Konten dari Pengguna

Hari Ibu: Mengingat Kasih yang Tak Pernah Berhenti

Muhammad Romli

Muhammad Romli

Titisan dewa dari surga yang menjadi seorang Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Romli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Oleh Penulis (Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Oleh Penulis (Dokumen Pribadi)

Hari Ibu bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momen refleksi untuk mengenang jasa seorang ibu yang tak pernah habis oleh waktu. Dalam Islam, kedudukan ibu sangat mulia, bahkan ditempatkan pada posisi yang tinggi dalam ajaran agama. Kasih sayangnya tidak hanya dirasakan sejak kita lahir, tetapi sejak dalam kandungan hingga sepanjang hidup.

Rasulullah ﷺ menegaskan kemuliaan ibu dalam sebuah hadis terkenal. Ketika seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Nabi ﷺ menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu.” Untuk ketiga kalinya Nabi tetap menjawab, “Ibumu,” lalu pada yang keempat barulah beliau menjawab, “Ayahmu.” Hadis ini menunjukkan betapa besar hak dan kedudukan seorang ibu dalam Islam.

Kisah para sahabat juga memperlihatkan bagaimana mereka memuliakan ibu. Salah satu teladan adalah Uwais al-Qarni, seorang tabi’in yang terkenal karena baktinya kepada ibu. Ia merawat ibunya yang sakit dengan penuh kesabaran dan bahkan menunda keinginannya untuk bertemu Rasulullah ﷺ demi tetap mendampingi sang ibu. Keikhlasannya membuat Rasulullah ﷺ memuji Uwais dan menyebutnya sebagai sosok yang doanya mustajab karena baktinya kepada ibu.

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Maknanya bukan sekadar simbolik, tetapi penegasan bahwa jalan menuju ridha Allah salah satunya melalui keridhaan ibu. Setiap pengorbanan ibu mengandung dalam keadaan lemah, melahirkan dengan rasa sakit, dan membesarkan dengan penuh kesabaran adalah amal besar yang tidak dapat dibalas dengan materi apa pun.

Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk lebih berbakti, bukan hanya dengan hadiah atau ucapan, tetapi dengan sikap hormat, doa, dan perhatian sehari-hari. Bagi ibu yang telah wafat, bakti itu tetap bisa dilanjutkan dengan mendoakannya, menjaga nama baiknya, dan melanjutkan kebaikan yang ia ajarkan.

Pada akhirnya, Hari Ibu dalam perspektif Islam bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang kesadaran. Kesadaran bahwa ibu adalah pintu keberkahan, sumber kasih yang tulus, dan jalan menuju surga. Menghormatinya adalah ibadah, mencintainya adalah kewajiban, dan mendoakannya adalah bukti bahwa kasih seorang anak tak pernah putus oleh waktu.