Konten dari Pengguna

Inovasi Guru untuk Menyatukan yang Dipisah Regulasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD SARJAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini ada tiga keputusan resmi berbeda yang mengatur Capaian Pembelajaran (CP): Kepka BSKAP Kemendikdasmen Nomor 046/H/KR/2025 untuk mata pelajaran umum, Keputusan Kepala BKPDM Kemendikdasmen Nomor 020 Tahun 2026 untuk mata pelajaran agama, dan Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 9941 Tahun 2025 untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di madrasah. Tiga surat keputusan, dua kementerian, disusun oleh unit yang berbeda, dengan format dokumen yang juga tidak seragam. Ini bukan kesalahan siapa pun, murni konsekuensi dari jalur birokrasi yang memang berjalan sendiri-sendiri, masing-masing dengan proses penyusunan, jadwal revisi, dan kanal distribusi sendiri.

Tapi bagi guru di lapangan-utamanya guru madrasah-tiga jalur regulasi ini berarti satu hal yang sangat konkret: tidak ada satu titik akses resmi tempat semua CP, dari semua fase dan semua mata pelajaran, bisa ditemukan dan dipakai dengan cepat. Guru harus tahu sendiri dokumen mana yang berlaku untuk konteksnya, mencarinya sendiri di antara ribuan halaman, dan menyalinnya secara manual setiap kali menyusun modul ajar/RPP. Ini bukan soal guru yang kurang cekatan dalam mengoprasikan teknologi. Ini kesenjangan struktural yang dampaknya jatuh ke pekerjaan administratif guru sehari-hari, berulang setiap kali menyusun perangkat mengajar yang tentunya melelahkan.

Saya dan rekan guru di madrasah saya mengalami sendiri kesenjangan ini, dan pengalaman itu yang akhirnya membuat saya membangun Cepein, website sederhana berisi seluruh CP yang bisa difilter dan disalin dalam hitungan detik.

Ketika Kesenjangan Itu Terbukti Bukan Cuma Dialami Sendiri

Awalnya saya hanya ingin menyelesaikan masalah saya sendiri. Saya kumpulkan dan susun ulang dokumen CP dari sumber-sumber resmi itu, ekstrak teks CP-nya satu persatu secara verbatim, satukan menjadi berkas lengkap mencakup semua mata pelajaran dan semua fase, lalu saya bagikan gratis lewat akun Instagram saya untuk sesama guru dan pendidik, unggahan itu mendapatkan perhatian hingga tembus puluhan ribu views. Kolom komentarnya jadi semacam konfirmasi lapangan atas dugaan saya: ribuan guru dari berbagai daerah juga mengalami masalah persis yang sama.

Tapi dari komentar itu juga saya belajar sesuatu yang penting, berkas yang lebih rapi ternyata belum menyelesaikan akar masalahnya. Dokumen PDF, sepadat apa pun disusun ulang, tetap harus di-scroll, tetap dicari manual satu per satu. Yang sebenarnya dibutuhkan guru bukan dokumen yang lebih baik, tapi cara mengakses yang sama sekali berbeda: bisa difilter, bisa langsung disalin, tanpa harus membongkar file panjang setiap kali butuh satu potongan teks saja, dan yang paling penting, bisa di akses kapan saja.

Dari situ saya putuskan bentuknya harus aplikasi berbasis website, bukan lagi berkas.

Membangun Sendiri Apa yang Seharusnya Sudah Tersedia

Saya bukan lulusan ilmu komputer, latar belakang saya murni guru kelas, lulusan S1 PGMI UIN Alauddin Makassar. Tapi saya coba jalan, dibantu AI untuk mengekstrak teksnya secara verbatim dan menulis kodenya. Kesulitan paling nyata justru datang dari sifat masalahnya sendiri, yaitu menyatukan tiga sumber dokumen resmi yang berbeda format dan totalnya ribuan halaman ke dalam satu sistem yang bisa difilter. Saya berkali-kali kena limit penggunaan AI yang saya pakai untuk membaca dan mengolah dokumen sebanyak itu, sehingga prosesnya harus dicicil bertahap, tidak bisa sekali jalan. Saya juga harus utak-atik tampilan dan struktur webnya, coba-coba sampai terasa pas dipakai, semuanya dikerjakan di sela kesibukan mengajar dan keluarga.

Logo Cepein. Foto: Dok. Pribadi

Aplikasi itu saya beri nama Cepein, singkat dari "CP" yang bisa langsung "dipakai". Guru tinggal memilih kelas, fase, dan mata pelajaran, teks CP yang relevan langsung muncul lengkap dengan tombol salin. Yang membedakan Cepein dari sekadar kumpulan file adalah cakupannya: ketiga CP resmi yang saya sebutkan di atas saya akomodir sekaligus dalam satu tempat, termasuk CP Fase Fondasi dan CP SLB yang justru sering paling sulit ditemukan gurunya sendiri. Sejauh yang saya tahu, ini menjadikan Cepein portal CP paling lengkap yang tersedia gratis untuk guru, karena tidak perlu lagi berpindah-pindah sumber untuk konteks yang berbeda-beda.

Tampilan antar muka Cepein. Foto: Dok. Pribadi

Sama seperti berkas sebelumnya, Cepein saya buka agar bisa di akses secara gratis, karena tujuannya memang menutup kesenjangan yang saya alami sendiri, bukan mencari untung dari kesulitan sesama guru. Sejumlah unggahan yang saya buat untuk memperkenalkannya hingga saat ini berhasil menjangkau guru di seluruh wilayah Indonesia hingga tembus puluhan ribu views, dan angkanya terus bertambah. Isi komentarnya kebanyakan ucapan terima kasih, beberapa secara spesifik bilang aplikasinya sangat membantu pekerjaan mereka sehari-hari. Bagi saya, ini konfirmasi kedua bahwa yang saya tutup memang kesenjangan nyata, bukan sekadar keluhan pribadi yang saya besar-besarkan.

Kenapa Ini Bukan Cuma Soal Satu Aplikasi

Ada dua hal yang menurut saya layak jadi bahan renungan bersama dari pengalaman ini.

Pertama, selama jalur regulasi CP berjalan terpisah, kesenjangan akses seperti yang saya alami kemungkinan besar akan terus muncul di titik-titik lain, bukan hanya soal CP. Unifikasi akses semacam ini idealnya memang tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar satu guru yang kebetulan bisa ngoding sedikit, karena menyangkut lebih dari satu lembaga sekaligus, bukan sesuatu yang bisa diselesaikan tuntas dari satu sisi saja.

Kedua, sambil menunggu itu, guru hari ini sebenarnya punya opsi yang dulu tidak ada: alat untuk membangun solusinya sendiri jauh lebih terjangkau dibanding lima atau sepuluh tahun lalu. Saya bukan orang dengan keahlian teknis istimewa, dan proses membangun Cepein pun jauh dari mulus, penuh coba-coba dan berkali-kali mentok karena keterbatasan alat yang saya pakai. Tapi kesenjangan yang saya alami cukup nyata untuk dijadikan alasan mencoba menutupnya sendiri, alih-alih menunggu.

Cepein masih terus saya kembangkan, dan saya tidak berpretensi ia menyelesaikan seluruh persoalan administrasi guru di Indonesia. Tapi ia membuktikan satu hal: kesenjangan struktural sekecil apa pun titiknya, kalau dibiarkan, akan terus dibayar oleh waktu dan energi guru di lapangan. Dan selama menunggu perbaikan yang lebih besar, guru tidak harus diam saja menghadapinya.