Mimbar yang Dijual

Eks. Imam Besar Masjid NU At-Taqwa, Jepang. Dai Internasional dan pengajar pesantren di Probolinggo asal Temanggung, yang pernah aktif berdakwah di Korea, Taiwan, dan Jepang.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya pernah duduk di teras sebuah pesantren di Jawa Timur ketika seorang tamu datang dengan mobil yang tidak biasa diparkir di halaman pesantren. SUV hitam, kaca film gelap, pelat nomor cantik. Sopirnya turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan gerakan yang sudah terlatih. Yang keluar bukan kiai, bukan pedagang, bukan wali santri yang baru pulang merantau. Yang keluar adalah seorang calon pemimpin daerah.
Ia masuk ke kediaman kiai dengan langkah yang sudah tahu betul di mana harus merendah dan di mana harus tegak. Tangannya sudah terangkat sebelum sampai di depan pintu, siap bersalaman dengan gaya yang terlihat seperti takzim, tapi terasa seperti negosiasi. Saya tidak diajak masuk. Namun, saya tahu percakapan seperti itu selalu mengikuti pola yang sama.
Di suatu titik dalam percakapan itu, sang kiai akan menyebut sesuatu yang pesantren butuhkan. Bukan dengan nada meminta. Dengan nada berkelakar. "Genteng ini sudah bocor sejak tahun lalu, Pak." Atau: "Kelas yang baru belum selesai dibangun, santrinya sudah telanjur datang." Kata-kata itu diucapkan seolah sekadar berbagi cerita, bukan transaksi. Namun, keduanya tahu bahwa itu bukan cerita. Itu adalah pembukaan negosiasi. Calon pemimpin daerah itu keluar empat puluh menit, kemudian dengan senyum yang sudah mendapati apa yang ia cari. Dalam dua minggu, satu truk genteng tiba di halaman pesantren.
Ini bukan cerita tentang satu pesantren atau satu calon pemimpin daerah. Ini adalah arsitektur yang sudah berdiri lama di hampir setiap kabupaten di pulau ini: dibangun bukan dari batu bata, tapi dari kepercayaan yang telah lama dipelintir menjadi komoditas. Para pemuka agama tidak menyebut ini korupsi. Mereka tidak menyebutnya suap. Mereka menyebutnya silaturahmi, dan mereka menyebutnya bantuan, dan jika perlu, mereka menyebutnya rezeki yang datang dari arah yang tidak terduga. Namun, ada satu nama yang lebih jujur untuk ini semua: “nyogok”.
Estetika Batuk dan Teater Rapuh
Ada sebuah kode budaya yang tidak tertulis, tapi dipraktikkan secara massal dan sistematis, sebuah koreografi tubuh yang dirancang dengan sangat saksama dan telah dipoles selama bertahun-tahun hingga terasa alami. Otoritas spiritual rupanya tidak cukup ditegaskan hanya melalui kedalaman ilmu atau kebijaksanaan kata. Ia harus ditunjukkan melalui tubuh.
Seorang pemimpin spiritual seolah merasa wajib memelihara citra kelemahan fisik. Mereka kerap berjalan dengan langkah yang dibuat payah, meski usia mereka masih berada di puncak masa produktif. Batuk yang kering dan berkepanjangan dilepaskan di tengah-tengah khotbah, sebuah jeda teatrikal yang seketika membuat seluruh ruangan menahan napas dalam kecemasan yang kemudian dipanen oleh sang pemimpin.
Kerapuhan fisik ini sengaja dipelihara sebagai simbol visual yang mengirimkan pesan bawah sadar: bahwa seluruh energi dan kehidupan sang pemimpin telah habis terkuras demi keselamatan batin umatnya. Ini adalah jebakan psikologis yang jenius.
Namun, kepayahan yang dipamerkan di atas mimbar itu menguap tanpa bekas ketika aroma kekuasaan dan materi mulai mendekati pekarangan mereka. Sang tokoh agama tidak pernah meminta sumbangan secara terang-terangan karena tindakan itu terlalu kasar bagi reputasinya yang luhur. Beliau memilih seni mengeluh pasif-agresif yang dikemas sebagai kepedulian sosial, suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh telinga yang paling strategis di ruangan itu.
Dan begitu sinyal itu ditangkap, transaksi berlangsung dalam hitungan menit. Sang politisi pulang dengan jaminan suara dari ribuan pengikut yang tangannya siap digerakkan kapan saja sesuai instruksi sang guru. Sang kiai mendapatkan bangunan baru. Tidak ada satu pun pihak yang sudi mempertanyakan apakah uang yang digunakan bersih dari noda korupsi.
Arsitektur Transaksi
Setiap kali musim pilkada tiba, halaman-halaman pesantren tiba-tiba menjadi ramai dengan tamu-tamu berjas yang tidak biasanya peduli pada kitab kuning. Para kiai menyambut mereka dengan hangat. Ada yang memang tulus senang kedatangan tamu. Namun, ada yang menunggu, dengan sabar yang sudah terlatih, untuk momen ketika harga diri pesantren bisa ditukar dengan sesuatu yang lebih konkret dari doa.
Yang membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang bukan kenyataan bahwa transaksi itu terjadi. Yang membuat saya gelisah adalah kenyataan bahwa semua pihak yang terlibat tidak melihatnya sebagai transaksi. Mereka melihatnya sebagai kebajikan.
Inilah dekadensi moral dalam wujudnya yang paling halus dan paling berbahaya. Bukan ketika orang melakukan kejahatan sambil tahu itu kejahatan, melainkan ketika orang melakukan kejahatan sambil percaya sepenuh hati bahwa itu kebaikan. Seluruh sistem penilaian moral telah bergeser perlahan, tidak terasa, seperti tanah yang amblas satu milimeter setiap harinya.
Setelah genteng terpasang, foto-foto beredar. Kiai berdiri di samping calon kepala daerah, keduanya tersenyum di depan bangunan yang kini tidak bocor. Caption-nya selalu variatif, tapi maksudnya selalu sama. "Alhamdulillah, bapak X peduli kepada umat."
Tidak ada yang bertanya dari mana uang genteng itu berasal. Para santri duduk di pengajian berikutnya dan mendengarkan sang kiai berbicara tentang pentingnya kejujuran.
Dinasti di Balik Tembok Pesantren
Jika kita berjalan keluar dari gerbang istana spiritual mereka yang megah, kita akan segera disambut deretan mobil mewah milik keluarga sang tokoh yang terparkir rapi di garasi khusus. Sementara itu, tepat di luar tembok pembatas yang tinggi, masyarakat kelas bawah memeras keringat setiap hari hanya untuk memastikan dapur mereka tetap mengepul.
Para pengikut yang miskin dengan sukarela menyerahkan koin-koin terakhir dari dompet mereka ke dalam kotak sumbangan, berharap pengorbanan materi itu ditukar dengan selembar doa keselamatan. Mereka tidak pernah memiliki keberanian intelektual untuk menyadari bahwa keringat dan kemiskinan mereka tengah digunakan mendanai sebuah dinasti feodal baru yang hidup dalam kemewahan tanpa batas.
Anak-anak sang kiai tumbuh dalam gelimang fasilitas terbaik, mewarisi takhta kepemimpinan spiritual secara turun-temurun tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya kelaparan. Sementara santri dari keluarga miskin yang membangun pesantren itu dengan keringat mereka tidak memiliki kepemilikan apa pun atas institusi yang mereka bangun.
Ketika Tasbih Menjadi Kostum
Begitu tertangkap, peci dipakai. Begitu tertangkap, tasbih dipegang. Begitu tertangkap, ekspresi menyesal dipasang di depan kamera dengan presisi yang mencurigakan. Di ruang-ruang sidang pengadilan tempat para pencuri uang rakyat diadili, kita menyaksikan transformasi visual yang seragam. Para terdakwa yang sebelumnya terbiasa hidup dalam kemewahan sekuler mendadak muncul dengan jilbab lebar, baju takwa, atau seuntai tasbih yang terus diputar di depan kamera.
Yang paling menyedihkan adalah bagaimana para tokoh agama di luar persidangan sering kali menolak memberikan sanksi moral kepada para penjahat kaya ini. Mereka justru memilih menjadi saksi yang meringankan, atau mengeluarkan pernyataan yang mengaburkan keadilan demi hubungan baik yang telah lama terjalin di balik meja makan.
Diam itu bukan netral. Diam itu adalah pernyataan. Pernyataan bahwa hubungan yang telah memberikan keuntungan lebih penting daripada kejujuran kepada jamaah yang selama bertahun-tahun menitipkan bimbingan moral mereka kepadanya.
Hukum yang Kerdil, Masyarakat yang Menyerah
Dalam tradisi Islam yang paling dasar, seorang alim memiliki satu tugas yang tidak bisa dinegosiasi. Tugas itu tidak mendirikan pesantren, meskipun itu mulia. Bukan menghafalkan kitab, meskipun itu perlu. Tugas seorang alim yang paling mendasar adalah menyebut yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah, meskipun keduanya tidak populer. Imam Ahmad bin Hanbal dipukul di hadapan khalifah yang berkuasa dan tidak bergerak dari pendiriannya. Kita sudah sangat jauh dari sana.
Kita kini hidup dalam masyarakat yang menyerahkan seluruh penilaian moral kepada hukum formal, sebuah lembaga yang hanya mengetahui satu hal: seseorang melanggar aturan tertulis atau tidak. Hukum tidak bertanya tentang niat. Tidak bertanya mengapa. Tidak bertanya apakah sebuah perbuatan yang tidak melanggar pasal apa pun tetap bisa merusak tatanan kemanusiaan yang lebih dalam.
Hukum adalah lantai moral yang paling rendah. Kita sudah puas berdiri di sana seolah itu puncak. Sementara para pemuka agama—yang seharusnya menjaga lantai-lantai di atasnya—justru sibuk bernegosiasi di lantai yang sama dengan para politisi.
Warisan Teologi yang Tidak Pernah Diperiksa
Seorang ibu berkata kepada anaknya yang akan merantau: "Yang penting jadi orang, nak. Jangan lupa salat." Kalimat itu tampak polos. Namun di dalamnya, tersimpan satu warisan teologi yang belum pernah diperiksa, yang diturunkan dari generasi ke generasi seperti warisan tanpa surat wasiat. Bahwa sukses adalah tujuan, dan agama adalah penyeimbang. Bahwa boleh mencari uang dengan cara apa pun asal ujungnya ada ibadah.
Para pemuka agama yang seharusnya meluruskan kalkulasi ini justru menguatkannya. Mereka menerima sumbangan masjid dari siapa saja tanpa bertanya. Mereka memberikan gelar dermawan kepada siapa saja yang memberikan amplop. Dan ketika nama-nama itu kemudian muncul dalam kasus korupsi di halaman pertama koran, mereka bergeser topik ceramah. Tidak ada yang meminta maaf kepada jamaah yang telah dibimbing untuk mengagumi orang yang salah.
Yang Tidak Menyerah
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua pemuka agama adalah pedagang. Saya tahu ada yang tidak. Saya pernah bertemu dengan mereka, orang-orang yang menolak amplop, yang menerima tamu politisi dengan sopan, tapi tidak memberikan apa pun yang diminta—yang tetap menyebut yang benar sebagai benar, meskipun itu membuat mereka tidak pernah diundang ke acara-acara besar.
Mereka ada. Namun mereka adalah minoritas yang terdesak, dan suara mereka kalah dengan suara yang lebih keras dari panggung-panggung yang lebih besar dan lebih terang. Yang mendominasi panggung-panggung besar itu adalah wajah-wajah yang sudah mahir membungkus transaksi dengan bahasa langit.
Masyarakat yang mendengarkan tidak memiliki alat untuk membedakannya. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena alat itu, kemampuan membedakan simbol dari substansi sudah lama dianggap sebagai kecurigaan yang tidak sopan kepada ulama.
Sebelum Subuh
Namun saya juga telah melihat yang lain. Di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, ada seorang kiai yang saya kunjungi beberapa kali dalam lima tahun terakhir. Setiap kali saya datang, tidak ada mobil baru di halamannya. Pengajiannya selalu penuh, tapi ia tidak pernah menerima tamu yang datang dengan janji material.
Suatu kali, seorang pengusaha dari kota besar datang membawa amplop tebal. Sang kiai menerimanya dengan ramah, lalu memintanya untuk menyerahkan amplop itu langsung ke kotak wakaf yang terbuka di sudut ruangan, di depan semua orang yang hadir, dengan catatan nama dan jumlahnya yang bisa dibaca siapa pun. Pengusaha itu tidak kembali lagi. Sang kiai tidak kehilangan apa pun yang semestinya ia miliki.
Perubahan yang nyata tidak datang dari atas. Ia tidak akan datang dari kebijakan pemerintah, meskipun itu baik dan perlu. Ia tidak akan datang dari fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang pemimpinnya sendiri adalah bagian dari masalah yang sedang ia coba selesaikan. Perubahan datang dari momen-momen kecil ketika seseorang di dalam jamaah itu akhirnya berani mengangkat tangan dan bertanya: Dari mana uang pembangunan ini berasal? Siapa yang mengauditnya? Bolehkah kami membaca laporan keuangan lembaga ini?
Pertanyaan itu bukan serangan. Bukan ketidaksopanan. Pertanyaan itu adalah bentuk hormat yang paling tinggi yang bisa diberikan kepada seseorang yang mengeklaim memegang amanah publik. Menghormati seseorang dengan benar kadang berarti bertanya kepada mereka dengan keras.
Ada sebuah forum yang sudah berlangsung selama lebih dari dua puluh lima tahun di negeri ini tanpa tiket masuk, tanpa panggung yang memisahkan siapa pun dari siapa pun yang lain, tanpa dekorasi yang dirancang untuk mengesankan. Ribuan orang datang dan bertahan sampai pukul tiga dini hari bukan karena mereka takut pada pemimpinnya, bukan karena ada iming-iming material yang menunggu di ujung malam. Mereka datang karena di tempat itu kebenaran tidak dijual dan tidak pula disembunyikan demi kenyamanan siapa pun.
Kita tidak perlu meniru semua detail dari forum itu. Namun, prinsip yang paling mendasarnya bisa ditanam di mana saja, dalam kelompok kecil apa pun, di masjid kampung apa pun. Bahwa kepercayaan dibangun bukan dengan kemegahan, melainkan dengan konsistensi antara apa yang diucapkan di atas mimbar dan apa yang dilakukan di luar mimbar.
Seseorang yang berangkat dari Semarang menuju Jakarta tidak akan kehilangan Pekalongan hanya karena ia menarget Jakarta. Kota-kota itu akan tetap tertempuh, justru karena ia tahu ke mana ia pergi. Namun, seseorang yang hanya menarget Pekalongan tidak akan pernah melihat Jakarta. Dan anehnya, ia sering kali tidak sampai ke Pekalongan juga, karena tanpa tujuan yang jelas, perjalanan itu cenderung berhenti di mana saja yang tampak menarik di tepi jalan.
Kalkulasi yang benar tidak membutuhkan kebijakan baru. Ia membutuhkan satu perubahan kecil dalam satu kalimat yang diucapkan seorang ibu kepada anaknya di malam sebelum keberangkatan. Bukan "Yang penting jadi orang dan jangan lupa salat," melainkan "Jadikan Allah tujuanmu, dan dunia akan ikut tertempuh." Satu kalimat. Satu generasi. Satu cara berhitung yang berbeda.
Orang-orang yang jujur tidak perlu menunggu sistemnya berubah lebih dulu. Seorang santri yang memilih dengan cermat kepada kiai mana ia menitipkan hidupnya sudah melakukan sesuatu. Seorang jamaah yang menolak mencium tangan seseorang yang belum membuktikan bahwa tangannya bersih dari transaksi kotor sudah melakukan sesuatu. Seorang anggota masyarakat yang tidak bertepuk tangan ketika seorang koruptor kembali naik ke podium sudah melakukan sesuatu.
Mereka tidak akan masuk berita. Nama mereka tidak akan dikenal. Namun dalam pilihan-pilihan diam itu, ada sesuatu yang bekerja, sesuatu yang perlahan mengubah apa yang dianggap normal, apa yang dianggap wajar, dan apa yang dianggap pantas untuk dihormati.
Akhirnya, saya kembali ke teras pesantren itu. SUV hitam sudah lama pergi. Genteng sudah lama terpasang. Dan sang kiai yang menerimanya masih berdiri di podium, masih berbicara tentang kejujuran, masih menunggu tamu berikutnya yang datang dengan kebutuhan yang bisa dijual.
Namun, saya juga tahu bahwa di suatu tempat yang tidak jauh dari sana, ada kiai yang malam itu menolak sesuatu. Ada santri yang malam itu bertanya sesuatu yang tidak nyaman. Ada jamaah yang malam itu memilih untuk tidak bertepuk tangan. Mereka tidak sedang melakukan revolusi. Mereka hanya sedang menggunakan timbangan yang masih bekerja. Dan itu sudah cukup untuk memulai.
