Konten dari Pengguna

Magang yang Kehilangan Makna Belajar

Muhammad Rizky

Muhammad Rizky

Mahasiswa S1 Sistem Informasi di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa magang. (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa magang. (Foto: Istimewa)

Program magang kini menjadi semacam kewajiban tak tertulis bagi mahasiswa. Hampir semua lini pendidikan tinggi mendorong mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja sedini mungkin. Magang dipromosikan sebagai jalan pintas menuju kesiapan karier, pengalaman nyata, dan nilai tambah setelah lulus. Namun di balik narasi ideal tersebut, ada persoalan yang jarang dibicarakan.

Dalam pandangan pribadi saya, magang tidak selalu identik dengan belajar. Banyak mahasiswa justru terjebak pada pekerjaan teknis yang minim pembelajaran. Alih-alih memahami proses dan logika kerja, mahasiswa magang sering hanya menjadi tenaga tambahan tanpa pendampingan yang jelas. Pengalaman ini kemudian dibungkus rapi dalam laporan dan sertifikat, seolah semua berjalan sesuai tujuan pendidikan.

Masalah lain muncul ketika magang berubah menjadi ajang eksploitasi yang terselubung. Jam kerja panjang, tugas di luar kesepakatan, hingga beban tanggung jawab yang tidak sebanding dengan status mahasiswa kerap dianggap wajar demi “pengalaman”. Posisi mahasiswa yang lemah membuat banyak dari mereka memilih diam agar tetap mendapat penilaian baik.

Kampus juga tidak sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Dalam beberapa kasus, magang lebih diperlakukan sebagai pemenuhan administrasi kurikulum. Selama berkas lengkap dan laporan terkumpul, proses magang dianggap berhasil. Padahal, kualitas pembelajaran dan kesejahteraan mahasiswa sering luput dari evaluasi.

Di sisi lain, mahasiswa pun berada dalam dilema. Tekanan untuk memiliki pengalaman kerja membuat magang dijalani tanpa refleksi. Yang penting tercantum di CV, meski tidak benar-benar memahami apa yang dipelajari. Magang akhirnya menjadi formalitas, bukan ruang eksplorasi minat dan pengembangan diri.

Menurut saya, magang seharusnya menjadi jembatan antara teori dan praktik, bukan sekadar simulasi kerja murah. Kampus perlu lebih aktif memastikan adanya sistem pembimbingan yang jelas, sementara mahasiswa perlu berani bersuara dan lebih selektif dalam memilih tempat magang.

Jika magang terus dijalankan tanpa evaluasi kritis, maka tujuan pendidikan akan bergeser. Mahasiswa memang terlihat siap kerja, tetapi kehilangan kesempatan belajar yang sesungguhnya.