Konten dari Pengguna

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 bps, Harga Emas dan Perak Tertekan

Muhammad Rizky Arifin

Muhammad Rizky Arifin

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizky Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kredit Gambar: Dibuat menggunakan Google AI
zoom-in-whitePerbesar
Kredit Gambar: Dibuat menggunakan Google AI

Pernah mikir ga, kenapa harga emas dan perak yang biasanya dipuja-puja sebagai "investasi paling aman" tiba-tiba bisa ngedrop dan bikin investor senam jantung?

Jawabannya ternyata datang dari keputusan bapak-bapak di Amerika Serikat sana.

Jadi begini ceritanya. John C. Williams, Bos The Fed (Bank Sentral AS) cabang New York, baru aja lempar sinyal kalau mereka kemungkinan besar bakal naikin suku bunga lagi di akhir tahun. Alasannya simpel: mereka masih pusing ngelawan inflasi. Padahal sebelumnya, para pejabat The Fed udah sempat naikin suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan September kemarin.

Nah, gara-gara pengumuman ini, efek dominonya kemana-mana!

Begitu suku bunga naik, imbal hasil (yield) dari obligasi pemerintah AS otomatis makin manis. Bayangin aja, investor disajiin pilihan: pegang surat utang AS yang bunganya makin tinggi dan risikonya kecil, atau tetep bertahan di emas dan perak?

Jelas banyak yang kepincut pindah lapak. Kenapa? Soalnya emas dan perak itu tergolong aset non-yielding. Maksudnya, kalau kamu cuma nyimpan emas di dalam brankas, emas itu ga bakal beranak ngasih bunga atau dividen rutin. Ketika bunga obligasi lagi tinggi-tingginya, rugi dong kalau modalnya cuma diendemin di emas yang ga ngasih bunga? Inilah yang bikin "biaya peluang" pegang emas jadi makin tinggi.

Belum lagi masalah mata uang. Ingat, emas dan perak di pasar dunia itu ditransaksinnya pakai Dolar AS. Begitu suku bunga AS naik, mata uang Dolar ikut-ikutan menguat. Efeknya? Buat pembeli di luar Amerika termasuk kita di Indonesia harga emas jadi berasa jauh lebih mahal. Permintaan pembeli otomatis merosot, dan ujung-ujungnya harga emas serta perak di pasar global makin tertekan.

Jadi kesimpulannya simpel: kalau suku bunga AS naik dan Dolar makin perkasa, emas yang biasanya jadi 'primadona' bakal ditinggalin dulu sama para investor yang mau ngejar cuan bunga obligasi.