Pendidikan yang Tertanam di Tubuh, Bukan di Kepala

Eks. Imam Besar Masjid NU At-Taqwa, Jepang. Dai Internasional dan pengajar pesantren di Probolinggo asal Temanggung, yang pernah aktif berdakwah di Korea, Taiwan, dan Jepang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abdullah bin Alawi al Haddad, ulama sufi Hadramaut yang wafat pada tahun 1720, meninggalkan kumpulan aforisme (al-Hikam) yang salah satunya berbunyi al adah idza rusikhat nasakhat, kebiasaan yang sudah mengakar akan menganulir kebiasaan lama. Kalimat ini muncul di antara wasiat-wasiat lain yang ia sampaikan kepada murid-muridnya, disusun bersama ucapan tentang keteguhan hati dan tentang bahaya mengeluh.
Al Haddad sendiri adalah penulis Ratib al Haddad, wirid yang hingga kini dibaca luas di sebagian kalangan Nahdliyin dan komunitas muslim Asia Tenggara, hikam-nya ini lahir dari pengamatan seorang mursyid terhadap murid-murid yang ia bimbing bertahun tahun, bukan dari perumusan teori abstrak.
Syahdan di sebuah pesantren kecil di pesisir Pandalungan, seorang santri baru bangun sebelum azan subuh berkumandang. Bukan karena ia mencintai dingin yang menusuk tulang saat wudhu, melainkan karena tiga bulan pertama nyantri telah menanamkan sesuatu yang lebih kuat dari rasa malas.
Tubuhnya sudah hafal jam berapa harus bangkit dari tikar. Kakinya sudah tahu jalan menuju kamar mandi tanpa perlu cahaya lampu. Kebiasaan lama, yaitu tidur sampai siang seperti masa sebelum masuk pesantren, sudah tergeser oleh kebiasaan baru yang diulang setiap hari tanpa jeda.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menyebut fenomena ini dengan istilah malakah, kemahiran yang tertanam dalam jiwa akibat pengulangan tindakan. Ia menulis bahwa ilmu dan kecakapan tidak diperoleh lewat pemahaman sekali duduk, melainkan lewat latihan yang berulang sampai suatu keahlian menjadi tabiat/naluri kedua bagi pelakunya.
Seorang tukang kayu tidak menjadi ahli karena membaca teori tentang kayu, tetapi karena tangannya berkali kali memegang pahat sampai gerakan itu berjalan tanpa perlu dipikirkan lagi. Pendidikan, dalam kerangka Ibnu Khaldun, adalah usaha menanamkan malakah lewat pengulangan yang disengaja dan terus menerus.
Jauh sebelum Ibnu Khaldun, Aristoteles menulis hal serupa dalam Etika Nikomakea. Ia membedakan antara mengetahui kebajikan dan menjadi orang yang berbudi. Menurutnya kita menjadi adil dengan melakukan tindakan yang adil, kita menjadi berani dengan melakukan tindakan yang berani, bukan dengan menghafal definisi keadilan dan keberanian.
Konsep yang ia sebut hexis, kondisi watak yang terbentuk lewat pembiasaan, sejalan dengan gagasan malakah milik Ibnu Khaldun meski keduanya lahir dari tradisi pemikiran berbeda dan tidak pernah saling membaca satu sama lain. Keduanya sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa karakter terbentuk lewat pengulangan, bukan lewat pengajaran satu arah.
Psikologi modern kemudian menjelaskan hal yang sama lewat pengamatan eksperimental. Ivan Pavlov menemukan bahwa refleks bisa dibentuk lewat asosiasi yang diulang berkali kali. Edward Thorndike merumuskan law of effect, bahwa tindakan yang diikuti kepuasan cenderung diulang sementara tindakan yang diikuti ketidaknyamanan cenderung ditinggalkan. B.F. Skinner memperluas ini lewat teori operant conditioning, bahwa perilaku terbentuk oleh penguatan yang konsisten dari lingkungan sekitar.
Ketiganya, dengan bahasa laboratorium yang jauh dari nuansa spiritual pesantren, sesungguhnya sedang membuktikan kaidah al Haddad dari sudut yang berlawanan. Kebiasaan lama tergeser bukan karena niat yang kuat semata, tetapi karena ada sistem penguatan baru yang cukup konsisten untuk mengalahkan kebiasaan sebelumnya.
Neurosains kontemporer menambahkan penjelasan pada tingkat sel saraf lewat konsep neuroplastisitas. Setiap kali sebuah tindakan diulang, jalur saraf yang mendukung tindakan itu menguat, sementara jalur yang jarang dipakai melemah dan lama kelamaan berhenti berfungsi. Donald Hebb merumuskan hal ini dengan kalimat yang kini dikenal luas di kalangan ilmuwan saraf, bahwa sel yang menyala bersama akan terhubung bersama.
Penjelasan ini memperkuat kaidah al adah idza rusikhat nasakhat dari sisi biologis, bahwa kebiasaan bukan sekadar kata dalam nasihat, melainkan perubahan nyata pada cara kerja otak yang terus dibentuk ulang oleh pengulangan sehari hari.
Ki Hajar Dewantara, peletak dasar pendidikan nasional, memahami hal ini lewat konsep tri pusat pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga ruang tempat pembiasaan/habituasi berlangsung tanpa henti. Bagi Dewantara pendidikan bukan sekadar pengajaran pengetahuan, melainkan tuntunan bagi tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Kata tuntunan sendiri mengandaikan proses yang berjalan lama dan berulang, bukan instruksi yang diberikan sekali lalu dianggap selesai. John Dewey di belahan dunia lain merumuskan gagasan yang sejalan lewat learning by doing, keyakinan bahwa pengalaman langsung yang berulang membentuk pemahaman jauh lebih dalam daripada ceramah di depan kelas.
Dari sinilah lahir tesis sederhana namun radikal, pendidikan adalah pembiasaan. Bukan pendidikan menghasilkan pembiasaan sebagai efek sampingan, tetapi pembiasaan itu sendirilah yang menjadi inti dari proses pendidikan. Kurikulum, metode mengajar, bahkan kefasihan seorang guru dalam menjelaskan konsep, semuanya hanya bermakna jika berujung pada pengulangan yang cukup lama untuk menanamkan malakah baru.
Seorang santri yang hafal seribu dalil tentang kejujuran tapi tidak pernah dilatih jujur dalam situasi kecil sehari hari, tetap akan mudah berbohong ketika tekanan datang. Sebaliknya santri yang dibiasakan berkata benar sejak kecil, meski tidak hafal satu dalil pun, akan kesulitan berbohong karena kejujuran sudah tertanam dalam dirinya lewat pengulangan bertahun tahun.
Konsekuensi dari cara pandang ini besar bagi dunia pesantren dan pendidikan Islam secara umum. Jika pendidikan adalah pembiasaan, maka lembaga pendidikan tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu. Ia harus merancang pengulangan secara sadar, jadwal yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan hukuman maupun penghargaan yang selaras dengan perilaku yang hendak ditanamkan.
Inilah sebabnya kehidupan asrama dalam tradisi pesantren, dengan segala kedisiplinan waktunya yang tampak kaku, sebenarnya menanamkan kebiasaan jauh lebih dalam daripada ruang kelas dengan jam pelajaran terbatas. Dua puluh empat jam kehidupan santri adalah dua puluh empat jam pembentukan kebiasaan yang berjalan setiap saat, di kelas maupun di luar kelas.
Kaidah al adah idza rusikhat nasakhat pada akhirnya mengajarkan sesuatu yang menenangkan sekaligus menuntut, bahwa manusia tidak pernah benar benar terkunci pada kebiasaan buruknya. Selama ada kesabaran untuk mengulang kebiasaan baru dengan cukup konsisten, kebiasaan lama akan tergeser dengan sendirinya, bukan lewat perlawanan yang keras, melainkan lewat pengulangan yang telaten.
Dan di situlah letak harapan sekaligus beban dari setiap pendidik, bahwa mereka tidak sedang mengajar untuk hari ini saja, tetapi sedang membentuk kebiasaan yang akan terus dijalani murid muridnya jauh setelah pelajaran hari itu selesai dan terlupakan.
