Demam Berdarah: Mustahil Untuk Ditaklukkan?

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Shiddiq Raihan Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Demam berdarah (DBD) penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Penyakit ini muncul melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus, yang terinfeksi virus dengue. Dengue, atau masyarakat menyebutnya sebagai demam berdarah, merupakan penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui nyamuk. Insiden dengue meningkat secara signifikan di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir (WHO, 2021). Di Indonesia, demam berdarah menjadi masalah kesehatan yang sering terjadi, terutama pada musim hujan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mewaspadai virus dengue ini dengan mengetahui gejala, penyebab, dan langkah-langkah pencegahan penyakit ini.

Gejala Demam Berdarah
Gejala demam biasanya muncul dalam perkiraan 4-10 hari setelah seseorang terinfeksi nyamuk. Gejala yang sering muncul antara lain:
Demam tinggi – Demam yang tinggi (lebih dari 39°C) yang berlangsung selama 2-7 hari.
Penyerian di tubuh – Nyeri yang dapat dirasakan pada bagian tubuh tertentu, terutama pada sendi dan otot.
Mual dan muntah – Kemungkinan dapat dehidrasi, yang berbahaya bagi tubuh.
Ruam kulit – Ruam muncul pada beberapa hari setelah demam tinggi.
Sakit kepala – Sakit kepala hebat yang sulit diatasi dengan obat penghilang rasa sakit.
Penurunan jumlah trombosit dalam darah – Turunnya jumlah trombosit darah, dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Pendarahan ringan – Gusi berdarah dan mimisan.
Pengobatan Demam Berdarah
Untuk saat ini pemerintah belum menggulirkan obat vaksin dengue secara nasional. Namun ada cara pengobatan untuk demam berdarah yang berdampak untuk meredakan gejala dan menjaga cairan tubuh agar tidak terkena gejala dehidrasi. Adapun beberapa langkah pengobatannya yaitu:
Pemberian infus untuk mencegah dehidrasi.
Parasetamol untuk menurunkan panas tubuh.
Memeriksa trombosit dan hematokrit untuk waspada pendarahan berat dan syok.
Transfusi darah jika pasien mengalami anemia (kekurangan darah).
Pencegahan Demam Berdarah
1. Menerapkan 3M Plus
Menguras tempat penampungan air (bak mandi, ember, atau genangan air. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan sarang berkemban biaknya nyamuk.
Menutup wadah penampungan air agar tidak ada terjadinya genangan air dan membuat tempat menjadi nyamuk berkembang biak.
Mendaur ulang, memanfaatkan kembali barang-barang yang bisa ramah lingkungan untuk digunakan. Hal ini berguna untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk.
2. Menggunakan Obat Nyamuk – Penggunaan lotion anti-nyamuk atau semprotan pengusir nyamuk dapat membantu menghindari gigitan nyamuk, terutama pada malam hari.
3. Edukasi Mengenai Dengue dan Fogging – Pemerintah dan masyarakat dapat melakukan penyuluhan mengenai pencegahan demam berdarah, serta mengadakan fogging diwilayah pemukiman warga setempat.
4. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin D. (salmon, sarden dan tuna, kuning telur, daging merah, buah-buahan apel, alpukat dan pisang, serta sayuran)
Rutin aktivitas berolahraga min. 40 menit per hari.
Istirahat dan jam tidur teratur.
5. Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan – Kebiasaan menjaga kebersihan diri dan sekitar dapat mengurangi risiko terpapar dan terinfeksi nyamuk penyebab DBD.
Meskipun demam berdarah dapat dicegah, tetapi susah untuk disembuhkan, terutama jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Demam berdarah telah mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan menjadi salah satu penyakit menular yang sering menyebabkan angka kematian di daerah tropis.
Dengan upaya bersama dalam pencegahan, pengobatan, dan inovasi, dampak dari penyakit ini dapat diminimalkan. Ketika masyarakat lebih terinformasi dan bertindak proaktif, mencapai tujuan untuk menciptakan dunia yang bebas dari demam berdarah akan berpotensi untuk diwujudkan.
