Google Bukan Dokter, TikTok Bukan Puskesmas

ASN Pemkab Rokan Hilir, Mahasiswa S2 Universitas Lancang Kuning Pekanbaru
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari MUHAMMAD RIZKI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ketika tubuh terasa tidak enak, kita mungkin bertanya kepada orang tua. Jika keluhan berlanjut, kita pergi ke puskesmas, klinik, atau dokter. Namun, kebiasaan itu perlahan berubah seiring perkembangan teknologi.
Sekarang, ketika kepala terasa pusing, kita membuka Google. Ketika tenggorokan terasa sakit, kita mencari informasi di TikTok. Ketika perut terasa tidak nyaman, kita melihat berbagai konten kesehatan di media sosial. Bahkan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan dari tenaga kesehatan, tidak sedikit orang yang kembali mencari informasi di internet untuk memastikan kondisi yang dialaminya.
Teknologi memang membuat informasi kesehatan berada di ujung jari. Dalam hitungan detik, kita dapat menemukan ribuan informasi mengenai penyakit, gejala, obat, hingga pola hidup sehat. Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan, yakni mudah mendapatkan informasi tidak berarti kita sudah mendapatkan diagnosis yang benar. Google bukan dokter. TikTok bukan puskesmas.
Dari FYP ke Kotak Obat
Mencari informasi kesehatan di internet sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Bahkan, kebiasaan tersebut dapat menjadi hal positif jika dilakukan dengan bijak. Masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan tanpa harus selalu menunggu informasi dari tenaga kesehatan.
Masalahnya muncul ketika informasi yang ditemukan di internet dianggap sebagai sebuah kepastian. Seseorang membaca beberapa gejala tentang suatu penyakit, kemudian merasa bahwa gejala tersebut sama persis dengan kondisi yang sedang dialaminya. Dari sana muncul kesimpulan sendiri, “Jangan-jangan saya terkena penyakit ini.”
Tidak berhenti sampai di situ. Ada pula yang mulai mencari obat berdasarkan pengalaman orang lain di kolom komentar. “Coba minum ini. Saya juga pernah mengalami hal yang sama.”
Kalimat sederhana seperti itu terkadang lebih dipercaya daripada penjelasan tenaga kesehatan. Padahal, pengalaman seseorang belum tentu sama dengan kondisi orang lain.
Gejala yang terlihat serupa juga belum tentu memiliki penyebab yang sama. Sakit kepala, batuk, nyeri perut, pusing, atau tubuh terasa lemas dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Karena itu, tidak tepat jika seseorang langsung menyimpulkan penyakit hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di internet.
Internet dapat membantu kita menemukan informasi. Namun, internet tidak memeriksa kondisi tubuh secara langsung, tidak mengetahui seluruh riwayat kesehatan seseorang, dan tidak dapat menggantikan proses pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Algoritma Tidak Mengenal Kondisi Kita
Ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu algoritma media sosial. Ketika kita menonton satu video mengenai penyakit tertentu, platform digital akan membaca ketertarikan kita terhadap topik tersebut. Setelah itu, kita akan kembali disuguhi konten yang serupa.
Kita menonton satu video. Muncul beberapa video lain. Kita menonton lagi. Muncul lebih banyak konten dengan tema yang sama. Akhirnya, kita merasa seolah-olah semua orang sedang membicarakan penyakit tersebut.
Padahal, belum tentu penyakitnya yang semakin banyak. Bisa jadi, konten mengenai penyakit tersebut yang semakin sering muncul di hadapan kita.
Inilah salah satu tantangan dalam mengkonsumsi informasi kesehatan di era digital. Apa yang sering muncul di layar belum tentu merupakan informasi yang paling penting atau paling sesuai dengan kondisi kita.
Algoritma dirancang untuk menyajikan konten yang kemungkinan besar menarik perhatian pengguna. Sementara itu, informasi kesehatan membutuhkan ketepatan, konteks, sumber yang jelas, dan pertimbangan terhadap kondisi setiap individu. Karena itu, konten kesehatan yang paling viral belum tentu menjadi konten kesehatan yang paling tepat.
Viral Bukan Berarti Valid
Kita hidup pada masa ketika jumlah penonton, tanda suka, dan jumlah pengikut sering kali dianggap sebagai ukuran kredibilitas. Sebuah video ditonton jutaan kali, lalu dianggap benar. Seseorang memiliki banyak pengikut, kemudian dianggap sebagai ahli. Sebuah testimoni mendapatkan ribuan komentar positif, lalu dianggap sebagai bukti bahwa suatu metode pengobatan pasti berhasil.
Padahal, popularitas dan validitas adalah dua hal yang berbeda. Informasi kesehatan tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan jumlah orang yang menyukai, membagikan, atau mengkomentarinya. Kita perlu melihat siapa yang menyampaikan informasi tersebut, dari mana sumbernya, apakah memiliki dasar ilmiah, dan apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi yang sedang kita alami.
Pertanyaan sederhana seperti itu penting karena informasi yang keliru dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam menjaga kesehatan. Satu informasi yang salah mungkin terlihat sepele ketika hanya menjadi sebuah video. Namun, ketika informasi tersebut dipercaya dan diterapkan oleh banyak orang, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar.
Bukan Berarti Kita Harus Menjauhi Internet
Saya tidak sedang mengatakan bahwa masyarakat harus berhenti mencari informasi kesehatan melalui Google, TikTok, YouTube, atau media sosial lainnya. Justru sebaliknya. Internet dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat.
Kita dapat mencari informasi mengenai pola hidup sehat, mengenali tanda bahaya suatu penyakit, mengetahui jadwal pelayanan kesehatan, memahami cara mencegah penyakit, hingga menemukan berbagai materi edukasi dari institusi kesehatan yang terpercaya. Yang perlu diperbaiki adalah cara kita mengkonsumsi informasi tersebut.
Jadikan internet sebagai pintu masuk pengetahuan, bukan sebagai pengganti tenaga kesehatan.
Jika membaca informasi kesehatan membuat kita memiliki pertanyaan, pertanyaan tersebut dapat dibawa ketika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Jika menemukan video kesehatan yang menarik, periksa sumber informasinya sebelum mempercayainya. Jika mendapatkan informasi yang meragukan, jangan terburu-buru membagikannya hanya karena judulnya menarik atau videonya sedang viral.
Sebab, membagikan sebuah informasi hanya membutuhkan waktu beberapa detik. Namun, dampak dari informasi yang salah dapat berlangsung jauh lebih lama.
Puskesmas Tidak Bisa Digantikan oleh FYP
Puskesmas mungkin tidak memiliki jutaan pengikut seperti akun media sosial. Tenaga kesehatan mungkin tidak membuat video dengan musik yang sedang viral. Penjelasan tenaga kesehatan juga mungkin tidak selalu dapat disampaikan dalam durasi 30 detik.
Namun, pelayanan kesehatan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh algoritma, yaitu konteks manusia. Tenaga kesehatan dapat menggali keluhan, melihat kondisi pasien, mempertimbangkan riwayat kesehatan, melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan, memberikan edukasi, dan menentukan langkah pelayanan berdasarkan kondisi yang ditemukan.
Hal tersebut tidak dapat digantikan hanya dengan menonton beberapa video di media sosial. Karena itu, informasi dari internet sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti pelayanan kesehatan.
Kita tidak perlu memusuhi teknologi. Yang kita perlukan adalah menjadi pengguna teknologi yang lebih cerdas dan kritis.
Jangan Sampai FYP Menjadi “Dokter Pribadi”
Di era digital, tantangan kesehatan masyarakat bukan lagi sekadar bagaimana membuat masyarakat mendapatkan informasi. Informasi kesehatan sudah tersedia di mana-mana. Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat mampu memilah informasi yang benar dari informasi yang sekadar menarik perhatian.
Literasi kesehatan digital menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memiliki kebiasaan untuk tidak langsung percaya hanya karena sebuah informasi muncul berulang kali di layar. Sebab, algoritma dapat mengetahui konten apa yang membuat kita berhenti menggulir layar. Namun, algoritma belum tentu mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Ketika tubuh memberikan sinyal, mencari informasi di internet tentu boleh dilakukan. Bertanya kepada Google boleh. Menonton konten edukasi di TikTok juga tidak masalah. Namun, ketika informasi tersebut mulai menyangkut keputusan tentang kondisi kesehatan, jangan berhenti di FYP.
Google boleh menjadi tempat mencari informasi. TikTok boleh menjadi tempat mendapatkan edukasi. Namun, untuk memastikan kondisi kesehatan, tetap ada tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar tentang menemukan jawaban tercepat di layar. Kesehatan adalah tentang mendapatkan informasi yang benar, memahami kondisi dengan tepat, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Jangan biarkan algoritma menentukan apa yang harus kita percaya tentang kesehatan. Gunakan teknologi untuk mencari pengetahuan, tetapi tetap gunakan akal sehat dan tenaga kesehatan untuk memastikan kebenarannya.
