Konten dari Pengguna

Islam dan Lingkungan

Muhammad Rizqi

Muhammad Rizqi

asal Aceh Alumni Smps Ruhul Islam Rumah Quran Umar bin Khattab Alumni MA hidayatullah Depok mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Freepik.com

Lingkungan adalah tempat yang ada di sekeliling kita yang perlu dijaga, yang perlu diperhatikan, dan perlu dirawat, Jika tidak, maka akan timbul banyak dampak negatif, seperti akan timbul banyak penyakit yang disebabkan tidak menjaga kebersihan lingkungan, akan terjadi banjir karena membuang sampah ke sungai, dan masih banyak lagi dampak negatif jika lingkungaan tidak dijaga. Sebagai muslim kita dituntut untuk menjaga lingkungan agar senantiasa bersih, suci dan indah berbagai ayat alqur’an, dan hadis menjelaskan untuk selalu menjaga kebersihan diantaranya:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Artinya, “Pakaianmu, bersihkanlah!” (QS. Al-Muddassir ayat 4)

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Arinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah, ayat 222).

الطَّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ

Artinya, “ kesucian itu adalah setengah dari iman.” (HR Muslim).

بُنِيَ الدِّيْنُ عَلَى النَّظَافَةِ

Artinya, “ Agama dibangun berasaskan kebersihan.” (HR Muslim).

Penulis teringat dengan suatu kalimat yang terkenal hingga seantero dunia, yaitu, “al-islamu mahjuubun bil muslimiin” yang artinya islam terhalangi dengan orang muslim itu sendiri. Kalimat ini di lontarkan dari bibir seorang syekh Muhammad Abduh bin Hasan Khairullah beliau dilahirkan pada tahun 1849 M di Mahallat al- Nasr di daerah kawasan Sibrakhait Provinsi al-Bukhoiroh Mesir. Beliau adalah seorang teolog muslim, Mufti Mesir, dan tokoh penting dalam teologi dan filsafat yang menghasilkan Islamisme modern. Ayahnya bernama Hasan Khairullah berasal dari Turki dan ibunya bernama Junainah yang berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa yang sama dengan Umar bin Khattab.

Berawal dari syekh tersebut merantau ke negara Prancis tepatnya di kota Paris untuk mendakwahkan islam, Masyarakat Prancis terutama yang ada di Paris begitu penasaran terhadap ajaran Islam, sehingga kedatangan Muhammad Abduh bagaikan cahaya pencerah bagi mereka. Beliau mengajarkan Islam yang menghargai sesama, Islam yang mencintai kebersihan, Islam yang tiada kekerasan, beliau menjelaskan segala keluhuran dan kemuliaan ajaran Islam hingga di tangannya tidak sedikit orang Prancis yang masuk islam, mereka masuk karena melihat keluhuran dan keindahan ajaran Islam.

Lama dakwah di Prancis akhirnya syekh Muhammad abduh pun pergi meninggalkan Prancis untuk kembali mengajar di Al Azhar, Mesir. Masyarakat Prancis yang sekian lama di tinggal oleh sang Syekh pun sangat merasakan rindu yang mendalam terhadap syekh Muhammad bin abduh, rindu ingin bersua dengannya, rindu ingin menimba ilmu kepadanya. Karena sangat teramat rindunya mereka kepada sang syekh, ada diantara mereka yang nekat pergi menjenguk syekhnya yang ada di Mesir, mereka pun pergi melalui perjalanan darat, lalu perjalanan laut, menyeberangi laut Mediterania. Mereka berharap cepat sampai disana, karena memang mereka ingin bertemu sang syekh dan selain itu mereka ingin bertemu saudara seiman mereka yang ada di Mesir, dengan kualitas hidup yang indah, peradaban yang indah dan menjalankan apa yang islam sudah ajarkan.

Mereka membayangkan di sana, di tempat Al Azhar berdiri, di tempat sang syekh lahir dan dibesarkan, pastilah itu adalah sebuah negeri yang sangat indah dan islami, negeri yang menjaga kebersihan melebihi Paris, sebab mereka pasti sangat hafal dengan Hadis “ Ath thahuru syattrul iman” Kebersihan itu separuh dari iman. Pastilah tidak ada orang miskin disana, karena semua orang membayar zakat, mereka terus membayangkan seperti itu karena mengingat penjelasan sang syekh bahwa ajaran islam itu indah.

Sesampainya mereka di pelabuhan Port Said yang ada di Mesir. Alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan yang ada disana, mereka melihat pelabuhan Port Said yang begitu berantakan, orang-orang disana tidak tertib, perkataannya keras dan kasar, ada pengemis dimana-mana serta kebersihan lingkungan yang tidak dijaga.

Mereka melanjutkan perjalanan ke Kairo, mereka kaget dan kecewa, ternyata peradaban islam yang indah, islam yang bersih, seperti yang mereka bayangkan, sejauh ini belum mereka jumpai. Mereka kecewa karena menjumpai seorang laki-laki berjubah yang kencing sambil berdiri menghadap ketembok yang tidak jauh dari masjid Al Azhar “Bukankan buang air kecil itu ada adabnya? Mana adab-adab islami yang indah itu? Apakah orang itu tidak tahu adabnya? Bukankah dia hidup di dekat Al Azhar?”. Mereka bertanya-tanya sambil menggerutu.

Sesampainya mereka dikantor syekh Muhammad Abduh yang berada di Universitas Al Azhar, mereka bertemu dengan syekh Muhammad abduh dan bersalaman dengan beliau, kemudian mereka membicarakan semua hal yang mereka temui mulai dari pelabuhan hingga sampai di masjid Al Azhar. Mereka bercerita dan mengungkapkan kekecewaannya terhadap apa yang mereka temui di sepanjang perjalanan. “kami berharap mendapatkan contoh yang nyata mengenai islam di Mesir ini, tapi kenyataannya jauh seperti yang kami harapkan, kami hampir tidak menemui islam dipraktikan disini. Mana islam yang luhur, mana islam yang indah seperti yang kau ajarkan dulu di Paris, wahai syekh ? Kenapa didekat masjid Al Azhar kami melihat lelaki berjubah yang kencing sambil berdiri menghadap ke tembok? Mengapa Paris yang tidak mengenal ajaran islam justru lebih bersih dan lebih teratur dari pada di kairo? Sesungguhnya apa yang terjadi Syekh?

Syekh pun diam tak berkata-berkata sekejap, bibirnya kelu, kedua matanya berkaca-kaca, sambil menahan isak, lalu dia melontarkan kalimat al-islamu mahjubun bil muslimiin dari bibirnya, yang artinya islam terhalangi oleh orang islam itu sendiri. Kata-kata ini pun kemudian menjadi terkenal di seantero dunia.

Dari cerita ini mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga kebersihan, keindahan dan kesucian, melaksanakan apa yang islam ajarkan kepada penganutnya. Jangan gara-gara kita yang tidak mengamalkan apa yang islam ajarkan, sehingga dapat menutup dan menghalangi kebersihan, keindahan, dan kesucian agama islam itu sendiri , jangan sampai karena kita yang tidak mengamalkan apa yang sudah islam ajarkan membuat orang berpandangan bahwasanya islam itu kotor, kumuh, dan ketinggalan zaman, jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang menjadi penghalang keindahan dan kemuliaan islam. karena pasalnya bahwasanya islam itu mengajarkan kebersihan, keindahan dan kesucian.

Referensi :

1. Abdullah Mahmud Syatahat, Manhaj al-Imam Muhammad Abduh Fi al-Tafsir al- Qur’an, Nasyr al-Rasail, kairo, t.th, hal.3

2. Muhammad Abduh, Risala al-Tauhid (Risalah Tauhid), op. cit., hal. 7

3. Tempuranonline.blogspot.com