Konten dari Pengguna

Ampas Kopi Disulap Jadi Lilin oleh GIAT 16 UNNES

Muhammad Rizalul Umam

Muhammad Rizalul Umam

Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Semarang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizalul Umam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama Kader Karang Taruna Desa Tabet. (Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama Kader Karang Taruna Desa Tabet. (Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis)

Secangkir kopi mungkin hanya menyisakan kenikmatan bagi penikmatnya. Namun, setelah kopi tandas, ada satu hal yang sering kali luput diperhatikan: ampasnya.

Bagi sebagian orang, ampas kopi tidak lebih dari limbah yang berakhir di tempat sampah. Padahal, jika diolah dengan cara yang tepat, sisa seduhan kopi tersebut masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna, salah satunya lilin aromatik.

Gagasan tersebut dikembangkan oleh GIAT 16 UNNES Desa Tabet melalui kegiatan pengolahan limbah ampas kopi menjadi lilin dengan melibatkan Karang Taruna Desa Tabet. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mendorong kreativitas masyarakat sekaligus mengenalkan alternatif pemanfaatan limbah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai guna.

Melalui kegiatan tersebut, GIAT 16 UNNES Desa Tabet tidak hanya mengajak masyarakat untuk melihat limbah dari sudut pandang berbeda, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan generasi muda desa. Karang Taruna dipilih sebagai salah satu mitra karena memiliki posisi strategis dalam menggerakkan kegiatan kepemudaan dan pengembangan kreativitas di tingkat desa.

Dari Ampas Kopi Menjadi Lilin

Proses pembuatan lilin dimulai dengan mengumpulkan ampas kopi yang sudah tidak digunakan. Ampas tersebut kemudian dikeringkan untuk mengurangi kadar air sebelum digunakan sebagai bahan campuran.

Pada tahap berikutnya, bahan dasar lilin dilelehkan hingga mencair. Setelah itu, ampas kopi dicampurkan ke dalam bahan lilin dan diaduk hingga merata. Campuran kemudian dituangkan ke dalam wadah yang telah dipasangi sumbu dan dibiarkan hingga mengeras.

Hasilnya adalah lilin dengan tampilan khas. Butiran ampas kopi yang terlihat di dalam lilin memberikan karakter tersendiri sekaligus menjadi penanda bahwa produk tersebut dibuat dari material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Bagi anggota Karang Taruna Desa Tabet yang terlibat, proses tersebut menjadi pengalaman baru dalam melihat potensi bahan-bahan yang selama ini berada di sekitar mereka. Ampas kopi yang biasanya langsung dibuang ternyata dapat diolah kembali menjadi produk kerajinan sederhana.

Foto Percontohan Proses Pemanfaatan Ampas Kopi Sebagai Lilin. (Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis)

Kolaborasi Mahasiswa dan Pemuda Desa

Kegiatan ini menunjukkan bahwa program KKN tidak harus berhenti pada mahasiswa sebagai pelaksana. Pelibatan masyarakat menjadi bagian penting agar program yang dilakukan dapat memiliki keberlanjutan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya.

Karena itu, GIAT 16 UNNES Desa Tabet menggandeng Karang Taruna Desa Tabet dalam proses pengenalan dan praktik pembuatan lilin dari ampas kopi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bertukar pengetahuan antara mahasiswa dan masyarakat, khususnya dalam mengembangkan kreativitas berbasis potensi lingkungan sekitar.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan gagasan yang diperoleh selama berada di lingkungan akademik ke dalam persoalan nyata di masyarakat. Sementara bagi Karang Taruna, kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif aktivitas produktif yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Lebih dari sekadar membuat lilin, kegiatan ini memperlihatkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dapat melahirkan gagasan sederhana yang memiliki nilai edukatif sekaligus ekonomis.

Limbah yang Punya Potensi Ekonomi

Ampas kopi menjadi contoh kecil dari persoalan limbah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Konsumsi kopi yang terus berlangsung membuat jumlah ampas yang dihasilkan juga tidak sedikit, terutama dari rumah tangga, warung kopi, hingga kedai kopi.

Jika tidak dimanfaatkan, ampas tersebut hanya akan berakhir sebagai sampah. Namun, melalui kreativitas, material tersebut dapat diberikan fungsi baru.

Lilin dari ampas kopi pun masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Bentuk, wadah, aroma, hingga kemasannya dapat dikreasikan sehingga memiliki nilai estetika dan daya tarik tersendiri.

Apabila dikembangkan secara konsisten, produk tersebut bukan tidak mungkin menjadi salah satu produk kerajinan yang memiliki nilai jual. Terlebih, produk yang mengangkat konsep pemanfaatan limbah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengurangan sampah.

Meski demikian, pengembangan produk tetap membutuhkan proses lebih lanjut, terutama terkait komposisi bahan, kualitas pembakaran, keamanan penggunaan, ketahanan produk, dan desain kemasan.

Foto Interaksi Dengan Pemuda Karang Taruna. (Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis)

Dari Sisa Seduhan Menjadi Sebuah Gagasan

Bagi GIAT 16 UNNES Desa Tabet dan Karang Taruna Desa Tabet, pembuatan lilin dari ampas kopi bukan sekadar menghasilkan sebuah produk. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya untuk mengubah cara pandang terhadap limbah.

Sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat memiliki fungsi ketika diolah dengan kreativitas. Dari sinilah gagasan tentang pemanfaatan kembali limbah dapat dimulai.

Kegiatan kolaboratif tersebut juga memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Terkadang, inovasi justru berawal dari keberanian untuk melihat benda sederhana di sekitar dengan cara yang berbeda.

Ampas kopi mungkin hanya tersisa setelah secangkir kopi habis diminum. Namun, di tangan yang kreatif, sisa tersebut dapat berubah menjadi lilin. Dari limbah menjadi karya. Dari kegiatan sederhana, tumbuh gagasan untuk menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat Desa Tabet.