak hanya yang bisa memprediksi jatah gagal tiap orang, tapi sekali lagi kegagalan adalah awal dari kesuksesan karena sekali bangkit dari gagal maka satu kali jatah kegagalan sudah kita gugurkan. Kesuksesan Yudi dan kedermawannya dalam hal sosial maupun ilmu membawanya menjadi salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Award 2021 dengan total pendaftar 13.148 orang.
Kisah Yudi menginspirasi banyak orang untuk bangkit dari keterbatasan dan menjadi bukti bahwa kreativitas adalah salah satu kunci dari kesuksesan. Kisah Yudi dengan Es Gak Beres dapat dijadikan sebagai cambuk semangat bahwa apapun kondisi kita tidak ada hal yang mustahil.
