Konten dari Pengguna

Jangan Tunggu Sakit: Mengapa Kita Lebih Suka Mengobati dari pada Mencegah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD RIZKI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi : Kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Wilayah Kerja Puskesmas Rimba Melintang
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi : Kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Wilayah Kerja Puskesmas Rimba Melintang

Kita sering baru peduli pada kesehatan ketika tubuh mulai memberi peringatan. Ketika kepala pusing, tekanan darah naik, gula darah tidak terkendali, atau tubuh mulai kehilangan kemampuan beraktivitas seperti biasa, barulah kita mencari pertolongan. Ironisnya, banyak penyakit tidak datang dengan suara keras. Ia tumbuh diam-diam, bertahun-tahun, sementara kita merasa baik-baik saja.

Di sinilah persoalan kesehatan masyarakat kita, budaya mengobati masih jauh lebih kuat daripada budaya mencegah. Padahal, paradigma pembangunan kesehatan seharusnya bergerak dari sick care menuju health care dari sekadar mengobati orang sakit menjadi menjaga agar masyarakat tetap sehat.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) memberikan gambaran menarik tentang kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. Sepanjang 2025, CKG telah menjangkau sekitar 70 juta peserta. Hingga 31 Juli 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 73,8 juta penduduk, dengan target 130 juta peserta pada 2026.

Angka tersebut bukan sekadar statistik keberhasilan sebuah program pemerintah. Di balik jutaan pemeriksaan itu terdapat pesan yang jauh lebih penting, yaitu “ternyata banyak masalah kesehatan baru diketahui setelah masyarakat diperiksa”.

Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk usia ≥18 tahun berdasarkan pengukuran tekanan darah mencapai 30,8 persen. Sementara diabetes pada penduduk usia ≥15 tahun berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah mencapai 11,7 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, terdapat kesenjangan besar antara orang yang terdeteksi melalui pemeriksaan dan mereka yang sebelumnya mengetahui dirinya memiliki penyakit tersebut. Dengan kata lain, “merasa sehat belum tentu berarti benar-benar sehat”.

Inilah alasan mengapa pemeriksaan kesehatan berkala bukan kemewahan. Ia merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Masalahnya bukan hanya masyarakat

Namun, membangun budaya preventif tidak cukup dengan mengatakan kepada masyarakat, “Jangan lupa periksa kesehatan.” Kita juga perlu bertanya, apakah sistem kesehatan sudah cukup memudahkan masyarakat untuk mencegah penyakit?.

Selama ini ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan masih sering terjebak pada angka kunjungan, jumlah pasien yang dilayani, jumlah obat yang diberikan, atau banyaknya kasus yang ditangani. Padahal, dari perspektif kesehatan masyarakat, keberhasilan yang lebih tinggi justru terjadi ketika orang sehat tetap sehat dan orang yang berisiko ditemukan sebelum menjadi sakit.

Puskesmas karena itu tidak boleh hanya menjadi tempat masyarakat datang ketika sudah sakit. Puskesmas harus semakin kuat sebagai pusat edukasi, skrining, pemberdayaan masyarakat, pengendalian faktor risiko, dan deteksi dini. Transformasi ini bukan berarti pelayanan kuratif menjadi tidak penting. Orang sakit tentu harus mendapatkan pengobatan yang bermutu. Tetapi jangan sampai sistem kesehatan terlalu sibuk mengobati penyakit yang sebenarnya sebagian risikonya dapat dicegah sejak awal.

Preventif bukan sekadar slogan

Budaya preventif juga tidak boleh berhenti pada kampanye dan poster. Masyarakat mungkin sudah sering mendengar ajakan makan bergizi, aktivitas fisik, tidak merokok, mengurangi gula, garam, lemak, menjaga kesehatan mental, dan melakukan pemeriksaan rutin. Persoalannya adalah, bagaimana pengetahuan berubah menjadi perilaku?.

Di sinilah promosi kesehatan memiliki posisi strategis. Informasi kesehatan harus disampaikan dengan bahasa yang dipahami masyarakat, melalui saluran yang mereka gunakan, dan dengan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Kita tidak bisa terus-menerus memberikan ceramah kesehatan kepada masyarakat sambil berharap perilaku otomatis berubah. Masyarakat membutuhkan lingkungan yang mendukung pilihan sehat.

Jika kita ingin masyarakat aktif bergerak, ruang publik untuk aktivitas fisik harus tersedia. Jika ingin masyarakat mengurangi konsumsi makanan tidak sehat, lingkungan pangan juga harus mendukung. Jika ingin masyarakat berhenti merokok, kawasan tanpa rokok harus benar-benar ditegakkan, bukan hanya menjadi tulisan di dinding karena Perilaku sehat membutuhkan ekosistem yang sehat.

Dari “datang ketika sakit” menjadi “datang untuk memastikan sehat”

Program CKG sebenarnya memberikan momentum besar untuk mengubah pola pikir tersebut. Namun, keberhasilan CKG tidak boleh hanya diukur dari berapa juta orang yang sudah diperiksa.

Kementerian Kesehatan sendiri menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah tindak lanjut hasil pemeriksaan. Deteksi tanpa tindak lanjut hanya menghasilkan angka, bukan perubahan kesehatan.

Karena itu, setelah seseorang mengetahui tekanan darahnya tinggi, langkah berikutnya bukan sekadar menerima hasil pemeriksaan. Ia perlu mendapatkan edukasi, pemantauan, pengobatan bila diperlukan, serta dukungan untuk mengubah faktor risikonya.

Begitu pula ketika seseorang mengetahui kadar gulanya tinggi, deteksi dini harus berujung pada tindakan dini. Inilah yang membedakan program kesehatan yang sekadar ramai secara angka dengan program kesehatan yang benar-benar berdampak.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian

Membangun budaya preventif membutuhkan kerja bersama. Pemerintah daerah perlu memastikan kebijakan pembangunan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan. Puskesmas perlu memperkuat pendekatan promotif dan preventif. Sekolah perlu menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan anak. Tempat kerja harus memperhatikan kesehatan pekerja. Keluarga perlu menjadi ruang pertama pembentukan perilaku sehat.

Dan masyarakat sendiri harus mengambil peran. Kesehatan bukan hanya urusan tenaga kesehatan. Dokter, perawat, bidan, tenaga promosi kesehatan, pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, komunitas, hingga keluarga memiliki bagian masing-masing dalam membangun masyarakat yang sehat.

Jangan menunggu tubuh berteriak

Sudah waktunya kita mengubah cara pandang. Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli. Jangan menunggu angka tekanan darah naik untuk mulai mengurangi garam. Jangan menunggu gula darah bermasalah untuk mulai memperbaiki pola makan. Jangan menunggu komplikasi untuk mulai bergerak.

Dan jangan menunggu rumah sakit penuh untuk menyadari bahwa pencegahan jauh lebih penting. Kesehatan yang baik bukan hanya ketika penyakit berhasil disembuhkan. Kesehatan yang baik adalah ketika penyakit berhasil dicegah sebelum mengambil kesempatan untuk merusak kehidupan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar pembangunan kesehatan Indonesia bukan hanya berapa banyak orang sakit yang berhasil kita obati?. Tetapi, berapa banyak orang yang berhasil kita cegah agar tidak jatuh sakit.

Sebab masa depan kesehatan masyarakat tidak boleh dibangun dengan budaya menunggu sakit. Kita harus mulai membangun budaya memeriksa, mencegah, dan menjaga kesehatan sebelum tubuh terpaksa meminta pertolongan. Jangan tunggu sakit, karena mencegah hari ini selalu lebih berarti daripada menyesal ketika penyakit sudah datang.