Konten dari Pengguna

Rumah Singgah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masjid NU At-Taqwa Koga Ibaraki Jepang. Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Masjid NU At-Taqwa Koga Ibaraki Jepang. Dok. Pribadi

Pagi terakhir di Koga, saya berbaring lebih lama dari yang seharusnya.

Langit-langit kamar itu putih kekuningan, dengan retak kecil di sudut kiri yang sudah saya hafal seperti menghafal wajah seseorang yang sering ditemui. Pertama kali saya melihatnya di musim dingin pertama, ketika salju turun diam-diam di luar jendela dan saya belum terbiasa dengan jenis kesepian yang berbeda di negeri orang. Sekarang retak itu terasa seperti tanda tangan. Seperti sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh orang yang sudah cukup lama tinggal untuk mengenal detailnya.

Udara kamar itu dingin. Cahayanya abu-abu, seperti hari yang belum memutuskan akan menjadi apa.

Saya harus pergi. Kontrak selesai, koper sudah hampir penuh, tiket sudah dicetak. Semua tanda lahiriah kepergian sudah ada. Tetapi ada sesuatu yang lebih berat dari koper itu, sesuatu yang tidak ada labelnya, yang tidak masuk dalam batas bagasi mana pun, dan saya tidak tahu persis sejak kapan ia menjadi seberat itu.

Yang paling mengejutkan bukan rasa beratnya. Yang mengejutkan adalah kesadaran yang datang terlambat, bahwa saya tidak tahu sejak kapan kamar orang lain itu saya anggap milik saya.

Inilah kesalahan yang kita ulangi tanpa pernah benar-benar menyadarinya. Kita diberi izin singgah di sebuah tempat, di sebuah peran, di sebuah keadaan, dan tanpa ada akad yang resmi, tanpa ada penyerahan kunci yang disaksikan siapa pun, kita mulai berkata dalam hati: "Ini milikku". Kita menanamkan bendera di tanah yang sejak awal bukan milik kita untuk dimiliki. Dan ketika tiba waktunya pergi, kita bingung sendiri mengapa langkah kaki terasa begitu berat, padahal yang berat bukan langkahnya. Melainkan bendera yang kita lupa mencabut.

Saya adalah Imam Besar. Kalimat itu, yang pada awalnya hanya deskripsi pekerjaan, perlahan menjadi sesuatu yang lain. Ia menempel. Ia meresap ke dalam cara saya memperkenalkan diri, cara saya berdiri di depan mimbar, cara saya menjawab pertanyaan, bahkan cara saya berdiam diri ketika tidak ada yang perlu dikatakan. Jabatan itu bukan lagi baju yang saya pakai. Ia sudah menjadi kulit.

Imam Besar Masjid NU at-Taqwa Koga Ibaraki Jepang. Dok. Pribadi

Ada perbedaan yang sangat besar antara dua cara seorang manusia memandang dirinya. Yang pertama berkata: "Saya imam". Yang kedua berkata: "Saya sedang menjalankan amanah sebagai imam". Yang pertama adalah kepemilikan. Yang kedua adalah kesadaran. Dan jarak antara keduanya, yang di permukaan terdengar hanya soal pilihan kata, ternyata menentukan segalanya tentang bagaimana seseorang bertahan ketika amanah itu selesai dan hidup meminta ia berjalan ke tempat berikutnya.

Saya tidak selalu berada di posisi yang kedua. Itu yang perlu saya akui pertama-tama, sebelum yang lain-lainnya.

Tetapi ada yang lebih rumit dari sekadar persoalan identitas dan jabatan. Ada yang sudah ada jauh sebelum kontrak itu berakhir, bahkan ketika saya masih berdiri di atas mimbar dan suara saya masih terdengar sampai ke sudut-sudut masjid yang paling jauh.

Tidak semua orang menyukai saya di sana.

Saya perlu menulis kalimat itu pelan-pelan karena ia membawa berat yang berbeda dari kalimat lainnya. Bukan karena ia tentang masa lalu yang sudah selesai. Tetapi karena ia terjadi di tengah-tengah apa yang sering saya ceritakan kepada diri sendiri sebagai masa terbaik saya.

Tafsrus Al-Quran di bulan Ramadan. Dok. Pribadi

Ada jemaah yang datang setiap Jumat tetapi matanya tidak pernah benar-benar hangat ketika bertemu saya. Ada orang-orang yang menghormati posisi tetapi tidak menaruh kepercayaan pada orangnya. Ada bisik-bisik yang tidak selalu sampai ke telinga saya secara langsung tetapi selalu terasa kehadirannya, di ruang-ruang yang tiba-tiba menjadi sedikit lebih sunyi ketika saya masuk, di senyum-senyum yang berhenti tepat di batas bibir dan tidak sampai ke mata. Ada yang tidak setuju dengan cara saya memimpin. Ada yang merasa mereka bisa melakukan lebih baik. Ada yang membawa sesuatu yang lebih sederhana dan lebih manusiawi dari semua itu, yaitu mereka hanya tidak cocok dengan saya, dan ketidakcocokan itu sendiri sudah cukup untuk menciptakan jarak yang tidak pernah benar-benar tertutup meskipun kami berdiri dalam saf yang sama setiap pekan.

Jemaah salat Id di Masjid NU at-Taqwa. Dok. Pribadi

Tidak ada yang menulis tentang imam yang juga, kadang-kadang, merasa kesepian di tengah jemaahnya sendiri. Tidak ada yang menulis tentang momen ketika seseorang berdiri di depan saf yang panjang dan merasakan, di balik seluruh kemegahan posisinya, bahwa ada bagian dari kerumunan itu yang hadir bukan karena dia, atau bahkan meskipun dia.

Saya merasakan itu. Dan saya tidak selalu tahu bagaimana menanganinya dengan baik.

Ada kemarahan yang datang di momen-momen seperti itu. "Saya marah", kata sesuatu di dalam diri saya. Dan kata itu langsung mengunci saya di dalam api yang saya kira adalah diri saya, padahal ia hanya keadaan yang sedang lewat. Saya belajar, dengan cara yang membutuhkan lebih banyak waktu dari yang seharusnya, untuk mencoba melihat dengan cara yang berbeda. Bukan saya marah. Melainkan kemarahan sedang singgah dalam diri saya, ia datang bukan untuk menetap, melainkan untuk menyampaikan sesuatu yang belum saya dengarkan dengan cukup tenang.

Pesan yang ia bawa, ketika akhirnya saya mau duduk bersamanya cukup lama, ternyata bukan tentang orang-orang yang tidak menyukai saya. Ia tentang seberapa dalam saya masih menggantungkan ketenangan saya pada persetujuan mereka. Bahwa saya belum sepenuhnya bebas selama ketenangan saya masih bisa diganggu oleh pandangan seseorang yang bahkan namanya tidak selalu saya ingat dengan tepat.

Ketidaksukaan itu adalah tamu juga. Dan seperti semua tamu, ia datang membawa pesan. Tugas saya bukan mengusirnya sebelum ia selesai berbicara. Tugas saya adalah mendengarkan, mengambil yang perlu diambil, lalu membiarkannya pergi.

Seorang imam yang berharap dicintai semua jemaahnya sedang berharap sesuatu yang tidak pernah dijanjikan oleh pekerjaan itu. Dan ketika harapan yang tidak dijanjikan itu tidak terpenuhi, sakitnya terasa seperti pengkhianatan, padahal ia hanya kenyataan yang dari awal memang sudah ada di sana, menunggu untuk diakui.

Kegiatan Rutin Subuh Ceria di Ahad Pagi. Dok. Pribadi

Pulang ke Indonesia, dengan semua itu di dalam "koper yang tidak kelihatan", bukan sekadar perpindahan geografis.

Tidak semua orang senang dengan kepulangan seorang imam dari Jepang. Tetapi sekarang saya mengerti bahwa ini bukan berita baru. Tidak semua orang senang dengan keberadaan seorang imam di Jepang juga. Penerimaan universal adalah fiksi yang kita ceritakan kepada diri sendiri untuk membuat ambisi kita terasa lebih mulia dari yang sebenarnya.

Ada yang menyambut dengan hangat. Ada yang menyambut dengan diam yang berbeda kualitasnya dari diam yang ramah. Ada yang melihat perjalanan ini sebagai bahan evaluasi. Ada yang bahkan tidak terlalu peduli ke sana ke sini karena mereka punya kehidupan mereka sendiri yang tidak berpusat pada kedatangan atau kepergian saya.

Yang terakhir itu, yang paling sulit diterima oleh ego, adalah yang paling jujur.

Saya tidak sebesar yang saya kira di dalam kepala saya. Mengakui itu, yang pertama kali terasa seperti kekalahan, ternyata adalah semacam pembebasan. Sesuatu runtuh. Sesuatu yang runtuh itu membuat ruang.

Sebelum sesuatu yang baru bisa tumbuh, tanah perlu dikosongkan dulu. Dan pengosongan tanah tidak pernah terasa menyenangkan dari dalam. Ia berdebu. Ia berisik. Ia tidak indah sama sekali ketika sedang terjadi. Keindahannya hanya terlihat dari jarak waktu yang cukup, ketika kita sudah berdiri cukup jauh untuk melihat bahwa di tanah yang sama, sesuatu yang baru sedang belajar tumbuh.

Keluarga Besar Jemaah Masjid. Dok. Pribadi

Tantangan yang paling konkret seringkali adalah yang paling sulit dibicarakan.

Keuangan adalah salah satunya. Seorang dai yang baru pulang dari luar negeri, dengan segala label dan rekam jejaknya, tidak secara otomatis memiliki penghasilan. Reputasi tidak bisa membayar tagihan listrik. Pengakuan tidak bisa dikonversi langsung menjadi beras di dapur. Dan ada semacam tekanan yang bekerja dari dua arah sekaligus, dari dalam berupa standar hidup yang sudah terbentuk dan tidak mudah disesuaikan begitu saja, dari luar berupa ekspektasi bahwa seseorang dengan latar belakang seperti saya seharusnya sudah punya semuanya beres.

"Seharusnya". Kata itu adalah salah satu kata paling berbahaya dalam kosakata manusia.

Tetapi kesempitan ini juga tamu. Ia datang membawa pesannya sendiri. Ia membersihkan sesuatu yang tidak bisa dibersihkan dengan cara lain, asumsi-asumsi yang sudah terlalu lama tidak dipertanyakan, ketergantungan pada identitas eksternal yang ternyata lebih rapuh dari yang saya kira, keyakinan bahwa nilai saya sebanding dengan posisi yang sedang saya tempati.

Kesedihan dan kesempitan bekerja. Bukan sebagai hukuman. Sebagai persiapan. Ia menggugurkan yang sudah usang, mencabut akar yang sudah membusuk jauh di bawah tanah yang saya kira subur. Dan sebelum pemberian yang baru bisa tiba, tempatnya perlu dikosongkan lebih dulu. Saya belum tahu dengan pasti apa yang sedang dipersiapkan. Tetapi saya mulai percaya bahwa pengosongan ini bukan akhir. Bahwa yang mengambil dan yang memberi adalah Yang sama.

Tawakal bukan menyerah. Tawakal adalah terus melangkah sambil melepaskan kebutuhan untuk menentukan sendiri ke mana langkah itu akan berakhir.

Di kota Kraksaan sekarang, saya mengajar. Saya mendampingi santri. Saya menulis. Saya kembali ke ritme yang sudah lama saya kenal tetapi yang juga, setelah sekian waktu, terasa seperti baju lama yang perlu sedikit penyesuaian sebelum pas lagi di tubuh.

Tidak ada jemaah ribuan orang setiap Jumat. Tidak ada panggung internasional. Tidak ada jabatan yang membuat orang mengangguk sedikit lebih dalam ketika berjabat tangan.

Ada kelas yang perlu disiapkan. Ada santri yang perlu didengarkan. Ada kolega yang tidak semuanya menaruh simpati, persis seperti dulu di Koga, persis seperti di mana pun manusia berkumpul dalam jumlah yang cukup untuk menghasilkan gesekan.

Dan saya mulai mengerti bahwa pola yang sama, bahwa tidak semua orang akan berpihak, bukan masalah yang perlu diselesaikan. Ia adalah kondisi yang perlu diterima. Tugas seorang pengajar, tugas seorang manusia yang memilih hadir di tengah manusia lain, bukan mengumpulkan persetujuan sebanyak-banyaknya. Melainkan menyampaikan yang dipercayakan dengan sepenuh hati, kepada semua orang termasuk yang tidak menyukai kita, lalu melepaskan kebutuhan untuk menentukan bagaimana ia diterima.

Di sinilah yang paling sulit. Bukan di momen dramatis ketika pesawat bergerak meninggalkan Narita. Bukan di malam-malam besar yang penuh perasaan. Tetapi di pagi-pagi biasa ketika saya bangun dan kehidupan yang ada di depan saya tidak terasa semegah kehidupan yang ada di kenangan, dan saya harus memilih, apakah saya akan menghabiskan hari ini untuk meratapi jarak antara keduanya, atau untuk hadir sepenuhnya di dalam apa yang ada sekarang.

Setiap hari adalah pilihan itu. Dan tidak setiap hari saya memilih dengan benar.

Tetapi saya sedang belajar untuk tidak menunjukkan wajah masam kepada kehidupan yang sedang tidak berjalan sesuai gambaran yang saya harapkan. Bukan karena saya tidak merasakan beratnya. Bukan karena saya berhasil menjadi seseorang yang kebal terhadap kekecewaan. Melainkan karena saya mulai percaya bahwa semua keadaan ini sedang bergerak menuju pintunya sendiri. Keadaan sempit ini juga sedang berjalan ke sana. Ia tidak akan tinggal selamanya, sebagaimana keadaan lapang di Koga dulu juga tidak tinggal selamanya. Dunia memang tidak diciptakan untuk diam. Ia diciptakan untuk mengalir. Dan seseorang yang mencoba menahan aliran itu akan melelahkan dirinya sendiri jauh sebelum arusnya berhenti.

Pagi terakhir di Koga, saya akhirnya berdiri. Saya lipat sajadah untuk terakhir kalinya di kamar itu. Saya buka pintu dan saya tidak menoleh.

Tetapi jujurnya, sebagian dari saya masih menoleh sampai sekarang.

Halal bi Halal Jemaah Masjid. Dok. Pribadi

Masih ingin membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang dulu tidak berpihak, baik yang di Koga maupun yang di sini. Masih ingin ada momen di mana semuanya menjadi jelas dan semua penilaian yang tidak adil akhirnya diralat secara terbuka. Masih berdiri di ambang pintu itu, satu kaki di dalam dan satu kaki di luar, belum sepenuhnya memutuskan ke mana berat badan harus ditumpukan.

Momen pembuktian itu mungkin tidak akan datang. Dan saya sedang belajar bahwa tidak datangnya momen itu bukan kekalahan.

Semua yang datang dalam hidup ini, jabatan, pengakuan, cinta yang tulus dari jemaah yang matanya ikut hangat, ketidaksukaan yang tidak pernah benar-benar menjelaskan dirinya sendiri, kesempitan yang datang tanpa jadwal, kehangatan yang tiba-tiba, pendinginan yang perlahan, kenangan tentang Koga yang masih terlalu bercahaya dibandingkan dengan apa yang ada di depan saya sekarang, semuanya hanya singgah. Semuanya datang membawa pesan. Dan tugas saya bukan mengusir yang tidak enak atau mengurung yang menyenangkan. Tugas saya adalah mendengarkan pesannya sampai selesai, mengambil apa yang perlu diambil, lalu membiarkannya pergi dengan tangan yang terbuka.

Rumah yang sesungguhnya bukan tempat di mana kita pernah berdiri dengan paling gagah. Rumah yang sesungguhnya adalah keadaan di mana kita hadir sepenuhnya di mana pun kita berdiri sekarang, termasuk di tempat yang belum terasa semegah yang pernah ada.

Tamasya musim dingin jemaah masjid di resor ski. Dok. Pribadi

Karena pada akhirnya kita juga hanya singgah. Dan Pemilik rumah yang sesungguhnya tahu jauh lebih baik dari kita tentang apa yang perlu datang, berapa lama ia boleh tinggal, dan apa yang perlu ia tinggalkan sebelum ia pergi. Yang mengambil dan yang memberi adalah Yang sama. Dan kepercayaan pada itu, yang bukan pasrah yang lemas melainkan iman yang terus melangkah, adalah satu-satunya hal yang tidak akan ikut pergi ketika jabatan berganti, lokasi berpindah, dan pengakuan publik naik turun sesuai musimnya sendiri.

Retak kecil di sudut langit-langit kamar itu tidak akan ada yang tahu bahwa saya pernah hafal bentuknya.

Dan mungkin memang begitu seharusnya.