Sleep Tracker Bilang Tidur Kita Bagus, Memangnya Bisa Dipercaya?
Tulisan dari dr Muhammmad Ryan Adi Putra SpP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangun tidur, salah satu hal pertama yang dilakukan sebagian orang sekarang bukan lagi melihat jam.
Yang dilihat justru sleep score.
“Tidur 7 jam 42 menit.”
“Deep sleep 58 menit.”
“REM 1 jam 35 menit.”
“Sleep score: 86.”
Angkanya terlihat sangat akurat. Bahkan kadang membuat kita merasa lebih tahu tentang tidur setelah melihat jam tangan. Tapi sebenarnya, seberapa jauh angka tersebut bisa dipercaya?
Jawaban singkatnya: cukup berguna, tetapi tidak untuk semua hal.
Sleep tracker relatif berguna untuk melihat kebiasaan tidur dari waktu ke waktu, seperti kapan kita biasanya tidur, kapan terbangun, apakah durasi tidur berubah, dan seberapa konsisten jadwal tidur kita.
Tapi kalau pertanyaannya adalah, “Apakah semalam saya benar-benar mendapat deep sleep selama 53 menit?”, jawabannya kita harus lebih berhati-hati menilainya.
Sleep tracker dan pemeriksaan tidur sebenarnya melihat hal yang berbeda
Pemeriksaan tidur yang menjadi standar klinis adalah polysomnography atau PSG.
Dalam PSG, tidur tidak hanya dinilai dari apakah tubuh bergerak atau tidak. Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik otak melalui EEG, gerakan mata, aktivitas otot, aliran udara, usaha napas, saturasi oksigen, denyut jantung, hingga beberapa parameter lain sesuai kebutuhan.
Dari sinilah dokter dapat menentukan apakah seseorang sedang terjaga, berada dalam tidur light sleep, deep sleep atau REM sleep
Sebagian besar smartwatch dan smart ring tentu tidak memeriksa kelistrikan di kepala kita.
Perangkat konsumen biasanya membaca gerakan menggunakan accelerometer dan sinyal denyut nadi menggunakan photoplethysmography atau PPG. Beberapa perangkat juga mengukur temperatur kulit atau saturasi oksigen.
Dari kumpulan sinyal tersebut, algoritme kemudian memperkirakan kapan kita tertidur dan berada pada tahap tidur tertentu. Jadi label “deep sleep” atau “REM” pada aplikasi sebenarnya merupakan hasil estimasi algoritme, bukan pengukuran langsung aktivitas listrik otak.
Jadi apakah datanya tidak berguna?
Salah satu penelitian terbaru membandingkan enam perangkat wearable dengan PSG. Kemampuan perangkat mengenali seseorang sedang tidur cukup tinggi, dengan sensitivitas sekitar 92–96 persen.
Masalahnya muncul saat seseorang sudah terbangun namun masih diam di kasur. Kemampuan beberapa perangkat mengenali kondisi terjaga jauh lebih rendah, dengan spesifisitas hanya sekitar 29–52 persen. Artinya, seseorang yang sudah terbangun tetapi masih berbaring di kasur dapat dianggap masih tidur oleh tracker.
Ini juga menjelaskan kenapa angka “akurasi 90 persen” perlu dibaca hati-hati.
Kalau sebagian besar malam memang dihabiskan untuk tidur, perangkat yang sangat baik mengenali “tidur” bisa menghasilkan angka akurasi keseluruhan tinggi walaupun masih sering salah mengenali kondisi terjaga.
Waktu tidur lebih berguna daripada mengejar angka deep sleep
Kalau setiap hari perangkat menunjukkan bahwa kita biasanya tidur pukul 01.30 dan bangun pukul 06.00, data tersebut cukup berguna.
Kalau dalam dua minggu terlihat waktu tidur mulai lebih konsisten atau total durasi tidur perlahan bertambah, itu juga informasi yang dapat dipakai.
Yang perlu lebih hati-hati justru angka yang sangat spesifik seperti:
“Deep sleep saya cuma 42 menit.”
“REM saya turun 20 menit.”
“Sleep score saya semalam hanya 71.”
Fase tidur adalah salah satu bagian yang lebih sulit diperkirakan oleh perangkat ini. Deteksi light sleep, deep sleep dan REM sulit dinilai dengan alat sleep tracker. Bahkan hasil antara penelitian dapat berbeda tergantung perangkat, populasi yang diuji, versi algoritme, dan metode analisisnya. Pembaruan algoritme juga dapat mengubah hasil meskipun perangkat kerasnya tetap sama.
Jadi tidak perlu panik hanya karena satu malam aplikasi mengatakan deep sleep berkurang.
Lihat trennya, bukan satu angka.
Bagaimana dengan fitur sleep apnea?
Ini sedikit berbeda dan memang menarik.
Beberapa perangkat sekarang memiliki fitur yang dirancang untuk memberi notifikasi mengenai kemungkinan gangguan napas saat tidur. Fitur tertentu pada Apple Watch dan Samsung Galaxy Watch telah melalui proses regulator untuk tujuan skrining risiko tertentu.
Notifikasi dari fitur ini dapat menjadi alasan untuk memeriksakan diri. Sebaliknya, tidak mendapatkan notifikasi tidak berarti seseorang pasti bebas obstructive sleep apnea atau OSA. Dalam data regulator Apple, misalnya, fitur tersebut memang dirancang memiliki spesifisitas tinggi, tetapi sensitivitasnya tidak cukup untuk digunakan sebagai tes rule-out.
Kalau seseorang mendengkur keras, sering berhenti bernapas saat tidur menurut pasangan, terbangun tersedak, mengantuk berat pada siang hari, atau mempunyai faktor risiko OSA, pemeriksaan tetap perlu dipertimbangkan meskipun smartwatch tidak pernah memberikan peringatan.
Pedoman AASM tetap menempatkan PSG atau home sleep apnea testing yang sesuai sebagai pemeriksaan untuk diagnosis OSA.
Jadi cara memakai sleep tracker yang lebih masuk akal bagaimana?
Daripada memeriksa satu malam, gunakan perangkat yang sama selama beberapa minggu.
Perhatikan terutama tiga hal:
jam tidur dan jam bangun
perkiraan total durasi tidur
keteraturan jadwal
Kemudian bandingkan dengan apa yang dirasakan saat bangun dan saat beraktivitas pada siang hari.
Kalau tracker mengatakan tidur “bagus” tetapi pada siang hari tetap mengantuk berat, jangan langsung percaya angka di layar.
Sebaliknya, kalau sleep score turun sedikit tetapi ketika bangun merasa segar dan dapat beraktivitas dengna normal, penurunan ini belum tentu menyebabkan masalah.
Bahkan terlalu sering mengejar skor tidur juga dapat menjadi masalah tersendiri. Pada sebagian orang, keinginan mendapatkan angka tidur “sempurna” justru meningkatkan kecemasan mengenai tidur.
Sleep tracker bukan mini sleep lab
Jadi, apakah sleep tracker bisa dipercaya?
Bisa, selama kita tahu bagian mana yang dapat kita percaya.
Sleep tracker unggul untuk melihat melihat pola tidur kita: kapan tidur, kapan bangun, apakah durasi berubah, dan apakah jadwal mulai lebih konsisten.
Anggap angka deep sleep, REM, waktu terjaga, dan sleep score sebagai estimasi, bukan hasil pemeriksaan medis yang dapat kita percayai sepenuhnya.
Kalau ada keluhan seperti mengantuk berlebihan, mendengkur keras, henti napas saat tidur, insomnia menetap, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu, yang perlu dievaluasi bukan hanya grafik di jam tangan.
Kadang datanya memang berguna. Tapi tubuh dan keluhan pasien tetap lebih penting daripada satu angka di layar.

