Konten dari Pengguna

Harga Bahan Baku Naik, Usaha Makanan Kecil Harus Bagaimana?

Muhammad Rizky

Muhammad Rizky

Mahasiswa S1 Sistem Informasi di Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kalian ingin membeli makanan yang sedang disukai, tetapi akhirnya mengurungkan niat karena harganya terasa semakin mahal? Di sisi lain, pernah terpikir nggak bagaimana para penjual makanan menentukan harga jual ketika biaya bahan baku juga ikut berubah? Menurut saya, persoalan harga makanan bukan hanya berkaitan dengan keinginan konsumen untuk berhemat, tetapi juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha kecil yang harus tetap mendapatkan keuntungan tanpa membuat pelanggan merasa keberatan.

Saya melihat persoalan ini dari contoh usaha makanan ringan berbahan dasar kentang dengan berbagai pilihan saus dan topping. Sekilas, usaha makanan seperti ini terlihat sederhana karena produknya cukup mudah dikenali dan bisa menarik perhatian berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Namun, ketika usaha mulai dijalankan, ternyata ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Harga kentang, minyak goreng, saus, keju, kemasan, hingga biaya operasional dapat memengaruhi jumlah keuntungan yang diperoleh. Jika harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan mungkin akan berpikir ulang untuk membeli. Sebaliknya, jika harga tetap sama ketika biaya bahan baku meningkat, keuntungan usaha bisa semakin kecil.

Kentang Goreng saus keju dengan taburan topping. Sumber Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Kentang Goreng saus keju dengan taburan topping. Sumber Foto: Dok. Pribadi

Menurut saya, salah satu masalah yang perlu diperhatikan adalah bagaimana usaha kecil mengatur biaya tanpa mengurangi kualitas produk. Misalnya, ketika harga keju atau minyak goreng meningkat, pemilik usaha tidak bisa langsung mengambil keputusan dengan menaikkan harga semua menu. Pemilik usaha perlu melihat terlebih dahulu bahan apa yang paling banyak menghabiskan biaya, menu mana yang paling diminati, dan apakah masih ada pengeluaran yang bisa dikurangi. Hal ini penting karena keuntungan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya produk yang terjual, tetapi juga oleh kemampuan mengelola biaya produksi.

Sumber Foto: Dok. Pribadi

Jika dilihat dari analisis SWOT, usaha makanan ringan seperti ini sebenarnya memiliki peluang karena produknya dapat dikembangkan melalui variasi topping, harga yang sesuai dengan target konsumen, serta promosi melalui media sosial dan layanan pesan antar. Akan tetapi, usaha tersebut juga memiliki kelemahan dan ancaman. Kelemahannya bisa berupa keterbatasan modal, pengelolaan stok yang belum teratur, atau ketergantungan pada bahan baku tertentu. Sementara itu, ancamannya dapat berasal dari kenaikan harga bahan baku, banyaknya pesaing yang menjual produk serupa, serta perubahan daya beli konsumen. Karena itu, menurut saya, pemilik usaha perlu mengenali kelebihan dan kekurangannya sebelum menentukan strategi penjualan.

Permasalahan tersebut juga bisa ditelusuri menggunakan analisis fishbone atau diagram tulang ikan. Contohnya, ketika keuntungan usaha menurun, penyebabnya tidak selalu karena penjualan yang sepi. Bisa saja harga bahan baku meningkat, porsi penggunaan bahan belum terukur, masih ada bahan yang terbuang, promosi kurang tepat sasaran, atau pencatatan keuangan belum dilakukan secara rutin. Dengan mencari penyebabnya terlebih dahulu, pemilik usaha bisa menentukan solusi yang lebih sesuai daripada langsung menaikkan harga atau mengurangi kualitas makanan.

Menurut saya, langkah yang bisa dilakukan adalah membuat pencatatan biaya produksi untuk setiap menu, menentukan takaran bahan yang konsisten, memeriksa stok secara rutin, serta mengevaluasi menu yang paling banyak menghasilkan keuntungan. Promosi juga perlu disesuaikan dengan target konsumen. Misalnya, usaha bisa menawarkan paket hemat atau pilihan topping dengan harga berbeda agar pelanggan tetap memiliki pilihan sesuai kemampuan mereka. Namun, promosi seperti ini tetap harus dihitung dengan cermat supaya penjualan meningkat tanpa membuat keuntungan semakin kecil.

Pada akhirnya, menjalankan usaha kecil bukan hanya soal menjual produk yang disukai konsumen, tetapi juga tentang mengambil keputusan ekonomi dengan tepat. Harga bahan baku, daya beli masyarakat, persaingan, dan pengelolaan biaya saling berkaitan dalam menentukan keberlangsungan usaha. Saya berpendapat bahwa pelaku usaha tidak harus selalu menaikkan harga ketika menghadapi masalah biaya. Mereka perlu memahami penyebab masalah, menghitung pengeluaran, dan memilih strategi yang sesuai dengan kondisi usahanya.

Kalau kalian berada di posisi pemilik usaha makanan kecil, apa yang akan kalian lakukan ketika harga bahan baku naik? Apakah kalian akan menaikkan harga jual, mengurangi biaya produksi, membuat paket yang lebih hemat, atau mencari pemasok bahan baku lain? Menurut kalian, strategi mana yang paling masuk akal agar usaha tetap berjalan dan pelanggan tidak beralih ke pesaing?