KAA 1955: Media Sebagai Senjata Melawan Penjajahan

Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Rizalul Umam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada April 1955, Bandung bukan sekadar kota sejuk di dataran tinggi Jawa Barat. Selama beberapa hari, kota ini berubah jadi pusat perhatian dunia. Para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) untuk menyuarakan satu hal: dunia harus berubah, penjajahan harus diakhiri. Konferensi Asia Afrika yang digelar di Bandung pada 1955 menjadi panggung global pertama bagi negara-negara Asia dan Afrika untuk menyuarakan kemandirian politik dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Akan tetapi, bagaimana peristiwa penting ini sampai dikenal luas di seluruh dunia? Jawabannya sederhana tapi penting: media.
Bandung Diserbu Ratusan Wartawan
KAA bukan hanya dipadati delegasi negara, tapi juga wartawan dari berbagai penjuru dunia. Tercatat 818 jurnalis, terdiri dari 163 jurnalis Indonesia dan 655 dari luar negeri, hadir di Bandung untuk meliput.
Media lokal seperti Merdeka, Harian Rakjat, dan Abadi menurunkan liputan khusus tiap hari. Mereka memberitakan pertemuan, wawancara tokoh penting, hingga analisis dampaknya bagi politik Indonesia. Sementara itu, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan langsung jalannya konferensi. Lewat gelombang radio, rakyat dari Sabang sampai Merauke bisa mengikuti sejarah yang sedang ditulis di Bandung.
Media Internasional: Penasaran dan Waspada
Media asing seperti The Guardian, Le Monde, dan The New York Times ikut meramaikan suasana. Mereka mengangkat cerita soal pertemuan negara-negara "kecil" yang berani bicara lantang di panggung dunia. Beberapa media Barat awalnya skeptis, takut konferensi ini menjadi blok politik baru yang mengganggu dominasi negara besar.
Beragam media dunia memberikan tafsir berbeda-beda tentang makna KAA. Media sosialis seperti Tribune (Sydney) secara terang-terangan memuji solidaritas Asia-Afrika dan mengecam campur tangan Amerika Serikat yang dituding mengirim wartawan untuk menyusupi dan menyabotase suasana konferensi. Bahkan disebut bahwa beberapa delegasi Asia yang semula ragu menjadi percaya pada semangat bersama setelah melihat sikap arogan dari blok Barat.
Menariknya, beberapa media Amerika justru menyuarakan kecemasan terhadap munculnya bentuk kolonialisme baru dari Timur. St. Croix Avis (26 April 1955), dalam editorialnya, menyambut KAA secara positif namun memberi peringatan bahwa menggantikan kolonialisme Barat dengan komunisme yang hegemonik sama bahayanya. Konferensi, bagi mereka, harus menjadi jalan menuju perdamaian, bukan pembalasan historis
Di sisi lain, media konservatif seperti The Evening Star (Washington, D.C.) menyebut KAA sebagai panggung propaganda Partai Komunis Tiongkok. Editorial mereka menuding Chou En-lai menggunakan retorika damai untuk menyamarkan ambisinya terhadap Taiwan. Namun menariknya, media ini juga mengakui bahwa pidato-pidato delegasi seperti Sir John Kotelawala dari Ceylon berhasil mengejutkan Chou dan memaksa delegasi Tiongkok menahan diri.
Media Yahudi-Amerika seperti The Southern Jewish Weekly mengkritik keras pengucilan Israel dari konferensi. Mereka menilai hal ini mencederai prinsip toleransi dan koeksistensi yang dideklarasikan Bandung. Narasi serupa muncul dari Arizona Sun, surat kabar kulit hitam Amerika, yang menyerukan agar prinsip-prinsip KAA konsisten diterapkan pada semua negara, termasuk Israel yang saat itu sedang mempererat hubungan dengan beberapa negara Afrika.
Tapi narasi itu tak bertahan lama. Seiring liputan yang terus berjalan, muncul pandangan yang lebih objektif: bahwa negara-negara Asia-Afrika ingin dunia yang lebih adil dan merdeka, tanpa campur tangan kekuatan kolonial.
Media Jadi Alat Diplomasi Indonesia
Pemerintah Indonesia tahu bahwa pertempuran sesungguhnya bukan hanya di ruang sidang, tapi juga di ruang redaksi. Maka semua infrastruktur komunikasi dioptimalkan: kabel telegram, radio, dan sambungan telepon internasional diaktifkan 24 jam.
Dalam sehari, diperkirakan sekitar 17.000 kata dikirim ke berbagai media internasional melalui telegraf. Bahkan, foto-foto kegiatan konferensi dikirim langsung ke agensi berita luar negeri. Semua ini bertujuan satu: dunia harus tahu bahwa negara-negara bekas jajahan sedang bangkit.
Mengguncang Dunia Lewat Mikrofon dan Kamera
Apa hasilnya? KAA sukses mengubah cara dunia memandang negara-negara Asia dan Afrika. Isu dekolonisasi makin kuat gaungnya. Negara-negara seperti Ghana, Maroko, dan Nigeria menyusul Indonesia meraih kemerdekaan dalam waktu singkat.
Tak kalah penting, isu Palestina memicu perdebatan sengit. Delegasi Tiongkok secara mengejutkan menyatakan dukungan terhadap Palestina, sedangkan India bersikap lebih moderat. Artikel di The Southern Jewish Weekly mencatat bahwa blok Arab berniat menggunakan forum Bandung untuk menguatkan posisi anti-Israel, namun tak semua negara Asia-Afrika sepakat dengan hal itu. Bahkan, Turki dan Filipina, meski turut hadir, menunjukkan ketidaksepahaman terhadap agenda Arab dan lebih mendekat ke posisi AS
Tak hanya itu, citra Indonesia sebagai pemimpin gerakan dunia ketiga ikut menguat. Media internasional menyebut KAA sebagai simbol solidaritas global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Semua itu tidak akan terjadi seandainya KAA hanya dibicarakan di dalam ruang rapat. Media membuat suara Bandung bergema ke seluruh dunia.
Relevan di Era Digital
Meski KAA terjadi 70 tahun lalu, pelajaran tentang pentingnya media tetap relevan. Bedanya, kalau dulu pesan disebar lewat radio dan koran, sekarang lewat internet dan media sosial.
Di zaman sekarang, siapa saja bisa menyebarkan narasi lewat YouTube, Instagram, atau Twitter. Tapi justru karena itu pula, informasi jadi makin liar. Di antara lautan konten, mana yang membangun, mana yang menyesatkan?
KAA mengingatkan kita bahwa media bukan sekadar alat informasi, tapi juga alat perjuangan. Ia bisa membangun solidaritas, tapi juga bisa memecah-belah jika tak digunakan secara bijak.
Jika KAA berhasil mengangkat derajat negara-negara Dunia Ketiga di pentas global, maka media baik media pemerintah maupun independen dari seluruh dunia telah menjadi cerminan konflik, harapan, dan ketegangan ideologis yang menyertai konferensi ini. Dengan demikian, memahami KAA tak bisa dilepaskan dari membaca jejak-jejaknya di halaman surat kabar, editorial, dan siaran radio masa itu.Warisan KAA tak hanya ada di dalam deklarasi politiknya, tetapi juga dalam cara media membingkai siapa kawan dan siapa lawan.
Bandung dan Pelajaran Tentang Suara
Konferensi Asia-Afrika membuktikan bahwa negara-negara yang dulu dibungkam bisa membalik keadaan lewat kekuatan narasi. Indonesia bukan negara adidaya, tapi mampu membuat dunia mendengar. Kuncinya: keberanian, solidaritas, dan strategi komunikasi yang tepat.
Hari ini, kita masih hidup dalam dunia yang dipenuhi konflik dan ketidakadilan. Tapi sejarah sudah memberi kita satu pelajaran penting: jika ingin perubahan, mulai dengan membangun narasi. Itulah kekuatan Bandung yang seharusnya terus kita rawat di era digital ini.
