Konten dari Pengguna

Mengapa Humor Seksis di Dunia Kerja Dianggap Biasa? Analisa Perspektif Gender

Muhammad Ronnald Recky Kurniawan

Muhammad Ronnald Recky Kurniawan

Mahasiswa program sarjana Sosiologi FISIP UB

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ronnald Recky Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover by: Asyifa S. Zaenda. Penggunaan poster sudah mendapatkan izin yang bersangkutan, dimana poster tersebut hasil karya sendiri dan belum dipublikasikan di media manapun.
zoom-in-whitePerbesar
Cover by: Asyifa S. Zaenda. Penggunaan poster sudah mendapatkan izin yang bersangkutan, dimana poster tersebut hasil karya sendiri dan belum dipublikasikan di media manapun.

Ketika Tawa Berbalut Narasi Mesum

Dalam memaknai kehidupan, humor dianggap sebagai pencair suasana di tengah riuhnya rutinitas kerja dan hiruk pikuk urusan teknis dan administratif. Humor atau biasa disebut sebagai lelucon ibarat pelumas dalam kehidupan sosial, yang membantu dalam meringankan urusan emosional perorangan atau kemasyarakatan. Humor juga kerap berperan dalam membangun sebuah relasi sosial dimana humor memiliki manfaat sebagai bahan guyonan yang menjalin keterkaitan antar individu sebagai lawan bicara dalam meringankan beban mental dan pikiran. Humor juga berperan dalam membentuk sebuah ikatan yang komprehensif dalam mewujudkan solidaritas antar individu dalam sebuah komunitas ataupun ruang kerja.

Lebih luasnya lagi, humor bisa dimaknai sebagai media komunikasi yang merujuk pada peningkatan kualitas interaksi antar individu dalam masyarakat dalam membangun jaringan sosial. Beberapa studi kasus juga, humor dikaitkan sebagai dasar dalam membangun upaya komunikasi secara efektif yang terhubung pada relasi kelompok sosial yang bersifat institusional maupun non-institusional yang saling menguntungkan. Namun, humor juga memiliki selera yang berbeda antar individu, yang seringkali harus menyesuaikan dengan tema atau topik pembicaraan dalam suasa atau kondisi tertentu. Terlepas dari manfaat maupun tujuan humor, tentu tidak setiap humor memiliki arti positif. Salah satu bentuk humor yang kerap luput dari pandangan masyarakat ialah humor seksisme.

Pada dunia kerja, humor seksis sendiri dipadukan sebagai sebuah “racikan” pada bentuk interaksi pada rekan maupun kolega. Interaksi yang mengandung humor tersebut didesain sedemikian rupa untuk menutupi maksud tertentu yang terselubung. Di balik riang tawa, tentu terdapat senyum yang dipaksa untuk menuruti selera humor sebagian orang. Perundungan sistematis yang diframing sedemikian rupa dalam bentuk guyonan yang bermaksud merundung secara tidak langsung, tentu memperkuat adanya asumsi atas ketimpangan gender di dunia kerja. Humor seksis tidak hanya memberikan kesan lelucon biasa, namun terdapat alat dominasi simbolik dan mekanisme pelanggeng struktur budaya patriarki pada ruang lingkup dunia kerja.

Pada konsep kekerasan simbolik Pierre Bordieu dalam memahami humor seksis, seksisme merupakan internalisasi budaya dan konsep nilai patriarki membentuk suatu nilai yang ditanamkan melalui reproduksi masal kesadaran individu yang menjelaskan bahwa konstruksi sosial utama atas dominasi simbolik yang terjadi sebagai bentuk ketimpangan struktur kuasa atas perempuan dan laki-laki dalam konteks posisi tawar. Posisi tawar tersebut merujuk pada perilaku menjustifikasi respon negatif pada perempuan secara luas. Humor seksis memandang bahwa perempuan layak memperlihatkan respon negatif tersebut sebagai kontribusi terhadap budaya prasangka dan penerimaan tindakan sensual.

Memahami Humor Seksis sebagai Tindak Kekerasan

Humor seksis merujuk pada bentuk tindakan verbal dan non-verbal yang menuju pada tindakan berupa ungkapan yang bertujuan memberi suatu bentuk hinaan kepada suatu individu yang didasarkan oleh jenis kelamin maupun representasi gender (Lola, 2021). Humor seksis dalam dunia organisasi atau dunia kerja kerap digunakan untuk menegaskan status kekuasaan dalam struktur tatanan kepengurusan atau hierarki fungsionaris guna memperkuat posisi superioritas gender bagi laki-laki.

Dalam memahami humor seksisme merupakan bagain dari permasalahan diskriminasi gender yang muncul dari kondisi tertentu termasuk di dunia kerja dan pendidikan. Humor seksis sendiri merupakan paradoks, dimana seksisme berkembang dari budaya androsentrisme yang lahir dari budaya patriarki. Androsentrisme merujuk pada peran laki-laki sebagai pusat dunia, dimana representasi manusia lebih pada peran dan status laki-laki dibanding perempuan (Humaira et al., 2024). Apabila ditinjau melalui mekanisme humor seksis, secara harfiah humor tidak memiliki parameter tertentu dalam membatasi narasi pada hal sensitif. Sehingga humor seksis hadir pada masyarakat sebagai pola struktural yang mendominasi pada kelompok rentan untuk menunjukkan adanya pola kuasa yang kompleks. Hingga pada dasarnya, nilai-nilai pada pranata sosial sendiri yang menjadi parameter dalam menentukan suatu humor bisa dikategorikan sebagai lelucon sensitif.

Tindakan humor seksis tersebut diintegrasikan dalam sebuah narasi candaan melalui suatu bentuk interaksi dalam suatu komunitas atau ruang lingkup tertentu. Meski bertujuan sebagai bentuk candaan, humor seksis cenderung mengekang kebebasan berekspresi diri terutama bagi perempuan dan menciptakan suasana canggung yang berujung pada kondisi tidak nyaman pada subjek guyonan. Karakteristik humor seksis sendiri mengacu pada pembahasan vulgar maupun sensual baik secara verbal maupun non verbal yang merugikan nilai dan pranata sosial yang berlaku di lingkungan tersebut.

Pada humor seksis, terdapat beberapa unsur yang terkandung seperti objektifikasi sosial mengenai peran dan status perempuan, stereotip gender, narasi bersifat penghinaan yang mengandung makna vulgar. Objektifikasi pada perempuan kemudian berkembang menjadi bentuk narasi seksis. Berdasarkan literatur studi, objektifikasi perempuan juga dianalisa melalui tatapan serta narasi yang bersifat seksis yang dituturkan oleh komunikator dengan audiens (Hilmi, 2024). Narasi vulgar maupun objektifikasi pada perempuan merujuk pada pola pikir bernilai negatif yang memberi pandangan terhadap perempuan sebagai individu yang lemah atau inferior yang hanya dipandang sebagai objek sensual dalam memenuhi hasrat keinginan laki-laki.

Humor seksisme itu sendiri tidak hanya terbatas pada aspek dominasi struktur kuasa, humor seksis juga menjadi bagian dari manifestasi upaya bagi suatu pihak dalam menciptakan eksklusifitas atau kesenjangan dalam ruang kerja dan pendidikan. Humor seksis sendiri berakar pada rapuhnya maskulinitas yang menyebabkan perempuan berada pada posisi dikucilkan secara kolektif dalam tatanan nilai masyarakat. Pada beragam studi kasus, fenomena humor seksis menunjukkan adanya pola terhadap respon ancaman maskulinitas oleh eksistensi perempuan, dimana kondisi perilaku, ciri fisik, respon alamiah, emosional perempuan dijadikan sebagai objek pada konotasi sensual yang dibalut dalam sebuah narasi humor pada tujuan mengakrabkan pribadi dengan kelompok maupun individu sebagai subjek sasaran dengan tujuan tertentu.

Lebih jauh lagi, penekanan pada humor seksis memungkinkan adanya konsep yang mengarah pada kekerasan seksual dan perundungan. Melalui studi oleh (Ryan & Kanjorski, 1998 dalam Greenwood & Isbell, 2002), terdapat beberapa bentuk tindakan dan hubungan candaan pada humor seksis yang mengarah pada penerimaan tindakan seksis lainnya. Hal tersebut sebagai pemicu munculnya tindak kekerasan seksual yang merugikan seperti pemerkosaan, perundungan, pembiusan, dan berbagai bentuk pemaksaan pada korban yang bersumber pada penerimaan humor seksis. Pemberian makna atas humor seksis ini berakar pada pernyataan posisi hierarkis pada struktural unit kerja untuk menunjukkan kontrol sosial dan kuasa pada laki-laki sebagai bentuk ekspresi prasangka pada eksistensi perempuan dalam ruang kerja. Perempuan seringkali menjadi objek humor atas prasangka dari kondisi visual dan aspek eksternal seperti budaya patriarki yang menekankan bahwa perempuan sebagai individu lemah dan berkewajiban memenuhi kebutuhan domestik dalam struktur masyarakat.

Perempuan dalam Kerentanan Kekerasan

Perempuan dalam pandangan masyarakat semi tradisional masih dianggap sebagai kelompok marginal dalam tatanan struktur kemasyarakatan. Perempuan juga seringkali menjadi korban atas tindak perilaku kekerasan seksual dan perundungan pada aspek verbal maupun non-verbal. Bentuk kekerasan verbal yang berindikasi pada seksisme sendiri sering dianggap sepele oleh masyarakat karena dinilai sebagai suatu hal yang tabu. Sehingga apabila terdapat guyonan dalam konteks tersebut, maka masyarakat akan menilai sebagai suatu candaan yang tidak terlalu beresiko. Namun, pada faktanya tindakan tersebut justru memberikan perasaan tidak nyaman pada korban yang berujung pada gangguan dari segi kesehatan mental. Seperti halnya atas maraknya fenomena cat calling, cyber sexual harassment, doxing bermuatan seksual, revenge porn merupakan situasi darurat atas tindak kekerasan seksual.

Fenomena maraknya Catcalling di ruang publik ataupun humor seksis pada media digital seperti pada podcast youtube “Bocah-Bocah Kosong” merupakan representasi dari tindak pelecehan seksual aspek verbal yang masih dinormalisasi oleh sebagian pihak. Pelecehan seksual secara verbal yang dibalut dalam narasi humor, masih kurang mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya anggapan sepele yang memposisikan perempuan sebagai sub unit dari masyarakat yang secara tidak langsung dianggap pantas mendapat tindakan amoral. Studi penulis dalam forum diskusi gender yang terdapat di kampus, perwakilan audiensi mengatakan bahwa perempuan seringkali mengalami tekanan mental untuk senantiasa tertawa pada humor seksis demi menghindari stigma “baperan”. “engga punya sense of humor”, dan “tidak bisa diajak becanda”.

Jika berbicara secara normatif, humor seksisme tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apapun, namun realita di lapangan masih banyak masyarakat yang menghiraukan atas fenomena yang mengkhawatirkan itu. Sehingga humor seksis seringkali dituturkan untuk menyudutkan perempuan dalam kondisi tertentu sebagai representasi atas ketimpangan gender dalam tatanan masyarakat. Ketimpangan tersebut muncul karena masih banyaknya masyarakat yang menganut sistem patriarki, yang mana menganggap laki-laki sebagai unit superior dalam masyarakat, dan perempuan sebagai sub-unit karena pandangan subjektif mereka mengenai status dan peran dalam stereotip gender.

Humor seksis merupakan bagian isu yang esensial mengingat kemunculannya memicu kecenderungan pada perilaku kekerasan seksual menjadi masif. Dari penelitian yang dilakukan oleh Romero-Sánchez et al., (2016) mengemukakan bahwa hadirnya humor seksis yang dinormalisasi dalam tatanan interaksi masyarakat dapat memicu keinginan sensual laki-laki untuk melakukan tindak pelecehan, pemerkosaan, hingga pembunuhan. Sehingga, dari munculnya perilaku negatif yang mendapat posisi dalam masyarakat dengan mentolerir tindak humor seksisme, maka ikut mendukung atas tindak pemerkosaan yang terjadi.

Seksisme dalam Perspektif Gender

Stereotip gender merupakan suatu pemberian label terhadap perseorangan yang keluar dari kotak stereotip gender yang dibakukan oleh sosial (Jhaka dan Yuli, 2025). Dalam hal ini, pelabelan merepresentasikan hadirnya pola ketimpangan kuasa, dimana salah satu pihak berupaya membentuk posisi dominan pada kelompoknya dengan menundukkan pihak lain. Munculnya stereotip gender menyebabkan pembatasan perilaku suatu individu karena tindakannya yang dianggap melanggar stereotip yang telah disepakati sosial (Putra, et al, 2020).

Menurut Bell dan Blaure dalam Intan (2020), gender diartikan sebagai suatu harapan yang timbul dari masyarakat tentang pembentukan (konstruksi) maskulin dan feminim untuk laki-laki dan perempuan. Masyarakat dalam institusi sosial berperan dalam membentuk dan membangun perilaku normatif atas kebiasaan, perilaku, ciri fisik, fungsi, dan peran yang dianggap sesuai bagi laki-laki dan perempuan. Kondisi tersebut memunculkan pandangan bahwa gender bukan terjadi secara alamiah, melainkan diciptakan oleh budaya yang secara sistematis membentuk pola pemahaman pada masyarakat.

Dalam memahami stereotip gender yang disematkan pada perilaku humor seksisme, stereotip sendiri merupakan bagian dari budaya. perbentukannya sendiri diturunkan melalui gagasan yang berkembang yang akhirnya dipercaya untuk mewakili suatu status atas fenomena tertentu. Sehingga muncul kepercayaan akan gagasan yang diteruskan ke masyarakat hingga akhirnya membentuk standar baru mengenai penilaian terhadap peran dan status perempuan dan laki-laki menurut warisan budaya yang mereka anut. Sehingga dalam konteks tersebut, stereotip gender menurunkan konteks diskriminasi gender yang merupakan turunan dari stereotip yang berpengaruh pada pembentukan seksisme dalam kehidupan masyarakat yang mewakili adanya hierarki kekuasaan, penggunaan simbol, dan peran tertentu.

Hambatan Sosial yang Perlu Ditinjau Ulang.

Bentuk humor seksisme sendiri di ruang kerja maupun pendidikan merupakan permasalahan esensial bagi kehidupan masyarakat yang seharusnya bisa dicari solusinya secara bersama. Terlepas dari berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam hal kesetaraan gender, masih banyak tantangan yang harus diatasi untuk memastikan kesempatan yang adil bagi semua pekerja (Bishu, 2017). Salah satu bentuk seksisme selain humor yang dialami perempuan dalam dunia kerja ialah ketidaksetaraan dalam bentuk kompensasi dan promosi. Lebih lanjutnya, berdasarkan data yang dihimpun Global Gender Gap Report 2023 dari World Economic Forum, menunjukkan pola yang timpang, dimana data terseut mengemukakan bahwa perempuan secara global hanya memperoleh sekitar 68,6% dari gaji yang diterima laki-laki pada kondisi pekerjaan yang setara. Kondisi tersebut merupakan bentuk nyata atas ketimpangan yang dialami perempuan dalam ruang kerja, terlebih promosi jabatan di suatu instansi akan menilai konteks kualitas kerja dengan mempertimbangkan peran utama laki-laki yang dominan sebagai alasan penaikan promosi jabatan.

Perkara lelucon yang dibuat secara struktural dengan tujuan mengakrabkan diri pada individu atau komunitas tertentu tentu berdampak serius pada kesehatan mental korban. Ditinjau dari penelitian Journal of Applied Psychology (2010), mengemukakan bahwa humor seksis dapat memicu gangguan mental seperti memicu penurunan rasa percaya diri akibat persekusi kondisi fisik & status/peran dalam selera humor, peningkatan kecemasan yang berujung pada stress karena kelelahan emosional, hambatan karir karena perempuan enggan menggali minat dan bakat karena takut dijadikan guyonan, hingga Impostor Syndrome korban merasa tidak pantas berada di posisinya sekarang atau posisi di atasnya.

Namun dari sekian dampak yang ditimbulkan, isu tersebut belum dilaporkan secara resmi karena adanya anggapan “remeh” atas guyonan tersebut dan berlindung di balik tatanan “budaya humor” yang sudah ada. Ketidakhadiran mekanisme pengaduan yang jelas serta pemahaman mendalam mengenai perlindungan kekerasan verbal juga memicu korban untuk memilih diam sebagai upaya strategis mempertahankan posisi. Hambatan sosial yang muncul karena masih melekatnya budaya permisif dalam dunia kerja, mengakibatkan kurangnya kebijakan tegas yang mengacu pada humor yang bersifat pelecehan verbal dan adanya ambiguitas yang membuat sulit untuk ditindak secara resmi.

Penulis: Muhammad Ronnald Recky Kurniawan, mahasiswa sarjana sosiologi FISIP-UB

Daftar Pustaka

Hilmi, A. M. (2024). Tatapan Pria dan Objektifikasi Tubuh Perempuan: Potensi Kekerasan Berbasis Gender Online Pada Akun Instagram@ ugmcantik. Jurnal Wanita dan Keluarga, 5(2), 155-174.

Humaira¹, B. S., Riyayanatasya, Y. W., & Sutarini, I. A. REPRESENTASI SEKSISME PEREMPUAN PADA DUNIA KERJA DALAM FILM “HIDDEN FIGURES”(ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE).

Intan, T. (2020). Stereotip Gender Dalam Novel Malik & Elsa Karya Boy Candra. Jurnal Bindo Sastra, 4(2), 85-9

Kinady, S. U. P. (2025). Pengalaman Perempuan dalam menghadapi Bercandaan Sensitif di Tempat Kerja (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Putra, A., Junaidi, F., & Fitri, Y. (2020). Kajian gender: sterotipe pada anak dalam keluarga. Jurnal Obor Penmas: Pendidikan Luar Sekolah, 3(2), 251-262.

Sumadi, S. (2017). Islam Dan Seksualitas: Bias Gender Dalam Humor Pesantren. El Harakah, 19(1), 21.

Reformis, E. M., & Shalihah, U. M. K. M. A. Wacana Feminis.

Sitompul, Lola. U. (2021). Sexist Hate Speech Terhadap Perempuan Di Media: Perwujudan Patriarki Di Ruang Publik. Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha, 3(3), 152-161